Showing posts with label rupa-rupa. Show all posts
Showing posts with label rupa-rupa. Show all posts

Wednesday, October 21, 2015

Laut

itu dirimu
mengalunkan ombak di pantai. sederhana,
seperti udara yang kuhirup.

tapi laut memang selalu setia.
ia terima semua
keluh kesah sungai
dan dititipkan kemudian
pada awan.

maka ombakmu ini hanya sesaat
meski selalu kembali
menghapus jarak

itu dirimu
mencampakkan ombak di pantai. sederhana,
rindu yang tak mau redup.

Monday, September 01, 2014

Sore ini (Pertemuan - 6)

Sore ini kekasih, hanya jingga yang berdebar membaca rindu. Kau menulisnya, bagai angin memahat awan yg beranjak pergi ke hatiku.

Bukankah awan itu juga yg jadi rahim hujan, dan memekarkan harapan di tengah musim yg tak lagi bisa kita baca jejak maupun arahnya. Tapi setiap sore memang punya cerita sendiri, seperti ombak bertemu pantai, atau hutan kehilangan hijau, atau foto bertemu bingkai, atau aku kehilangan engkau.

Sore memang tak pernah berakhir sebagai cerita, tanpamu. Tapi percayalah, akan selalu ada cerita yang tak pernah berakhir keindahannya, ketika kita sekali lagi tak jadi bertemu.

Wednesday, May 11, 2011

Astacala

Tak mau diatur. Barangkali itulah alasan beberapa mahasiswa STTTelkom angatan 1991 kemudian berkumpul dan membentuk organisasi sendiri dan bukannya bergabung dengan organisasi UKM bentukan petinggi kampus. Apalagi UKM-UKM yang ditawarkan tersebut belum ada yang mampu menampung hobi dan kesenangan beberapa mahasiswanya. Salah satunya adalah hobi dan kesenangan berkegiatan di alam terbuka.

Menempuh pendidikan di sekolah yang tak punya kakak kelas memang terasa aneh. Hal-hal yang harusnya bisa dipelajari atau diikuti dari kakak kelas tidaklah terjadi. Bukan saja dalam urusan kuliah seperti mencari referensi materi, ataupun tata tertib dan tradisi praktikum yang belum ada, tapi bahkan gaya hidup dan perilaku di kampus tak ada contohnya. Semua dari titik nol. Demikian juga kehidupan organisasi mahasiswa.

Pihak kampus, dalam hal ini pihak Puket III bidang kemahasiswaan, memang menawarkan beberapa UKM di bidang olah raga maupun kesenian. Tapi tidak ada UKM yang sifatnya bermain di dunia kepecintaalaman. Mahasiswa baru yang menyukai kegiatan alam terbuka, baik yang sejak masa SLTA sudah menyukainya, maupun yang baru belajar menyukainya, merasakan kebutuhan untuk berkumpul dan berorganisasi. Alasannya sederhana saja, dengan berkumpul kekuatan akan bertambah. Bisa saja kita pergi naik gunung sendiri, tapi kalau ada temannya, apalagi dalam jumlah banyak, maka banyak keuntungan yang bisa didapat. Meminjam barang, misalnya, atau ongkos sewa kendaraan yang bisa ditekan.

Maka ketika ide untuk duduk bersama dan berkumpul itu muncul dari saudara Yadi Supriadi, cukup banyak yang tertarik. Saya tak ingat jumlah persis hadirin saat itu, tapi dari kelas saya saja jumlahnya sudah belasan. Ide yang diusung: bikin organisasi pecinta alam. Itu saja. Bagaimana organisasi ini ke depannya, itu urusan nanti, yang penting ada wadah untuk menyatukan mahasiswa yang menyukai kegiatan alam terbuka.


Ada yang bertanya soal mimpi yang berseliweran? Saat itu tak banyak yang mau mengungkapkan mimpi-mimpi mereka tentang organisasi yang kemudian benama Astacala ini. Karena para Perintis Astacala memang orang-orang sederhana, sangat bersahaja (tapi kok narsis gini, ya? :p ).

Maka mimpipun tak begitu saja mencuat tinggi ke angkasa. Barangkali memang ada mimpi yang melambung tinggi, tapi tak terungkap saat itu. Bukankah berkumpul bersama orang-orang sehobi di tengah suasana kampus yang gersang, kemudian berkenalan, membentuk kepengurusan organisasi dari orang-orang yang baru dikenal beberapa jam saja, merundingkan nama, logo, AD/ART, dan lain sebagainya, itu sudah seperti mimpi yang terwujud? Kalaupun harus menyebut mimpi, kita ingin Astacala tumbuh besar, lebih besar dari organisasi maupun perkumpulan pecinta alam yang namanya sudah lama terdengar.

Namun soal mimpi ini, saya kira dia memliki kaki sendiri. Setelah Astacala bisa berdiri, punya "pakaian", maka mimpipun berjalan. Awalnya pasti sederhana, misalnya punya peralatan mendaki gunung yang meskipun dibeli dengan uang pribadi, tapi anggota lain boleh memakainya. Atau mimpi punya sepatu gunung, punya ransel, punya kernmantel dan carabinner, dan mimpi-mimpi sederhana lain yang terus berjalan seiring waktu. Tapi saya tak pernah lupa ide awal pendirian Astacala, yaitu sebagai wadah untuk mahasiswa yang senang berkegiatan di alam terbuka. Maka Astacala adalah juga organisasi pertama di lingkungan kampus STTTelkom yang inisiatif pendiriannya datang dari mahasiswa sendiri, bukan bentukan dari kampus. Kalau ditanya, kenapa tidak ikut saja di UKM yang sudah ada? Barangkali jawabnya karena anggota Astacala tak mau diatur kampus, selain karena kebutuhan berorganisasi yang belum tertampung tadi. Kalau mau sedikit arogan, anggota Astacala hanya mau diatur alam! Bukan diatur orang lain, apalagi diatur lingkungan sekecil kampus STT Telkom.

