Kalau suatu saat aku putuskan untuk berangkat,
mendaki puncak gunung tinggi,
menembus belantara hutan lebat,
atau menelusuri pantai sepi
maka, aku hanya sedang mencoba menemukan sesuatu
yang mampu menghadirkan ingatan kepadamu
dan bisa kujadikan alasan
rindu.
Wednesday, October 21, 2015
Laut
mengalunkan ombak di pantai. sederhana,
seperti udara yang kuhirup.
tapi laut memang selalu setia.
ia terima semua
keluh kesah sungai
dan dititipkan kemudian
pada awan.
maka ombakmu ini hanya sesaat
meski selalu kembali
menghapus jarak
itu dirimu
mencampakkan ombak di pantai. sederhana,
rindu yang tak mau redup.
Monday, September 01, 2014
Sore ini (Pertemuan - 6)
Bukankah awan itu juga yg jadi rahim hujan, dan memekarkan harapan di tengah musim yg tak lagi bisa kita baca jejak maupun arahnya. Tapi setiap sore memang punya cerita sendiri, seperti ombak bertemu pantai, atau hutan kehilangan hijau, atau foto bertemu bingkai, atau aku kehilangan engkau.
Sore memang tak pernah berakhir sebagai cerita, tanpamu. Tapi percayalah, akan selalu ada cerita yang tak pernah berakhir keindahannya, ketika kita sekali lagi tak jadi bertemu.
Friday, May 02, 2014
Friday, November 25, 2011
Fotokopian Sang Guru
Tak ada syarat khusus, setiap siswa bebas memilih tema. Bentuk tulisan pun bebas, boleh berbentuk prosa maupun puisi. Waktu yang diberikan relatif lama, dua jam pelajaran (satu jam pelajaran 45 menit). Setelah siswa memahami tugas yang diberikan, Sang Guru meninggalkan kelas dan kembali ke ruang guru. Suasana kelaspun berubah menjadi riuh, mirip suasana ketika jam kosong (kondisi ketika guru tak hadir pelajaran di kelas). Ada siswa yang sibuk meminjam alat tulis, atau melanjutkan obrolan yang sempat terputus karena kehadiran guru. Ada siswa yang beranjak dari kursinya dan berkeliaran dengan tujuan tak jelas di dalam kelas. Tapi kebanyakan siswa sibuk bicara dengan teman di dekatnya tentang tugas tersebut. Saling bertanya tentang apa yang hendak di tulis. Sebagian kecil saja yang sudah mulai menulis, sebagian besar masih sibuk berdiskusi saol tulisan yang hendak dibuat. Diskusi yang seringkali melebar hingga lupa pada tugas yang harus dikerjakan.
Dua jam pelajaran berlalu hampir tak terasa ketika Sang Guru kembali memasuki kelas dan meminta semua siswa mengumpulkan hasil tulisan mereka. Tanpa memeriksa, Sang Guru membawa pergi tumpukan tulisan hasil karya murid-muridnya tadi.
Satu pekan berlalu, ketika Sang Guru kembali masuk kelas yang sama. Kali ini biasa saja, tak ada yang istimewa. Ia memberikan materi pelajaran sesuai acuan kurikulum. Ia tidak menyinggung soal tugas pekan sebelumnya. Biasa saja. Padahal sebagian murid sudah berharap bahwa Sang Guru akan membahas tugas pekan lalu, sambil berharap cemas pada nilai yang akan diperolehnya. Sebagian murid pun suyang lain mungkin sudah melupakannya, dan berpikiran bahwa tugas menulis itu hanya akan menambah nilai untuk mata pelajaran bahasa indonesia saja.
Pekan kedua setelah tugas menulis diberikan, Sang Guru Bahasa Indonesia masuk kelas dengan membawa satu ikat tumpukan buku. Buku itu tak terlalu tebal, dan hanya berupa fotokopian kertas ukuran A-4 yang dilipat menjadi buku ukuran A-5. Empatpuluh eksemplar buku sderhana yang kemudian diberikan ke semua siswa di kelas.
Ternyata buku tersebut berisi seluruh tulisan hasil karya siswa-siswa yang ditugaskan menulis dua pekan sebelumnya. Ya, seluruh tulisan, tak terkecuali. Semua diketik rapi. Ada cerpen, opini, puisi, maupun sekedar sebaris kalimat berisi curahan hati seorang siswa yang menyukai siswi di kelas sebelah.
"Saya tidak akan memberikan nilai secara langsung untuk tugas menulis ini. Tapi saya telah menyalin seluruh tulisan ke dalam buku ini. Silakan kalian baca, dan nilai sendiri hasil tulisan kalian." Kelas menjadi riuh. Sebagian tertawa, sebagian tersenyum penuh pengertian membaca tulisan karya kawannya yang berisi curahan hatinya. Sebagian lagi menjadi malu karena tulisannya dibaca oleh lainnya dan menganggap tulisannya tak layak dibaca orang lain. Ada pula yang saling bercanda dan mengejek karya yang lain, saling menertawakan satu sama lain. Tentu ada pula tulisan-tulisan yan mengundang decak kagum dari siswa yang lain.
"Beneran ini tulisan, loe? Ga nyangka loe berbakat nulis. Atau jangan-jangan loe nyontek dari koran?"
Tugas yang tak biasa tadi ternyata mendapat respon yang luar biasa ketika hasilnya disampaikan kepada para siswa.
Ketika semester berlalu dan pelajaran dimulai dengan semester baru, pada suatu kesempatan Sang Guru kembali memberi tugas yang sama, yaitu tugas menulis. Namun reaksi berbeda muncul kali ini, ketika Sang Guruberanjak dari kelas. Suasana tak lagi terlalu riuh. Semua tampak serius menghadapi kertas, sibuk menulis. Hanya ada sedikit saja siswa yang bercakap-cakap satu sama lainnya. Tak ada canda tawa berlebihan, tak ada yang main-main. Tak ada siswa yang ingin tulisannya menjadi bahan ejekan seperti di tugas sebelumnya.
Aneh juga ternyata, kalau mengetahui tulisannya akan dibaca orang lain, seseorang bisa menjadi penulis yang serius. Dalam artian tidak menulis sekedarnya saja, tidak main-main lagi dengan aktiifitas menulis dengan membuat karya tulis yang asal jadi. Apa yang dilakukan Sang Guru sangat sederhana. Ia hanya mengetik ulang semua tulisan karya murid-muridnya (saat itu masih menggunakan mesin tik manual), lalu diperbanyak dan dijilid menjadi fotokopian buku yang sederhana dan dikembalikan lagi kepada murid-muridnya. Tapi fotokopian Sang Guru yang bentuknya sangat bersahaja itu ternyata memberi dampak luar biasa. Ia telah membangkitkan dan menumbuhkan minat dan budaya menulis kepada murid-muridnya. Bahkan ada beberapa muridnya yang kini menjadi penulis. Baik yang menjadikan menulis sebagai profesinya, maupun sebagai penulis lepas waktu. Ada yang menjadi penulis buku-buku serius semacam buku acuan, penulis fiksi, penulis warta, hingga penulis skenario film yang cukup terkenal.
#Terima kasih kepada semua guru yang selalu menjadi motivator, inspirasi, dan sosok terbaik untuk di-gugu dan ditiru. Terima kasih juga untuk Guru Bahasa Indonesia saya, yang telah memotivasi saya untuk menuliskan apa saja dan di mana saja, tanpa perlu merasa malu dan takut menghadapi kritikan.
Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2011
Wednesday, May 11, 2011
Astacala

Maka mimpipun tak begitu saja mencuat tinggi ke angkasa. Barangkali memang ada mimpi yang melambung tinggi, tapi tak terungkap saat itu. Bukankah berkumpul bersama orang-orang sehobi di tengah suasana kampus yang gersang, kemudian berkenalan, membentuk kepengurusan organisasi dari orang-orang yang baru dikenal beberapa jam saja, merundingkan nama, logo, AD/ART, dan lain sebagainya, itu sudah seperti mimpi yang terwujud? Kalaupun harus menyebut mimpi, kita ingin Astacala tumbuh besar, lebih besar dari organisasi maupun perkumpulan pecinta alam yang namanya sudah lama terdengar.
Wednesday, February 09, 2011
Tuesday, May 26, 2009
Kebun (1)
Yah, selamat membaca, semoga bisa menikmatih....
Kami punya kebun. Tidak luas. Berukuran sekitar 800 meter persegi. Letaknya di belakang rumah kami. Ada jalan setapak kecil yang membelah kebun persis di tengah. Ujung satunya berada persis di muka pintu belakang rumah. Ujung lainnya menuju keramaian pasar.
Saat kami baru pindah ke sana, ke rumah kami itu, jalan tersebut masih jarang dilalui. Kebunnya juga masih penuh dengan ilalang, semak-semak, dan rumput liar. Ada juga jenis tanaman bunga. Tapi itu bukan dari jenis yang biasa dikomersilkan. Hanya sejenis semak dengan bunga berwarna kuning berbentuk seperti lonceng kecil. Tak ada orang yang akan sengaja menanam bunga itu, sebab ia bisa sangat liar pertumbuhannya. Sekali tumbuh, tahu-tahu seluruh halaman bisa dipenuhi semak bunga itu. Walupun cantik, tak ada yang mau merawat bunga liar. "Tantangannya terlalu besar. Cantik memang, tapi liar."
Kemudian ada yang berinisiatif untuk membersihkan lahan tersebut. Awalnya hanya di sekitar pintu belakang rumah. Tak nyaman rasanya saat membuka pintu belakang, lalu pemandangan pertama yang terlihat adalah rumput dan ilalang liar. Kami bekerja sendiri (yang sebenarnya ada beberapa orang juga). Tak ada yang mau membantu. Tentu saja, tak ada yang tertarik untuk membabat ilalang, membersihkan rumput liar, atau berupaya mengendalikan semak bunga kuning berbentuk lonceng yang cantik tapi liar tadi. Apalagi ini sejenis kerja suka rela.
Tapi itu awalnya saja. Lama kelamaan, ada juga yang tertarik. Ikut membabat rumput liar, ilalang tinggi, dan mengatur semak-semak agar tumbuh menjadi pagar. Tidak itu saja, kegiatan bertambah dengan aktifitas menanam. Pengikutpun bertambah, karena pada dasarnya, kami sekeluarga memang senang dengan kegiatan menanam.
Maka jadilah sebuah rutinitas baru. Setiap sore, setelah melakukan aktifitas rutin harian, kami membabat ilalang dan rumput liar. Kalau biasanya hanya memegang pinsil, pulpen, buku, atau mouse komputer, maka di sore hari semua itu berganti menjadi cangkul, parang, sabit, serta ember dan selang air. Kalau di pagi dan siang hari menggunakan kemeja rapi dan bersih, maka di sore hari berganti menjadi kaos oblong yang menyerap keringat dengan celana lusuh yang penuh jejak-jejak lumpur kering.
Tantangan terberat selain membersihkan ilalang liar, adalah membersihkan lahan calon kebun dari batu-batu. Tipikal tanahnya yang keras sangat menguras tenaga saat menggali lubang di sana. Terlebih bagi yang tidak terbiasa pegang cangkul atau kerja berat. Padahal saat itu musim kemarau. Tak heran jika pada awalnya, banyak tangan yang lecet dan kulit yang menjadi gelap, seperti warna tangan dan kaki petani layaknya.
Setiap kali ingin menanam sebuah pohon, kami semua diwajibkan menggali lubang berukuran 1 x 1 x 1 meter kubik. Hal ini terpaksa dilakukan mengingat tanahnya sama sekali bukan tanah gembur melainkan tanah yang berbatu dan berpasir. Kalau ditanam tanpa menyiapkan ruang luas berisi tanah gembur, bisa dipastikan tanaman itu akan layu. Setelah lubang dibuat, barulah bibit yang sudah disiapkan dimasukkan dan ditimbun dengan tanah gembur yang dicari dari pinggir kali atau lokasi subur lainnya. Sehabis ditanam, bibit tadi harus selalu diperhatikan. Air menjadi syarat mutlak untuk urusan tersebut.