Tuesday, May 26, 2009

Kebun (1)

Tulisan ini sebenarnya pernah dipublikasikan di blog saya yang lain pada tanggal 24 Juli 2007. Saat ini blog tersebut sudah almarhum, karena memang merupakan blog yang emosional saja sifatnya, dan saya bikin hanya untuk satu orang saja - terimakasih untuk T karena telah membuat saya semakin dewasa menghadapi kehidupan ini - Tapi tulisan ini saya masukkan lagi di blog ini, sebab saya terlanjur memposting Kebun (2) dan lupa kalau Kebun (1) saya posting di blog lain.
Yah, selamat membaca, semoga bisa menikmatih....


Kami punya kebun. Tidak luas. Berukuran sekitar 800 meter persegi. Letaknya di belakang rumah kami. Ada jalan setapak kecil yang membelah kebun persis di tengah. Ujung satunya berada persis di muka pintu belakang rumah. Ujung lainnya menuju keramaian pasar.

Saat kami baru pindah ke sana, ke rumah kami itu, jalan tersebut masih jarang dilalui. Kebunnya juga masih penuh dengan ilalang, semak-semak, dan rumput liar. Ada juga jenis tanaman bunga. Tapi itu bukan dari jenis yang biasa dikomersilkan. Hanya sejenis semak dengan bunga berwarna kuning berbentuk seperti lonceng kecil. Tak ada orang yang akan sengaja menanam bunga itu, sebab ia bisa sangat liar pertumbuhannya. Sekali tumbuh, tahu-tahu seluruh halaman bisa dipenuhi semak bunga itu. Walupun cantik, tak ada yang mau merawat bunga liar. "Tantangannya terlalu besar. Cantik memang, tapi liar."

Kemudian ada yang berinisiatif untuk membersihkan lahan tersebut. Awalnya hanya di sekitar pintu belakang rumah. Tak nyaman rasanya saat membuka pintu belakang, lalu pemandangan pertama yang terlihat adalah rumput dan ilalang liar. Kami bekerja sendiri (yang sebenarnya ada beberapa orang juga). Tak ada yang mau membantu. Tentu saja, tak ada yang tertarik untuk membabat ilalang, membersihkan rumput liar, atau berupaya mengendalikan semak bunga kuning berbentuk lonceng yang cantik tapi liar tadi. Apalagi ini sejenis kerja suka rela.

Tapi itu awalnya saja. Lama kelamaan, ada juga yang tertarik. Ikut membabat rumput liar, ilalang tinggi, dan mengatur semak-semak agar tumbuh menjadi pagar. Tidak itu saja, kegiatan bertambah dengan aktifitas menanam. Pengikutpun bertambah, karena pada dasarnya, kami sekeluarga memang senang dengan kegiatan menanam.

Maka jadilah sebuah rutinitas baru. Setiap sore, setelah melakukan aktifitas rutin harian, kami membabat ilalang dan rumput liar. Kalau biasanya hanya memegang pinsil, pulpen, buku, atau mouse komputer, maka di sore hari semua itu berganti menjadi cangkul, parang, sabit, serta ember dan selang air. Kalau di pagi dan siang hari menggunakan kemeja rapi dan bersih, maka di sore hari berganti menjadi kaos oblong yang menyerap keringat dengan celana lusuh yang penuh jejak-jejak lumpur kering.

Tantangan terberat selain membersihkan ilalang liar, adalah membersihkan lahan calon kebun dari batu-batu. Tipikal tanahnya yang keras sangat menguras tenaga saat menggali lubang di sana. Terlebih bagi yang tidak terbiasa pegang cangkul atau kerja berat. Padahal saat itu musim kemarau. Tak heran jika pada awalnya, banyak tangan yang lecet dan kulit yang menjadi gelap, seperti warna tangan dan kaki petani layaknya.

Setiap kali ingin menanam sebuah pohon, kami semua diwajibkan menggali lubang berukuran 1 x 1 x 1 meter kubik. Hal ini terpaksa dilakukan mengingat tanahnya sama sekali bukan tanah gembur melainkan tanah yang berbatu dan berpasir. Kalau ditanam tanpa menyiapkan ruang luas berisi tanah gembur, bisa dipastikan tanaman itu akan layu. Setelah lubang dibuat, barulah bibit yang sudah disiapkan dimasukkan dan ditimbun dengan tanah gembur yang dicari dari pinggir kali atau lokasi subur lainnya. Sehabis ditanam, bibit tadi harus selalu diperhatikan. Air menjadi syarat mutlak untuk urusan tersebut.

Sebagai langkah awal dan untuk tetap menjaga semangat, dipilihlah jenis tanaman buah-buahan. Bibitnya didapat dari mana saja: memungut di pinggir jalan, meminta, atau bahkan membeli. Diharapkan dengan menanam pohon buah-buahan, "pekerja-pekerja dadakan" ini mendapat tambahan energi saat menanam karena janji akan buah-buahan yang kelak bisa dipetik. Bukankah menyenangkan jika memetik jambu air dari pohon yang kita tanam sendiri? Tapi kenapa harus jambu??? Tenang, bukan cuma jambu kok, yang kami tanam. Ada pohon nangka, jeruk, sukun, klengkeng, alpukat, belimbing, dan berbagai pohon lainnya. Oh ya, kami juga menanam semak bougenville di kedua sisi jalan setapak di tengah kebun. Jalan itu sendiri diperlebar menjadi sekitar satu setengah meter. Kami berharap bahwa kelak bougenville-bougenville dari kedua sisi jalan ini akan tumbuh membesar dan membentuk kanopi hingga jalan setapak tadi menjadi semacam koridor alami. Tentu saja ada kerangka bambu untuk sekedar mengarahkan semak berduri yang bunganya berwarna-warni cerah ini, agar tak salah arah dalam pertumbuhannya.

Satu bulan pekerjaan berlalu. Kebun masih terlihat gersang. Tapi setidaknya sudah ada perubahan. Tak ada lagi ilalang dan rumput liar. Pokok-pokok baru memenuhi sudut lahan. Tak ada kekacauan pemandangan karena semak bunga kuning berbentuk lonceng yang cantik tapi liar. Mereka kini terkelompok di salah satu sudut kebun. Malah bisa berfungsi sebagai pagar. Padahal semula semak bunga ini ingin dibabat habis saja oleh beberapa oknum, tapi karena diprotes sambil ngotot dan pegang golok, mereka mengurungkan niat untuk menghabisi semak bunga liar tadi.

*************

Seperti juga manusia, tumbuhan juga membutuhkan makanan dan minuman. Kalau soal air, tidak menjadi masalah sebab cukup melimpah. Apalagi kami juga membuat sebuah kolam ikan dengan ukuran cukup besar berukuran 1,5 x 3 meter persegi dengan kedalaman sekitar satu meter. Ada teratai merah ungu kami letakkan di kolam tersebut yang sering kali terganggu karena kami memang suka iseng dengan menceburkan siapa saja yang berdiri dekat kolam. Saat ada yang berulang tahun, kami juga akan menceburkannya ke dalam kolam. Bahkan terkadang langsung diangkat saat masih terlelap di dalam kantung tidur, beserta kantung tidurnya sekalian. (waktu itu belom musim hp, jagi nggak ada kekhawatiran hp butuh hair dryer gara-gara nyemplung)

Jadi untuk menyiram, kami sudah punya cadangan air di kolam kalau sewaktu-waktu kemarau membuat sumber-sumber air tanah berkurang debitnya. (ssttt...rahasia: gue juga pernah pipis di sana. hehehe... habisnya udah kebelet dan kamar mandinya lagi diisi orang lain. sepertinya bukan gue saja yang pernah melakukannya. makanya setiap ada yang nyemplung, kami tertawa sedemikian ikhlasnya. tapi kalau kecemplung, pasti akan berupaya sekuatnya agar orang lain ikutan nyemplung).

Itu soal minuman untuk tanaman. Kalau soal makanannya lain lagi. Memang tanah di tempat tinggal kami cukup subur. Tapi khusus kebun kami yang tanahnya berbatu itu, pupuk tetap diperlukan. Lagipula, pengadaan pupuk bisa menjadi sarana pembelajaran dalam keluarga kami. Pupuk, sebagai makanan suplemen bagi tanaman, tidak kami beli. Kami membuatnya sendiri. Sengaja kami berkeliling kampung untuk mencari bahan baku pembuatan pupuk kandang. Iya, pupuk kandang berarti kotoran hewan. Kebetulan cukup banyak penduduk kampung yagn memelihara kambing dan kerbau. Mereka sangat akomodatif saat kami meminta ijin untuk mengambil kotoran di kandang hewan peliharaan mereka. Mungkin mereka merasa terbantu karena kebersihan kandangnya jadi lebih terjaga.

Maka selain membabat rumput liar, menyiangi tanaman, menggali lubang dan menanam pohon, kami juga membuat pupuk. Tidak sulit. Kami hanya perlu mencampur kotoran hewan dengan sekam (kulit padi yang kering), tanah hitam dari sekitar sungai, serta serbuk arang sisa pembakaran kayu. Dengan tangan kami mencampurnya, dan meremas campuran tadi dengan penuh perasaan. Mencoba menghayati dan mencari hikmah dari beragamnya ciptaan Tuhan yang ternyata saling melengkapi.

Selain membuat pupuk, kami juga mengupayakan penyediaan bibit. Bibit apa saja. Setiap kali pergi dan menemui pohon di perjalanan, kami berusaha mendapatkan bijinya yang terserak begitu saja di bawahnya. Kalau ada pohon ketapang, maka kami akan memunguti biji ketapang, ada pohon tanjung, maka kami akan memungut biji tanjung. Begitu seterusnya. Sengaja memang untuk mengadakan bibit dari tanaman keras dan dicotyle, sebab memang lebih "terlihat" hasilnya. Begitu juga setiap kali ada yang makan buah seperti pepaya, mangga, pisang, jambu, (dibawa dari pasar minggu, di sana banyak pembelinya di si...kok jadi nyanyi?) Maka kami akan mengingatkan agar bijinya "dibuang" ke lahan persemaian supaya tumbuh jadi bibit. Tentu saja setelah dijemur dan dikeringkan.

Biasanya biji-biji beraneka ragam tadi setelah kering kami sebar di sebuah lahan kecil yang sengaja dibuat untuk penyemaian. Untuk menghindari dicaplok ayam, maka kami buat pagar bambu di sekelilingnya. Setelah tunasnya tumbuh, kemi pindahkan ke dalam polybag terkecil. Diawasi ketat setiap hari agar tidak layu sebelum berkembang. Setelah tumbuh lebih besar, barulah dipindah ke polybag lain. Dipilih dan dipilah menurut jenisnya. Pada awalnya, bibit kayu manis yang perkembangannya paling cepat. Jumlahnya juga paling banyak. Setelah itu ketapang dan asem kranji. Mereka memang sangat mudah untuk tumbuh. Tanpa dipelihara, disiram dan dipupukpun, mereka sanggup tumbuh sendiri. Bibit lainnya kemudian mulai bertunas, dan tumbuh menjangkau hati kami. Senang rasanya melihat mereka tumbuh membesar dan membuat hati ini ikut menjadi besar.

Setahun berlalu, kebun kami sudah berubah sama sekali. Rimbun. Segar. Jalan setapak menjadi koridor dengan semak bougenville memagar sepanjang 15 meter itu. Bahkan di mulut jalan, sepasang bougenville di kedua sisi jalan telah menjadi gerbang alami. Saat melewatinya, seolah seperti melewati gerbang sebuah istana yang indah, dengan berbagai tanaman dan sebuah kolam ikan di dalamnya. Bibitpun melimpah, hingga tetangga dan penguasa di tempat tingal kami sering memintanya. Kami memberikannya secara cuma-cuma, bahkan membantu untuk urusan penanaman atau penyediaan alatnya. Memang sempat ada masalah kecil saat salah seorang anggota keluarga kami iseng dengan menanam ganja. Untunglah itu tidak berlanjut lama. Segera setelah dideteksi keberadaannya (tersembunyi di sela bibit kayu manis dan batang-batang vanili), tiga batang pohon daun neraka tadi dibabat habis. Dibakar. Dimusnahkan.