Sebagai langkah awal dan untuk tetap menjaga semangat, dipilihlah jenis tanaman buah-buahan. Bibitnya didapat dari mana saja: memungut di pinggir jalan, meminta, atau bahkan membeli. Diharapkan dengan menanam pohon buah-buahan, "pekerja-pekerja dadakan" ini mendapat tambahan energi saat menanam karena janji akan buah-buahan yang kelak bisa dipetik. Bukankah menyenangkan jika memetik jambu air dari pohon yang kita tanam sendiri? Tapi kenapa harus jambu??? Tenang, bukan cuma jambu kok, yang kami tanam. Ada pohon nangka, jeruk, sukun, klengkeng, alpukat, belimbing, dan berbagai pohon lainnya. Oh ya, kami juga menanam semak bougenville di kedua sisi jalan setapak di tengah kebun. Jalan itu sendiri diperlebar menjadi sekitar satu setengah meter. Kami berharap bahwa kelak bougenville-bougenville dari kedua sisi jalan ini akan tumbuh membesar dan membentuk kanopi hingga jalan setapak tadi menjadi semacam koridor alami. Tentu saja ada kerangka bambu untuk sekedar mengarahkan semak berduri yang bunganya berwarna-warni cerah ini, agar tak salah arah dalam pertumbuhannya.
Satu bulan pekerjaan berlalu. Kebun masih terlihat gersang. Tapi setidaknya sudah ada perubahan. Tak ada lagi ilalang dan rumput liar. Pokok-pokok baru memenuhi sudut lahan. Tak ada kekacauan pemandangan karena semak bunga kuning berbentuk lonceng yang cantik tapi liar. Mereka kini terkelompok di salah satu sudut kebun. Malah bisa berfungsi sebagai pagar. Padahal semula semak bunga ini ingin dibabat habis saja oleh beberapa oknum, tapi karena diprotes sambil ngotot dan pegang golok, mereka mengurungkan niat untuk menghabisi semak bunga liar tadi.
*************
Seperti juga manusia, tumbuhan juga membutuhkan makanan dan minuman. Kalau soal air, tidak menjadi masalah sebab cukup melimpah. Apalagi kami juga membuat sebuah kolam ikan dengan ukuran cukup besar berukuran 1,5 x 3 meter persegi dengan kedalaman sekitar satu meter. Ada teratai merah ungu kami letakkan di kolam tersebut yang sering kali terganggu karena kami memang suka iseng dengan menceburkan siapa saja yang berdiri dekat kolam. Saat ada yang berulang tahun, kami juga akan menceburkannya ke dalam kolam. Bahkan terkadang langsung diangkat saat masih terlelap di dalam kantung tidur, beserta kantung tidurnya sekalian. (waktu itu belom musim hp, jagi nggak ada kekhawatiran hp butuh hair dryer gara-gara nyemplung)
Jadi untuk menyiram, kami sudah punya cadangan air di kolam kalau sewaktu-waktu kemarau membuat sumber-sumber air tanah berkurang debitnya. (ssttt...rahasia: gue juga pernah pipis di sana. hehehe... habisnya udah kebelet dan kamar mandinya lagi diisi orang lain. sepertinya bukan gue saja yang pernah melakukannya. makanya setiap ada yang nyemplung, kami tertawa sedemikian ikhlasnya. tapi kalau kecemplung, pasti akan berupaya sekuatnya agar orang lain ikutan nyemplung).
Itu soal minuman untuk tanaman. Kalau soal makanannya lain lagi. Memang tanah di tempat tinggal kami cukup subur. Tapi khusus kebun kami yang tanahnya berbatu itu, pupuk tetap diperlukan. Lagipula, pengadaan pupuk bisa menjadi sarana pembelajaran dalam keluarga kami. Pupuk, sebagai makanan suplemen bagi tanaman, tidak kami beli. Kami membuatnya sendiri. Sengaja kami berkeliling kampung untuk mencari bahan baku pembuatan pupuk kandang. Iya, pupuk kandang berarti kotoran hewan. Kebetulan cukup banyak penduduk kampung yagn memelihara kambing dan kerbau. Mereka sangat akomodatif saat kami meminta ijin untuk mengambil kotoran di kandang hewan peliharaan mereka. Mungkin mereka merasa terbantu karena kebersihan kandangnya jadi lebih terjaga.
Maka selain membabat rumput liar, menyiangi tanaman, menggali lubang dan menanam pohon, kami juga membuat pupuk. Tidak sulit. Kami hanya perlu mencampur kotoran hewan dengan sekam (kulit padi yang kering), tanah hitam dari sekitar sungai, serta serbuk arang sisa pembakaran kayu. Dengan tangan kami mencampurnya, dan meremas campuran tadi dengan penuh perasaan. Mencoba menghayati dan mencari hikmah dari beragamnya ciptaan Tuhan yang ternyata saling melengkapi.
Selain membuat pupuk, kami juga mengupayakan penyediaan bibit. Bibit apa saja. Setiap kali pergi dan menemui pohon di perjalanan, kami berusaha mendapatkan bijinya yang terserak begitu saja di bawahnya. Kalau ada pohon ketapang, maka kami akan memunguti biji ketapang, ada pohon tanjung, maka kami akan memungut biji tanjung. Begitu seterusnya. Sengaja memang untuk mengadakan bibit dari tanaman keras dan dicotyle, sebab memang lebih "terlihat" hasilnya. Begitu juga setiap kali ada yang makan buah seperti pepaya, mangga, pisang, jambu, (dibawa dari pasar minggu, di sana banyak pembelinya di si...kok jadi nyanyi?) Maka kami akan mengingatkan agar bijinya "dibuang" ke lahan persemaian supaya tumbuh jadi bibit. Tentu saja setelah dijemur dan dikeringkan.