Begitulah, bertahun-tahun kebun itu jadi tempat bermain kami di waktu senggang; tempat peristirahatan kami di sore hari; tempatsembunyi dari aktifitas rutin harian yang membosankan. Sangat menyenangkan berada di sana, baik untuk berleha-leha, ataupun bekerja memegang cangkul di sana. Duduk di pinggir kolam dibuai angin sepoi-sepoi dan kicau burung yang singgah di pucuk pohon, sungguh suatu pengalaman yang tak akan kami tukar dengan harga berapapun.

Sampai kemudian musibah itu datang....

.... (gue terlalu sedih untuk menuliskannya)

*************

Sekarang kami tak lagi tinggal di tempat kami yang lama itu. Kebun itu juga tebengkalai. Kolam tak tepelihara. Barangkali hanya setan dan raja iblis yang kini di sana. Sesekali kami masih melihat orang-orang gila datang dan memetik buah-buahan dari kebun kami, kerja kami, keringat kami. Nangka, sukun, mangga, pisang tanduk yang panjang, jeruk nipis, alpukat, dan buah lain yang terlalu panjang kalau harus disebut satu per satu di sini. Sangat menyakitkan melihat segalanya tak terawat. Tapi lebih menyakitkan lagi melihat orang-orang gila berperilaku seolah buah-buahan itu warisan nenek moyang mereka yang bisa diambil semaunya. Tentu saja pohon-pohon besar masih tumbuh di sana. Juga pohon jati yang menjulang tinggi hingga pucuknya bisa terlihat dari jarak seratus meter sekalipun. Bukannya kami tak setuju ada orang lain memetik buah di sana. Kami hanya menyayangkan tindakan masa bodoh dari orang-orang gila yang sekarang menguasai lahan itu. Mereka tak pernah merawat tanaman itu sebagaimana mestinya. Ilalang mulai tumbuh di sana-sini. Rumput-rumput liar mulai tinggi. Tak pernah terdengar lagi bibit tanaman yang diproduksi dan disediakan gratis di sana. Sama sekali tak terlihat kesan kasih sayang di sana. Suasana jadi sangat tidak nyaman untuk tempat jalan-jalan, apalagi istirahat. Kalau hanya berandal atau gelandangan, bisa dimaklumi jika mereka tak punya kepedulian. Tapi mereka yang tinggal di sana juga terdiri dari keluarga-keluarga terpelajar, dengan perempuan dan ibu yang harusnya bersikap mengayomi dan welas asih terhadap sesama, termasuk kepada tanaman dan bunga-bunga. Mereka sama sekali tak terlihat peduli. Mereka tak peduli keberadaan yang lain. Mereka menganggap tak penting makhluk lain di sekitar mereka dan memilih untuk mengabaikannya.

Betapa mengherankan melihat manusia bisa sekejam itu terhadap sesama ciptaan Tuhan. Sekarang, saya tak tahu nasibnya lagi.

-- In Memoriam : Kebun A --

Wednesday, April 22, 2009

Kalau Marah

Sebagaimana manusia lainnya, saya juga pernah marah. Tidak ada manusia yang tidak pernah marah. Semua pasti pernah marah. Tidak berarti saya ini pemarah, lho. Lagipula, marah juga diperlukan, asalkan ada alasan yang benar dan sesuai.

Persoalannya, kadang ada yang marahnya berlebihan dan tidak proporsional lagi. Hanya karena satu masalah, marahnya merembet hingga ke masalah-masalah lain.

Nah, supaya marahnya nggak kebablasan, ada berbagai cara yang bisa dipakai. Sebelum menumpahkan kemarahan bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:

Kalau sedang berjalan, cobalah untuk berhenti
Kalau sedang berdiri, cobalah untuk duduk
Menarik napas beberapa kali
Menghitung dari 1 - 100, kalau perlu sampai 1.000
Cuci muka (untuk yang muslim, ambil air wudlu. kemarahan itu iblis, dan iblis itu terbuat dari api. maka usirlah marah denagn air wudlu)
Mennyetel musik kesukaan
Mengingat saat-saat kita sendiri melakukan kesalahan.
Hmmm.... mungkin ada cara-cara lain yang bisa dipakai. Kalau ada, boleh sharing di sini ;) .

Pada kenyataannya, sangat sulit mengendalikan kemarahan. Jangankan untuk cuci muka atau mendengarkan musik kesukaan, untuk menarik napas panjang saja sulit. Iya nggak? Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.

Wednesday, January 21, 2009

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009 michealheart. com


A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Thursday, December 18, 2008

Serpong Malam Hari

sepulang dari kantor, terkadang saya tidak langsung menuju rumah, tapi berhenti agak lama di stasiun pemberhentian terakhir. apalagi kalau sedang sumpek dengan kerjaan kantor, sementara weekend masih jauh. niatnya sih, biar masalah kantor nggak kebawa ke rumah.

di stasiun nggak ngapa-ngapain selain nonton sepur, mendengarkan suara mesin dan peluitnya, menyimak pengumuman PPKA, atau menebak-nebak jenis lokomotif dari suara mesinnya yang khas. kadang-kadang, kalau lagi bawa kamera, suka saya sempatkan untuk motret juga, seperti foto-foto di bawah ini.

Klik gambar untuk melihat ukuran besar

foto #1:
KA 370 (sudex = sudirman expres) yang saya tumpangi, duduk dengan manis di jalur 4. sesaat lagi dia akan menjelma menjadi KA 467 A (ciujung malam).

foto #2:
pandangan ke arah timur, menunggu masuknya KA 378. hmm..... sepi.

foto #3:
wussh.... , KA 378 tiba

foto #4:
kiri: KA 378 masuk di jalur 3. kanan: KA 467 A

foto #5:
ex KA 378 sedang langsir karena jalur 3 akan digunakan KA 974 (?) itu tuh...kereta langsam tujuan RK.

foto #6:
hmm..... dinikmati aja deh. i love train

foto #7:
KA 378 selesai langsir.
eh, wajah KA 467 A sudah berwarna hijau. penyebabnya pasti ....

foto #8.
KA 467 A, ciujung malam
jalur empat.
aspek sinyal hijau, aman
silakan berangkat.

foto #9:
ketika kereta berlalu, lampu sinyal berganti warna merah. jadinya hasil foto kayak gini, deh....

foto #10:
kembali sunyi....