Biasanya biji-biji beraneka ragam tadi setelah kering kami sebar di sebuah lahan kecil yang sengaja dibuat untuk penyemaian. Untuk menghindari dicaplok ayam, maka kami buat pagar bambu di sekelilingnya. Setelah tunasnya tumbuh, kemi pindahkan ke dalam polybag terkecil. Diawasi ketat setiap hari agar tidak layu sebelum berkembang. Setelah tumbuh lebih besar, barulah dipindah ke polybag lain. Dipilih dan dipilah menurut jenisnya. Pada awalnya, bibit kayu manis yang perkembangannya paling cepat. Jumlahnya juga paling banyak. Setelah itu ketapang dan asem kranji. Mereka memang sangat mudah untuk tumbuh. Tanpa dipelihara, disiram dan dipupukpun, mereka sanggup tumbuh sendiri. Bibit lainnya kemudian mulai bertunas, dan tumbuh menjangkau hati kami. Senang rasanya melihat mereka tumbuh membesar dan membuat hati ini ikut menjadi besar.
Setahun berlalu, kebun kami sudah berubah sama sekali. Rimbun. Segar. Jalan setapak menjadi koridor dengan semak bougenville memagar sepanjang 15 meter itu. Bahkan di mulut jalan, sepasang bougenville di kedua sisi jalan telah menjadi gerbang alami. Saat melewatinya, seolah seperti melewati gerbang sebuah istana yang indah, dengan berbagai tanaman dan sebuah kolam ikan di dalamnya. Bibitpun melimpah, hingga tetangga dan penguasa di tempat tingal kami sering memintanya. Kami memberikannya secara cuma-cuma, bahkan membantu untuk urusan penanaman atau penyediaan alatnya. Memang sempat ada masalah kecil saat salah seorang anggota keluarga kami iseng dengan menanam ganja. Untunglah itu tidak berlanjut lama. Segera setelah dideteksi keberadaannya (tersembunyi di sela bibit kayu manis dan batang-batang vanili), tiga batang pohon daun neraka tadi dibabat habis. Dibakar. Dimusnahkan.
Begitulah, bertahun-tahun kebun itu jadi tempat bermain kami di waktu senggang; tempat peristirahatan kami di sore hari; tempatsembunyi dari aktifitas rutin harian yang membosankan. Sangat menyenangkan berada di sana, baik untuk berleha-leha, ataupun bekerja memegang cangkul di sana. Duduk di pinggir kolam dibuai angin sepoi-sepoi dan kicau burung yang singgah di pucuk pohon, sungguh suatu pengalaman yang tak akan kami tukar dengan harga berapapun.
Sampai kemudian musibah itu datang....
.... (gue terlalu sedih untuk menuliskannya)
*************
Sekarang kami tak lagi tinggal di tempat kami yang lama itu. Kebun itu juga tebengkalai. Kolam tak tepelihara. Barangkali hanya setan dan raja iblis yang kini di sana. Sesekali kami masih melihat orang-orang gila datang dan memetik buah-buahan dari kebun kami, kerja kami, keringat kami. Nangka, sukun, mangga, pisang tanduk yang panjang, jeruk nipis, alpukat, dan buah lain yang terlalu panjang kalau harus disebut satu per satu di sini. Sangat menyakitkan melihat segalanya tak terawat. Tapi lebih menyakitkan lagi melihat orang-orang gila berperilaku seolah buah-buahan itu warisan nenek moyang mereka yang bisa diambil semaunya. Tentu saja pohon-pohon besar masih tumbuh di sana. Juga pohon jati yang menjulang tinggi hingga pucuknya bisa terlihat dari jarak seratus meter sekalipun. Bukannya kami tak setuju ada orang lain memetik buah di sana. Kami hanya menyayangkan tindakan masa bodoh dari orang-orang gila yang sekarang menguasai lahan itu. Mereka tak pernah merawat tanaman itu sebagaimana mestinya. Ilalang mulai tumbuh di sana-sini. Rumput-rumput liar mulai tinggi. Tak pernah terdengar lagi bibit tanaman yang diproduksi dan disediakan gratis di sana. Sama sekali tak terlihat kesan kasih sayang di sana. Suasana jadi sangat tidak nyaman untuk tempat jalan-jalan, apalagi istirahat. Kalau hanya berandal atau gelandangan, bisa dimaklumi jika mereka tak punya kepedulian. Tapi mereka yang tinggal di sana juga terdiri dari keluarga-keluarga terpelajar, dengan perempuan dan ibu yang harusnya bersikap mengayomi dan welas asih terhadap sesama, termasuk kepada tanaman dan bunga-bunga. Mereka sama sekali tak terlihat peduli. Mereka tak peduli keberadaan yang lain. Mereka menganggap tak penting makhluk lain di sekitar mereka dan memilih untuk mengabaikannya.
Betapa mengherankan melihat manusia bisa sekejam itu terhadap sesama ciptaan Tuhan. Sekarang, saya tak tahu nasibnya lagi.
-- In Memoriam : Kebun A --
Wednesday, May 06, 2009
Suryakencana, Apa Adanya
Tanggal 2 - 3 Mei 2009, aku kembali melakukan perjalanan dengan Astacala. "Hanya" ke gunung Gede, memang. Tempat yang telah aku sambangi entah berapa kali sejak tahun 1988. Tapi tetap saja ini sebuah gunung, yang merupakan bagian dari alam. Gunung dengan hutan, tanjakan, lembah, dan misteri yang tak pernah lepas dari tubuhnya. Kita bisa saja mengatakan sudah mendaki gunung ratusan kali. Namun tetap saja, saat melakukan pendakian, kita tak pernah bisa tahu dengan persis, apa yang ada di dalam kepekatan rimba. Kita tak mampu menebak dengan pasti apa yang menanti di akhir setiap tanjakan; di balik setiap tikungan; atau di sela batang-batang pepohonan, karena kita memang bukan apa-apa di hadapan alam.