foto #11:
KA 974 di jalur 3. nggak sempet motret pas dia masuk stasiun.

dari rumah..., KDT telpon, "Honey, udah sampe mana?"
waduh..., jawab apa, ya... bilang ini aja deh: "Iya, sebentar lagi sampe rumah. Serpong beszet nih."

foto #12:
keluar lewat PJL sebelah barat stasiun. males kalau naik-turun tangga. motret lagi sebelum naik angkot.

oh iya, mohon maaf kalau fotonya nggak bagus dan beberapa tampak blur karena goyang. maklum, motretnya pulang kantor, dan saya nggak pernah nenteng-nenteng tripod ke kantor. sebagai gantinya, saya pake telponpod ini nih:
cukup stabil untuk pengganti tripod, cuma kalau ada kereta lewat di sebelahnya, pasti goyang juga karena kesiur angin atau getaran yang timbul saat kereta lewat.

oh iya, semua gambar ini diambil di stasiun serpong. foto pertama dijepret pada pukul 19.36 dan foto terakhir pada 19.58. Hanya 22 menit di stasiun, dan hati kembali bergairah.

Thursday, December 04, 2008

Blog Temen Lama

Biasanya saya seneng kalau menemukan blog seorang kawan yang udah lama nggak kontak komunikasi. Maklum, temen 1000 kurang sedangkan musuh 1 sudah kebanyakan. Pasti saya senang dan langsung mencoba menghubunginya, dengan meninggalkan komentar, berlanjut ke japri dan tukeran nomer telpon.
Tapi kali ini beda. Saya menemukan seorang kawan lama yang nge-blog. Saya nggak langsung mencoba kontak dengan dia. Soalnya saya sebal karena saat saya klik gallery fotonya, kawan saya itu telah melemparkan saya pada kenyataan bahwa ada mimpi-mimpi saya yang belum terwujud. Khusus kawan yang satu ini, dia mengingatkan saya bahwa mimpi saya untuk punya sepeda gunung, masih sebatas angan-angan.
Nanti, kalau kesal dan jengkel saya sudah hilang, saya akan hubungi lagi dia.

Wednesday, December 03, 2008

Pemilu dan Kesibukan Kita

Tahun depan adalah Pemilu untuk memilih parlemen dan pemimpin nasional. Sejak beberapa bulan lalu, gairahnya sudah tampak. Di jalan-jalan, bendera-bendera partai sudah dipancangkan di tiang-tiang atau di pepohonan. Juga gambar-gambar caleg, terutama caleg tingkat daerah kabupaten/kota. Wajah-wajah asing bagi saya, terpampang dalam baliho yang terkadang ukurannya tidak masuk akal. Ini, memang bisa menjadi indikasi hidupnya demokrasi. Tapi, dari sisi lain, kita bisa melihatnya sebagai pemborosan, sekaligus upaya pembodohan yang berkelanjutan.

Pemborosan, itu sudah jelas. Berapa rupiah harus dikeluarkan untuk bendera-bendera, poster, stiker, ataupun baliho kayak layar tancep gitu? Apa tidak ada sasaran lain dalam daftar prioritas untuk menghabiskan uang? Bagi saya, pengeluaran uang untuk hal semacam itu merupakan pemborosan, sebab hsilnya sama sekali tidak ada jaminan. Belum ada penelitian yang menyimpulkan populer dan dipilihnya partai atau tokoh partai karena iklan yang disebarkan. Jadi, segala pengumuman yang menggunakan uang banyak itu sama sekali belum terbukti efektif.

Pembodohan, sebab memang iklan lewat bendera, poster, ataupun bentuk-bentuk sejenis, akan membuat seseorang atau beberapa orang yang tertarik untuk terbawa iklan tersebut, menjadi orang-orang yang tidak rasional. Bagaimana mungkin seseorang memilih seorang tokoh hanya karena alasan iklan? Memang akan ada yang melakukan hal tersebut, dan jumlahnya belum pernah dihitung siapapun. Tapi, itu kan tidak rasional? Orang yang terjebak iklan tersebut sudah terjebak dalam pembodohan. Apa iya partai atau tokoh partai yang dipilihnya itu benar-benar dikenalnya? Paling-paling hanya karena "biasa ngeliat wajahnya di poster," atau "benderanya udah akrab, udah sering liat." Lha... ini kan pembodohan. Dan ini sudah berlangsung lama, serta tampaknya akan terus berlangsung lama. Jadi program berkelanjutan.

Kalau memang ingin memilih, ya harusnya dipilih dengan pertimbangan masak-masak, bukan karena sogokan iklan, dong.

Tapi, sebagian besar dari kita tampaknya memang tak peduli dengan berbagai atribut tadi. Hidup tetap berjalan sebagaimana biasa. Nggak ada yang peduli kecuali pengurus partai atau tim sukses caleg daerah yang dapet jatah kerja untuk sosialisasi, kan?

Saya hanya kecewa, sebab kebanyakan bendera, atau stiker, atau poster, atau baliho tadi, jadi mengesankan pemandangan yang berantakan. Masa di tengah-tengah hijau dan rimbunnya daun, ada bendera warna-warni? Tembok mana di pinggir jalan yang tidak ditempeli poster atau stiker gambar caleg daerah? Dengan kata lain: Merusak Pemandangan. Itu ajah.

Tuesday, December 02, 2008

Belajar Ikhlas

Kecewa bisa datang pada siapa saja. Kita semua pernah merasakannya. Kita kecewa karena ada hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan kita, atau keinginan kita, atau target-target yang telah kita susun ternyata meleset. Hal-hal seperti ini ternyata bisa membuat kita kecewa.

Tapi sebenarnya kekecewaan ini bisa dihindari. Ini hanya soal mengatur niat saja. Niat saat hendak melakukan sesuatu. Sebagai contoh, ketika saya memberikan sesuatu kepada seseorang. Jika niat tersebut bertujuan agar saya bisa mendapatkan ucapan terima kasih, maka saya pasti akan kecewa kalau orang tersebut menganggap pemberian saya biasa-biasa saja, dan tidak merasa perlu untuk mengucapkan terimakasih.