Aku jadi teringat lagi dengan kata-kata Aconk di awal pendakian, bahwa dia belum lahir ketika aku pertama kali ke gunung Gede ini. Umur kami terpaut belasan tahun. Lebih dari satu dekade. Tapi tetap saja ini sebuah gunung, yang merupakan bagian dari alam. Alam tak pernah membedakan usia. Ia akan memberikan perlakuan yang sama, tak peduli apakah umur kita 21 tahun, 37 tahun, atau 71 tahun (Himawan Tedjomulyono lahir di Temanggung 12 September 1936, tercatat di MURI sebagai Pendaki Gunung tertua, 71 Tahun 3 Bulan saat mendaki Gunung Rinjani). Umur dan pengalaman akan sia-sia jika hanya untuk memanggul kesombongan menghadapi alam. Alam tetaplah sebuah misteri yang harus disikapi dengan jujur, termasuk kejujuran menyusun niat saat mencoba mengakrabinya.
Lalu apa tujuanku ikut mendaki gunung Gede kali ini? Sekedar hunting foto? Melemaskan otot-otot yang sudah kaku, mencoba lebih dekat lagi dalam mengenal adik-adik di Astacala, atau ada niat-niat lain? Apapun itu, kita sama sekali tak bisa berbohong kepada alam. Ia akan memberi apa yang kita niatkan. Kalau hanya sekadar jalan-jalan menikmati pemandangan alam, maka alam akan menyuguhkan keindahan yang memang kita inginkan. Karena alam selalu jujur dan tak pernah menyembunyikan apapun. Apa adanya.
Mungkin kondisi apa adanya itulah yang seringkali membuat manusia goyah. Sering manusia menipu diri sendiri, berusaha tampil dengan kondisi tertentu meski harus bersolek dan menutupi kekurangan. Padahal, itu beban yang akan memberatkan seumur hidup. Akibatnya, kepalsuan yang telah dipilih harus selalu dijaga dengan segenap kemampuan. Energi yang harusnya bisa dipakai untuk kegiatan yang lebih positif, malah habis dipakai untuk menambal kepalsuan-kepalsuan agar selalu utuh dan terlihat baik.
Di antara keindahan alun-alun Surya Kencana
yang batasnya memagar jiwa,
kepalsuanpun kehilangan makna.
Maka keindahan alam akan mengajarkan pada setiap manusia, bahwa 'apa adanya' adalah sebuah keindahan. Berkali-kali perjalanan, ratusan kilometer lintasan yang akui jalanai bersama Astacala, semakin mengukuhkan keyakinan tadi. Ingin rasanya berbagi dengan teman-teman yang dulu sering bermain bersama di alam ini. Mereka pasti punya pelajaran lain yang diserap dari alam dan mungkin bisa sama-sama bertukar pikiran dan membagi pengetahuan. Tapi di dalam tenda ini, sebelah kiriku adalah Petong, dan di kanan Aconk, yang kebetulan baru kali ini aku merasakan perjalanan bersama mereka. Di tenda lain ada Somad, Singo, Rifki, Adek, Gimbal, dan Astaka. Bukan Gepeng, bukan Ewok bukan Isnanto, atau Irphan, yang dulu sering menemaniku berguru di alam dan terjebak dalam limpahan keindahan dan Rahmatnya.
Pada akhirnya, Surya Kencana hanyalah alun-alun, yang keindahannya hanya sebingkai gambar
atau menjadi semacam guru yang tak pernah kehabisan ilmu untuk ditebar. Sama seperti tempat-tempat lain di bumi ini. Sama seperti indahnya tempat pelelangan ikan, atau lapak-lapak tempat pemulung menukarkan ratusan gelas plastik bekas menjadi beberapa bilangan rupiah. Semua bisa menjadi indah, manakala hati kita terbuka menerima keindahannya, dan menyerapnya menjadi sesuatu yang berguna bagi kita semua.
Wednesday, April 22, 2009
Kebun (2)
Masalahnya cuma satu: kebun itu masih dikuasai orang lain. Lho?! Iya, sebab orang lain itulah yang pertama kali menemukan kebun itu lalu merawatnya di dunia ini. Catat: di dunia ini. Padahal, akulah yang menemukannya pertama kali, jauh sebelum dia lahir. Bahkan sebelum aku sendiri lahir. Ya, sebab akulah memang pemilik sah dari kebun itu sejak masih di alam arwah. *sok tau mode & nggak mau kalah mode: on*
Tapi nggak papa. Keterpisahan kami itu tak akan lama (lagi-lagi, ukuran waktu adalah hal yang relatif). Setidaknya bila dibandingkan usia alam semesta ini, maka kepemilikan sementara itu tak akan lama. Kita akan segera mati, dan aku akan memiliki kebun itu. Selamanya.
Sekarang aku hanya bisa memandang kebun itu dari jauh. Mencium aromanya tiap kali angin menyusup di jendela dan membuat tirai berkibar-kibar. Kadang-kadang terbaca juga jejaknya dari ceceran tanah yang tersebar di berbagai tempat. Pasti ada orang lain yang ikut melihat ceceran tanah itu, tapi aku tak peduli. Karena suatu saat, aku akan bertemu dan rebah di tengah kebun itu.
Jakarta, 22 April 2009
Kalau Marah
Persoalannya, kadang ada yang marahnya berlebihan dan tidak proporsional lagi. Hanya karena satu masalah, marahnya merembet hingga ke masalah-masalah lain.
Nah, supaya marahnya nggak kebablasan, ada berbagai cara yang bisa dipakai. Sebelum menumpahkan kemarahan bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:
Kalau sedang berjalan, cobalah untuk berhenti
Kalau sedang berdiri, cobalah untuk duduk
Menarik napas beberapa kali
Menghitung dari 1 - 100, kalau perlu sampai 1.000
Cuci muka (untuk yang muslim, ambil air wudlu. kemarahan itu iblis, dan iblis itu terbuat dari api. maka usirlah marah denagn air wudlu)
Mennyetel musik kesukaan
Mengingat saat-saat kita sendiri melakukan kesalahan.
Hmmm.... mungkin ada cara-cara lain yang bisa dipakai. Kalau ada, boleh sharing di sini ;) .
Pada kenyataannya, sangat sulit mengendalikan kemarahan. Jangankan untuk cuci muka atau mendengarkan musik kesukaan, untuk menarik napas panjang saja sulit. Iya nggak? Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.
Friday, January 23, 2009
Hidup Untuk Memberi
Judul Buku: Gadis JerukPenulis: Jostein Gaarder
Tebal: 242 halaman
Penerbit: Mizan
Cetakan: 1
Tahun Terbit: 2005
Sebagai makhluk hidup yang punya keterbatasan umur, setiap manusia normal yang berpikirian sehat akan berusaha meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, terutama keluarganya sendiri. Ada yang meninggalkan warisan berupa harta yang tak akan habis selama tujuh turunan. Ada juga yang mewariskan bekal ilmu pengetahuan dengan bantuan pendidikan yang setinggi-tingginya. Sebab riwayat hidup manusia memang punya keterbatasan dalam hal waktu dan ruang.
Keterbatasan itu pula yang membuat manusia selalu bertanya tentang asal usul dan akhir kehidupan. Benarkah hanya saat ini saja kita hidup? Ataukah kita sebelumnya pernah hidup di alam lain? Atau benarkah saat kita mati nanti, riwayat kita memang benar-benar berakhir sampai di situ saja? Pertanyaan-pertanyaan serupa masih terus menggelitik alam pikiran manusia. Tentu saja, jawabannya kadang absurd. Jangankan untuk mengetahui kenyataan di luar hidup kita saat ini, bahkan mengetahui posisi kita dalam alam semesta yang luas ini pun kita belum mampu. Bukankah kita hanya bagian kecil saja dari semesta luas yang batasnya pun belum pernah terdeteksi?
Begitu juga Jaan Olav, seorang dokter yang sedang mengidap penyakit yang membuatnya tak bisa hidup berumur panjang. Sebagai dokter, tak sulit baginya untuk mengetahui bahwa sakit yang dideritanya sangat parah dan ia hanya punya kesempatan hidup enam bulan saja. Maka selama enam bulan terakhir dalam hidupnya, ia menuliskan surat untuk Georg Roed, anaknya yang masih 3,5 tahun. Kesedihan terbesarnya adalah menyadari bahwa ia tak akan melihat anaknya tumbuh besar. Ia tahu, kalau hanya harta benda yang diwariskan, maka itu semua tak akan berumur panjang. Maka ia wariskan pandangannya mengenai kehidupan ini pada anaknya lewat sebuah surat panjang.
Itu bukan surat biasa. Itu adalah kisah hidup Jan Olav sendiri, lengkap dengan pergulatan pikiran dan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Jan Olav, yang terperangkap dalam tubuh manusia, lemah dan tak mampu menentang datangnya kematian, mungkn sedikit protes pada kehidupan ini. Kalau pada akhirnya kita hanya mati, adakah kita perlu melanjutkan kehidupan? Pertanyaan itu dijawab dengan menulis surat untuk Georg anaknya yang saat itu belum dewasa.
Tapi tidak seperti surat wasiat biasa, ia malah menuliskan kisah tentang Gadis Jeruk, sebuah julukan bagi seorang gadis yang terlihat kali pertama saat membawa sekantung jeruk. Pertemuan pertama Jan Olav dengan Gadis Jeruk di sebuah trem membuka petualangan yang seru dan memikat dan mendominasi seluruh penuturan di buku ini. Sebagai kisah romantis, gaya penulisan buku ini mampu menjalin tema besar yang biasa diusung Jostein G dengan rapi. Pertanyaan-pertanyaan tentang Teleskop Hubble sekilas hanya sebagai pelengkap dan seolah kebetulan. Tapi bukankah kebetulan dalam kisah fiksi adalah kesengajaan yang dibuat oleh pengarang? Maka keberadaan teleskop raksasa yang diharapkan mampu mengetahui asal-usul jagat raya bukanlah hiasan pelengkap belaka. Namun merupakan instrumen yang sengaja dipasang untuk menggiring pembaca agar sampai pada tema besar yang dibawa Gardner.
Secara keseluruhan, kisah perburuan Gadis Jeruk oleh Jan Olav, yang disusun menjadi surat dan terbaca setelah belasan tahun kemudian, sangatlah memikat. Kita bisa saja membacanya hanya sebagai kisah romantis sepasang kekasih, tanpa harus terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis dari penulis. Terbukti, beberapa pembaca, dilihat dari review dan tinjauan buku yang ditulis di berbagai media, hanya membacanya sebatas kisah asmara romantis saja. Padahal, kandungan buku ini cukup berat. Tapi kepiawaian Jastein membungkus tema besar ini menjadikan buku ini terasa tipis bagi pembaca yang penasaran dengan akhir kisah asmara Jan Olav dengan Gadis Jeruk.
Wednesday, January 21, 2009
WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
Copyright 2009 michealheart. com
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Tuesday, December 30, 2008
Negriku Juga
sebuah negri
terhimpit bencana bertubi-tubi
pengusiran, perampasan,
membidani lahirnya generasi pejuang.
pembunuhan, pembantaian,
melahirkan generasi yang selalu siap perang.
kita tak pernah bisa memilih di negri mana
kita ingin dilahirkan
kita tak pernah meminta
di tanah subur hijau permai ini kita dilahirkan.
maka atas nama kemanusiaan, kita adalah saudara.
atas nama kemanusiaan, kita merasakan ketidakadilan.
bagaimana mungkin adil kalau batu dilawan lapis baja?
bagaimana mungkin adil kalau kemiskinan ditindas sumber uang
tak ada habisnya?
sebuah negri
bukan belas kasihan yang dinanti
tapi ketulusan berjuang menegakkan keadilan.
dari kejauhan aku cuma bisa mengirimkan doa
semoga surga adanya....
Jakarta, 30 Desember 2008
Thursday, December 18, 2008
Serpong Malam Hari
di stasiun nggak ngapa-ngapain selain nonton sepur, mendengarkan suara mesin dan peluitnya, menyimak pengumuman PPKA, atau menebak-nebak jenis lokomotif dari suara mesinnya yang khas. kadang-kadang, kalau lagi bawa kamera, suka saya sempatkan untuk motret juga, seperti foto-foto di bawah ini.