Contoh lain, kalau saya melakukan pekerjaan semata diniatkan hanya untuk memperoleh gaji saja, maka saya akan kecewa kalau ternyata dalam melakukan pekerjaan (meskipun tetap mendapat gaji utuh), saya berkali-kali disalahkan atasan. Kenapa? karena niat tadi tidak saya atur dengan baik.

Agar tidak datang kekecewaan, maka niatkanlah segala sesuatu untuk mendapatkan Keridloan Allah SWT. Tidak boleh ada niat lain, selain ibadah tersebut. Ini bukan saja akan menjaga kita dari kekecewaan, tetapi akan tetap menjaga kita agar terus berada di jalan yang benar. (Bagaimana mungkin kita mencuri dengan niat mendapatkan Ridlo-Nya?) Ini bukan hanya dalam pekerjaan ritual ibadah saja, tetapi mencakup semua hal yang dilakukan (termasuk nge-blog). Nah, konon, itu salah satu bentuk keikhlasan, hanya mencari keridloan Allah SWT.

Saya sih, masih belajar untuk ikhlas... masih jauh dari orang dengan status ikhlas.

Friday, June 27, 2008

Pesta Buku Jakarta

Biasanya, bulan Juni di Jakarta, selalu identik dengan Jakarta Fair. Acara tahunan yang menurut saya cocok buat yang senang hiburan tersebut, selalu dipadati pengunjung, (termasuk copet-copet, hehe). Namun, selain Jakarta Fair, ada juga acara lain yang menurut saya lebih menarik, yaitu Jakarta Book Fair, atau biasa dikenal sebagai Pesta Buku Jakarta.

Sebenarnya info tentang acara ini sudah tersebar luas di mana-mana, tapi karena ada kenalan saya yang selalu mengingatkannya (meskipun dengan cara menanyakannya kepada saya), maka saya tulis saja di sini.


Pesta Buku Jakarta kali ini diselenggarakan tanggal 28 Juni 2008 sampai dengan tanggal 6 Juli 2008. Penyelenggaranya adalah Ikatan Penerbit Indonesia cabang Jakarta Raya (Ikapi Jaya). Tempatnya, seperti biasa, di gedung Istora Senayan Jakarta. Itu tuh, tempat yang kemarenan jadi tempat perebutan Piala Thomas dan Piala Uber. Meskipun menurut saya, tempatnya masih kurang luas, tapi cukup nyaman juga kalau ke sana pas ketika tidak sedang ramai-ramainya. Karena diadakan di bulan Juni, maka penyelenggaraannya juga dikaitkan dengan perayaan ulang tahun kota Jakarta yang tahun ini berusia 481 tahun. Tidak heran kalau yang membuka pesta ini adalah (rencananya) Gubernur yang berkumis itu.

Yang menarik, tema yang dipilih penyelenggara kali ini. Bayangkan saja, masa temanya adalah "Jakarta Banjir". Nah lho... aneh 'kan? Maksudnya, banjir itu... yeah, kita lihat saja sendiri, apa maksud banjir di situ. Yang jelas, sangat mudah menemukan buku-buku di sana. Iya dong, namanya aja pesta buku. Tentu saja akan ada potongan harga, mulai 10 % hingga 70 %. Saya sering membeli buku-buku murah di acara ini pada penyelenggaraan yang lalu-lalu. Biaasanya, buku-buku yang masuk kategori cuci gudang" atau cacat produk dijual dengan harga sanagt murah. Tapi jangan keliru, maksudnya cacat di sini, mungkin sampulnya ada yang cetakannya terbalik, atau sudutnya bolong, dsb., sehingga tidak layak untuk dijual di toko pada umumnya. Selain itu, berkumpulnya berbagai penerbit di satu tempat akan memudahkan kita untuk mencari buku-buku dengan leluasa.

Oh, iya.... ada satu hal lagi, acara ini gratis. Datang saja, nggak dipungut bayaran, kok.

Thursday, June 12, 2008

16Jam Perjalanan Darat

Sekali lagi aku terpaksa melakukan perjalanan darat dari Medan menuju Meulaboh. Sebenarnya kalau harus menempuh perjalanan darat, aku lebih suka melalui jalur Banda Aceh - Calang - Meulaboh. Menyusuri pesisir melalui sebagian jalan baru yang belum selesai (karena jalan lama rusak digilas tsunami 2004). Soal pemandangan sih, sama-sama indah. Tapi waktu tempuhnya bisa jauh berbeda. Perjalanan darat Medan - Meulaboh paling tidak harus ditempuh selama 12 jam, sedangkan dari Banda, bisa separuhnya. Lho, kenapa ke Medan, kalau begitu? Sebab tadinya aku berniat naik Susi Air dari Medan, tapi tiketnya sudah habis. Terpaksa menggunakan jalur darat. Tahu begini, mending ke Banda, sekaligus bertemu dengan teman yang sedang di sana.

Aku menggunakan jasa travel yang menggunakan kendaraan Kijang Kapsul. Sengaja meminta duduk di samping supir, suapaya lebih lega. Jadwal berangkatnya setelah maghrib. Itu artinya sekitar jam tujuh malam.

Ternyata mobil baru berangkat dari loket travel jam 19.30. Masih ada beberapa jam sebelum berangkat. Ada niat juga ingin jalan-jalan di Medan ini, siapa tahu bisa ketemu teman maya yang berdomisili di sini. Tapi urung, sebab waktunya nggak cukup banyak. Nanti saja mampirnya, sepulang dari Meulaboh, sekaligus cari oleh-oleh.

Ada 5 penumpang termasuk aku. Dua diantaranya adalah seorang ibu dan anaknya yang masih kecil. Supirnya membawa mobil dengan kecepatan sedang-sedang saja, setidaknya menurut ukuran perjalanan jarak jauh antar kota. Dengan kecepatan seperti itu, aku perkirakan jam 10 keesokan harinya baru akan tiba di Meulaboh. Itu berarti 15 jam perjalanan. Waduh...