Klik gambar untuk melihat ukuran besar
foto #1:
KA 370 (sudex = sudirman expres) yang saya tumpangi, duduk dengan manis di jalur 4. sesaat lagi dia akan menjelma menjadi KA 467 A (ciujung malam).

foto #2:
pandangan ke arah timur, menunggu masuknya KA 378. hmm..... sepi.

foto #3:
wussh.... , KA 378 tiba

foto #4:
kiri: KA 378 masuk di jalur 3. kanan: KA 467 A

foto #5:
ex KA 378 sedang langsir karena jalur 3 akan digunakan KA 974 (?) itu tuh...kereta langsam tujuan RK.

foto #6:
hmm..... dinikmati aja deh. i love train

foto #7:
KA 378 selesai langsir.
eh, wajah KA 467 A sudah berwarna hijau. penyebabnya pasti ....foto #8.
KA 467 A, ciujung malam
jalur empat.
aspek sinyal hijau, aman
silakan berangkat.

foto #9:
ketika kereta berlalu, lampu sinyal berganti warna merah. jadinya hasil foto kayak gini, deh....

foto #10:
kembali sunyi....

foto #11:
KA 974 di jalur 3. nggak sempet motret pas dia masuk stasiun.

dari rumah..., KDT telpon, "Honey, udah sampe mana?"
waduh..., jawab apa, ya... bilang ini aja deh: "Iya, sebentar lagi sampe rumah. Serpong beszet nih."
foto #12:
keluar lewat PJL sebelah barat stasiun. males kalau naik-turun tangga. motret lagi sebelum naik angkot.

oh iya, mohon maaf kalau fotonya nggak bagus dan beberapa tampak blur karena goyang. maklum, motretnya pulang kantor, dan saya nggak pernah nenteng-nenteng tripod ke kantor. sebagai gantinya, saya pake telponpod ini nih:
cukup stabil untuk pengganti tripod, cuma kalau ada kereta lewat di sebelahnya, pasti goyang juga karena kesiur angin atau getaran yang timbul saat kereta lewat.oh iya, semua gambar ini diambil di stasiun serpong. foto pertama dijepret pada pukul 19.36 dan foto terakhir pada 19.58. Hanya 22 menit di stasiun, dan hati kembali bergairah.
Thursday, December 11, 2008
Setelah Empat Tahun
masih saja ada yang tidak tepat.
Kadang emosi bagai ombak mengalun
kadang mengalir terlalu cepat.
Setelah empat tahun terlewati,
aku pun sadar
bahwa menjadi suami
adalah proses untuk belajar
Thursday, December 04, 2008
Blog Temen Lama
Tapi kali ini beda. Saya menemukan seorang kawan lama yang nge-blog. Saya nggak langsung mencoba kontak dengan dia. Soalnya saya sebal karena saat saya klik gallery fotonya, kawan saya itu telah melemparkan saya pada kenyataan bahwa ada mimpi-mimpi saya yang belum terwujud. Khusus kawan yang satu ini, dia mengingatkan saya bahwa mimpi saya untuk punya sepeda gunung, masih sebatas angan-angan.
Nanti, kalau kesal dan jengkel saya sudah hilang, saya akan hubungi lagi dia.
Wednesday, December 03, 2008
Pemilu dan Kesibukan Kita
Pemborosan, itu sudah jelas. Berapa rupiah harus dikeluarkan untuk bendera-bendera, poster, stiker, ataupun baliho kayak layar tancep gitu? Apa tidak ada sasaran lain dalam daftar prioritas untuk menghabiskan uang? Bagi saya, pengeluaran uang untuk hal semacam itu merupakan pemborosan, sebab hsilnya sama sekali tidak ada jaminan. Belum ada penelitian yang menyimpulkan populer dan dipilihnya partai atau tokoh partai karena iklan yang disebarkan. Jadi, segala pengumuman yang menggunakan uang banyak itu sama sekali belum terbukti efektif.
Pembodohan, sebab memang iklan lewat bendera, poster, ataupun bentuk-bentuk sejenis, akan membuat seseorang atau beberapa orang yang tertarik untuk terbawa iklan tersebut, menjadi orang-orang yang tidak rasional. Bagaimana mungkin seseorang memilih seorang tokoh hanya karena alasan iklan? Memang akan ada yang melakukan hal tersebut, dan jumlahnya belum pernah dihitung siapapun. Tapi, itu kan tidak rasional? Orang yang terjebak iklan tersebut sudah terjebak dalam pembodohan. Apa iya partai atau tokoh partai yang dipilihnya itu benar-benar dikenalnya? Paling-paling hanya karena "biasa ngeliat wajahnya di poster," atau "benderanya udah akrab, udah sering liat." Lha... ini kan pembodohan. Dan ini sudah berlangsung lama, serta tampaknya akan terus berlangsung lama. Jadi program berkelanjutan.
Kalau memang ingin memilih, ya harusnya dipilih dengan pertimbangan masak-masak, bukan karena sogokan iklan, dong.
Tapi, sebagian besar dari kita tampaknya memang tak peduli dengan berbagai atribut tadi. Hidup tetap berjalan sebagaimana biasa. Nggak ada yang peduli kecuali pengurus partai atau tim sukses caleg daerah yang dapet jatah kerja untuk sosialisasi, kan?
Saya hanya kecewa, sebab kebanyakan bendera, atau stiker, atau poster, atau baliho tadi, jadi mengesankan pemandangan yang berantakan. Masa di tengah-tengah hijau dan rimbunnya daun, ada bendera warna-warni? Tembok mana di pinggir jalan yang tidak ditempeli poster atau stiker gambar caleg daerah? Dengan kata lain: Merusak Pemandangan. Itu ajah.
Tuesday, December 02, 2008
Belajar Ikhlas
Tapi sebenarnya kekecewaan ini bisa dihindari. Ini hanya soal mengatur niat saja. Niat saat hendak melakukan sesuatu. Sebagai contoh, ketika saya memberikan sesuatu kepada seseorang. Jika niat tersebut bertujuan agar saya bisa mendapatkan ucapan terima kasih, maka saya pasti akan kecewa kalau orang tersebut menganggap pemberian saya biasa-biasa saja, dan tidak merasa perlu untuk mengucapkan terimakasih.
Contoh lain, kalau saya melakukan pekerjaan semata diniatkan hanya untuk memperoleh gaji saja, maka saya akan kecewa kalau ternyata dalam melakukan pekerjaan (meskipun tetap mendapat gaji utuh), saya berkali-kali disalahkan atasan. Kenapa? karena niat tadi tidak saya atur dengan baik.
Agar tidak datang kekecewaan, maka niatkanlah segala sesuatu untuk mendapatkan Keridloan Allah SWT. Tidak boleh ada niat lain, selain ibadah tersebut. Ini bukan saja akan menjaga kita dari kekecewaan, tetapi akan tetap menjaga kita agar terus berada di jalan yang benar. (Bagaimana mungkin kita mencuri dengan niat mendapatkan Ridlo-Nya?) Ini bukan hanya dalam pekerjaan ritual ibadah saja, tetapi mencakup semua hal yang dilakukan (termasuk nge-blog). Nah, konon, itu salah satu bentuk keikhlasan, hanya mencari keridloan Allah SWT.
Saya sih, masih belajar untuk ikhlas... masih jauh dari orang dengan status ikhlas.
Friday, June 27, 2008
Pesta Buku Jakarta
Sebenarnya info tentang acara ini sudah tersebar luas di mana-mana, tapi karena ada kenalan saya yang selalu mengingatkannya (meskipun dengan cara menanyakannya kepada saya), maka saya tulis saja di sini.

Pesta Buku Jakarta kali ini diselenggarakan tanggal 28 Juni 2008 sampai dengan tanggal 6 Juli 2008. Penyelenggaranya adalah Ikatan Penerbit Indonesia cabang Jakarta Raya (Ikapi Jaya). Tempatnya, seperti biasa, di gedung Istora Senayan Jakarta. Itu tuh, tempat yang kemarenan jadi tempat perebutan Piala Thomas dan Piala Uber. Meskipun menurut saya, tempatnya masih kurang luas, tapi cukup nyaman juga kalau ke sana pas ketika tidak sedang ramai-ramainya. Karena diadakan di bulan Juni, maka penyelenggaraannya juga dikaitkan dengan perayaan ulang tahun kota Jakarta yang tahun ini berusia 481 tahun. Tidak heran kalau yang membuka pesta ini adalah (rencananya) Gubernur yang berkumis itu.
Yang menarik, tema yang dipilih penyelenggara kali ini. Bayangkan saja, masa temanya adalah "Jakarta Banjir". Nah lho... aneh 'kan? Maksudnya, banjir itu... yeah, kita lihat saja sendiri, apa maksud banjir di situ. Yang jelas, sangat mudah menemukan buku-buku di sana. Iya dong, namanya aja pesta buku. Tentu saja akan ada potongan harga, mulai 10 % hingga 70 %. Saya sering membeli buku-buku murah di acara ini pada penyelenggaraan yang lalu-lalu. Biaasanya, buku-buku yang masuk kategori cuci gudang" atau cacat produk dijual dengan harga sanagt murah. Tapi jangan keliru, maksudnya cacat di sini, mungkin sampulnya ada yang cetakannya terbalik, atau sudutnya bolong, dsb., sehingga tidak layak untuk dijual di toko pada umumnya. Selain itu, berkumpulnya berbagai penerbit di satu tempat akan memudahkan kita untuk mencari buku-buku dengan leluasa.
Oh, iya.... ada satu hal lagi, acara ini gratis. Datang saja, nggak dipungut bayaran, kok.
Tuesday, June 24, 2008
Nggak Boleh Tepat Waktu
Ternyata maksudnya adalah tidak boleh mepet waktu. Jadi, karyawan harus datang 10 menit sebelum jam masuk kantor, kemudian keluar kantor jauh setelah jam kantor usai.
Wah, kalau begitu, buat apa ditetapkan aturan bahwa "JAM KANTOR ADALAH JAM 08.00 - 17.00" Bayangkan saja, datang dan pulang tepat waktu tidak boleh!!!
Belum tahu, apa sanksi bagi pelanggaran aturan baru ini. Yang jelas, untuk pulang, tidak boleh sebelum 17.30. Sebenarnya nggak masalah kalau kelebihan waktunya itu dihitung lembur dan over time bisa dikonversi menjadi uang. Masalahnya, di kantorku (perusahaan kecil milik perseorangan) tidak mengenal istilah over time bag staf atua karyawan biasa. Kecuali office boy dan cleaning service. Mereka malah dapet lembur kalau kerja over time.
Sementara kalau ada karyawan yang pulang cepat, meskipun sudah melewati jam kerja, pasti akan ditegur dan disindir-sindir. Akan dikatakan bahwa sebaiknya pulang setelah 17.30. Coba kita hitung-hitung, kalau masuk jam 07.50 dan pulang jam 17.30, maka jam kerja dalam satu hari setelah dipotong istirahat 1 jam, adalah:
17.30 - 07.50 - 1= 1.050 menit - 470 menit - 60 menit = 520 menit
atau 8 jam 40 menit.
dalam satu minggu (5 hari kerja) menjadi: 2.600 menit = 43 jam 20 menit
Artinya, ini sudah di luar standar Depnaker. Sisa 3 jam 20 menit dalam seminggu, harus dikonversikan dalam bentuk kompensasi lembur dong!!! Ini kalau mengacu pada keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia nomor KEP. 102/MEN/VI/2004
Tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur.
Tapi susah juga sih. Soalnya kantornya bukan perusahaan pemerintah, juga bukan swasta besar. CUma perusahaan milik perorangan. Apa kata pemilik, ya itulah aturan dunia.