Perkiraanku tidak meleset terlalu jauh. Setelah 16 jam di dalam mobil dengan jok panas dan AC yang tidak dihidupkan karena supir dan sebagian penumpangnya merokok, tibalah aku di Meulaboh. Entah karena supirnya tidak berani terlalu ngebut, atau karena terlalu sering singgah (5 kali pemberhentiaan dengan waktu antara 15 menit hingga 30 menit. Bahkan di Alue Bilie pun masih berhenti untuk sarapan, padahal Meulaboh sudah dekat!).

Sampai di rumah, malah tidak bisa istirahat (tidur). Badan terasa panas dalam. Mata lelah, tapi tidak bisa tidur (mana bisa mengubah jam biologis dengan cepat). Jadi langsung ke kantor saja dan melakukan aktifitas kerja.

Sampai di kantor, apa bisa kerja? Hmm.....

Friday, April 04, 2008

Konstruksi

Pernah kerja di kantor konstruksi? Saya belum pernah, tapi kantor tempat saya kerja saat ini memiliki divisi konstruksi. Sedikit banyak, saya tahu jumlah uang yang beredar dan uang yang tidak beredar (walaupun sudah dianggarkan). Artinya, ada uang yang harusnya digunakan untuk keperluan tertentu, ternyata masih ngendon saja di rekening proyek. Begitu proyek selesai, uang tadi dihitung sebagai sisa anggaran dan sah disebut sebagai keuntungan.

Kalau diibaratkan perdagngan, ini pasti selisih antara modal dengan jumlah penjualan. Keuntungan. Perdagangan tidak dilarang dan merupakan cara halal mencari uang. Tapi jadi lain masalahnya kalau sisa anggaran tadi jumlahnya nggak masuk akal dan prosentase terhadap nilai proyeknya begitu besar.

Lho, apa anggarannya digelembungkan, sehingga bisa banyak sisanya? (kalau sebulan ada sisa sampai 2 milyar, itu banyak apa nggak, ya?) Sebenarnya tanpa menggelembungkan anggaranpun, realisasinya tak akan melebihi jatah yang diberikan. Sisa itu tadi, selain karena efisiensi, juga hasil dari "efisiensi" dalam bentuk lain. Jadi, misalkan anda disuruh mengaspal jalan setebal 7 cm, bikinlah 5 cm saja, maka akan ada sisa yang cukup.

Kemarin saya berdebat dengan teman kantor, tentang siapa saja yang "ikut menanggung" dosa? Saya cuma orang IT. Keterlibatan saya cuma menyediakan software untuk bagian keuangan serta menjamin beroperasinya semua perangkat IT. Apa ikut kebagian dosa? Yang jelas, saat bagi-bagi bonus dari keuntungan proyek, saya nggak kebagian.

Thursday, April 03, 2008

Alergi Obat

Obat semestinya menyembuhkan penyakit dan menghilangkan rasa sakit. Bukan sebaliknya: menambah penyakit dan rasa sakit. Tetapi hal ini tidak berlaku pada semua orang. Beberapa orang tertentu memiliki alergi terhadap obat. Ketika meminum obat tertentu, tubuhnya akan bereaksi. Bukan reaksi yang baik, tetapi malah berakibat buruk seperti badan yang gatal-gatal, bintik-bintik merah, diare, hingga sesak napas dan bahkan mengakibatkan kematian. Kenapa obat justru menambah penyakit?

Alergi obat terjadi karena tubuh menganggap obat yang dikonsumsi (biasanya dari jenis antibiotika penisilin, sulfonamid, obat analgetik (pain killer), serta obat antipiretik (penurun panas)) sebagai bahan berbahaya yang harus dilawan. Efek gatal, kemerahan pada kulit, dan sebagainya itu, adalah wujud dari pertempuran antara sistem kekebalan tubuh dengan kandungan obat. Resiko alergi terhadap obat ini lebih tinggi pada mereka yang sering mengkonsunsi obat-obatan. Pada awalnya, mungkin obat tertentu tidak akan menimbulkan alergi. Tapi semakin sering obat terebut dikonsumsi, tubuh akan semakin sensitif. Maka bisa saja terjadi kelainan pada tubuh kita karena alergi terhadap obat yang sudah biasa kita minum.

Apa ada obat untuk menghilangkan alergi? Kalau sekedar menghilangkan gejala, tentu saja ada. Namun sifatnya sementara. Sifat ketahanan tubuh yang alergi terhadap obat tadi, tidak akan bisa hilang. Reaksi tersebut akan datang lagi jika pemicu alergi kembali dikonsumsi.

Lha, terus bagaimana caranya supaya kita nggak makin tersiksa gara-gara obat yang kita tenggak ternyat amalah menimbulkan alergi? Gampang. Ingat-ingat saja obat apa yang membuat kita alergi. Kalau suatu saat kita sakit, maka katakanlah kepada dokter bahwa kita memiliki alergi terhadap obat. Maka dokter akan memberikan obat yang "aman."

Tapi kalau terlanjur terkena dampak akibat alergi terhadap obat, maka langkah pertama adalah hentikan semua obat yang dikonsumsi. Lalu pergilah ke dokter yang memberi resep atau dokter terdekat lainnya. Mintalah supaya obat-obatan tersebut diganti, beserta tambahan obat anti alergi. Kecuali untuk kasus-kasus alergi tertentu seperti Stevens-Johnson syndrome maka pengobatan dari dokter Puskesmas sudah cukup, kok.

Wednesday, March 26, 2008

Dunianya Orang Pengecut

Udah liat ini ? Hihihi... lucu banget deh, tu orang...

Masa dia bilang, "Internet itu dunianya orang pengecut." Lah....

Tapi ada untungnya juga dunia ini ada orang kayak gitu. Soalnya kita jadi punya bahan buat tertawa, dan tertawa itu sehat. Yang tidak sehat itu kalau arogan, menganggap rendah orang lain, menghina orang lain, membodoh-bodohi orang lain, memperlakukan pasangan seperti memperlakukan penjahat kambuhan seraya mengaku sebagai orang relijius dan dekat dengan ulama-ulama.

Iya, gak?

Wednesday, March 19, 2008

Sarapan, euy...

Sejak masih kecil, saya selalu dibiasakan sarapan oleh orang tua saya. Makanya kebiasaan itu terus terbawa sampai saya duduk di bangku SMA. Lho... kok cuma SMA?

Iya, soalnya sewaktu kuliah, saya tinggal di dalam rumah kontrakan, bertujuh dengan kawan-kawan saya. Nah, urusan sarapan jadi urusan yang menyita waktu yang tidak sedikit. Mesti pergi ke warung atau memasak dulu. Memang sih, ad ajug atukang bubur kacang ijo atau bubur ayam yang lewat di depan rumah, tpai waktunya nggak pasti. Kadang pagi-pagi sekali, kadang jam 8 juga belum nongol, Maka kebiasaan sarapan tidak lagi jadi kebiasaan sewaktu saya kuliah. Saya sih, nggak tau secara persis, apa pentingnya sarapan bagi tubuh manusia. Cuma karena kebiasaan saja, maka kalau nggak sarapan, perut saya suka keroncongan. Hehehe... Tapi karena kondisi di rumah kontrakan itu, saya jadi nggak rutin lagi sarapan.

Setelah selesai kuliah dan kemudian menikah, sarapan di rumah hanya saya akukan di luar hari kerja saja. Sebab, kalau hari kerja, saya harus keluar rumah pagi-pagi sekali. Mau sarapan, kayaknya nggak sempat, gitu. Jadi saya berangkat pagi, kemudian sarapan di warung dekat kantor. Itu pun nggak selalu dilakukan. Kadang saya hanya mampir ke warung kopi dan menyeruput secangkir kopi sambil baca-baca koran pagi. Judulnya, ya tetap sarapan.

Sejauh ini sih, saya menjalaninya dengan perasaan biasa saja. Ya, tentu saja saya menikmatinya. (gimana nggak nikmat, lha wong masih banyak saudara-saudara kita yang jangankan sarapan, makan sehari sekali saja jarang!). Makanya, saya menjalaninya dengan nikmat.

Tapi paling nggak enak kalau setelah sarapan sebelum masuk kantor, lalu kita dipaksa "sarapan" lagi. Bukan berupa asupan makanan atau minuman bergizi, melainkan tumpukan tugas serta perintah sana sini yang kadang disertai dengan kata-kata yang nggak enak didengar telinga.

Bukannya nggak ikhlas bekerja atau menuruti perintah atasan, tapi 'kan perut saya sudha kenyang, jadi kalau ditambah "sarapan" yang nggak enak, yaaa.... perasaannya jadi nggak nikmat lagi, 'kan? Yang lebih mengherankan lagi bagi saya, kalau ada orang yang sarapan paginya bukan asupan makanan ataupun tugas yang menumpuk, melainkan sarapan berupa marah-marah dan protes sana-sini.

Ada lho... orang yang kayak gitu. Pagi-pagi udah marah-marah, sambil tunjuk hidung sana-sini. Yeah, apa enaknya sarapan begituan? Yang denger aja udah mual, apalagi kalau yang melakukan, ya? Heran saya....

Monday, March 17, 2008

Telpon Kantor

Sejak berganti mesin PBX (PABX), di kantorku, ada aturan baru dari bagian HRD & Umum. Sekarang, setiap akan menggunakan telepon, harus memasukkan kode tertentu terlebih dahulu. Kode (6 digit) ini berbeda untuk setiap pesawat telpon. Tujuannya jelas, yaitu untuk mengontrol penggunaan telpon agar hanya bisa digunakan oleh orang yang berhak saja. Jadi, saya hanya bisa menggunakan telepon di meja saya saja, tidak bisa menggunakan telpon yang ada di meja direktur, misalnya. (songong banget, mau pake telponnya direktur).

Dengan demikian, setiap orang bertanggung jawab terhadap telepon yang digunakan. Kalau tagihannya membengkak sampai melewati batas kewajaran (bisa diketahui dari program billing untuk mengetahui nomor tujuan yang telah di-dial dari ekstensi telepon tertentu), maka orang yang bersangkutan tidak bisa mengelak dan berkilah bahwa telponnya digunakan oleh orang lain. Sebab hanya dia yang tahu kode untuk menggunakan telpon tersebut. Akibatnya, nggak bisa lagi sembarangan telpon sana telpon sini sesuka hati. Kalau tagihannya melambung tinggi, bisa-bisa gaji dipotong. Hehehe...

Sayangnya metoda ini punya kekurangan. Terutama pada saat awal penerapannya. Banyak teman-teman yang lupa nomer kode untuk telponnya. Akibatnya, pinjam telpon tetangga jadi pilihan. Kalau sudah begitu, maka laporan billing menjadi tidak akurat lagi, sebab sebuah ekstensi telpon ternyata tidak digunakan oleh satu orang. Lucunya lagi, ada kawan saya yang lupa terus nomer kodenya. Maklum, bagi sebagian orang, tidak mudah menghafal deretan enam angka. Lalu ia sengaja sharing kode nomer telponnya itu ke orang lain agar ketika ia lupa, ia bisa menanyakan kepada orang lain.

Lha, saya juga termasuk yang tahu nomer kodenya. Maka, kalau suatu saat saya berniat jahat, bisa saja saya gunakan telponnya sepuasnya, kemudian beban tanggung jawab penggunaannya dibebankan kepada kawan saya itu.

Thursday, January 03, 2008

Fisika Atom dan Sedekah

Saya tidak bermaksud sok tahu menuliskan tentang fisika di blog ini. Saya bukan pakar fisika, dan hanya pernah belajar fisika di sekolah menengah dan tahun-tahun awal kuliah. Tapi saya mencoba membicarakan masalah fisika ini setelah mendengar percakapan pagi tadi.

Bermula ketika pagi tadi saya menumpang KRL menuju kantor. Biasanya saya berusaha untuk tidur. Namun pagi tadi saya tergelitik untuk menguping pembicaraan dua remaja yang sedang melakukan tanya jawab soal fisika. Mungkin mereka anak SMU yang sedang mengulang pelajaran sekolah. Tapi mereka tidak menggunakan seragam SMU, sebab saat ini memang masih libur.

Salah satu hal yang mereka bicarakan dalam tanya jawab itu adalah soal model atom. Saya sendiri sudah lupa ada berapa banyak teori tentang model atom yang pernah dipaparkan ahli fisika. Tapi saya ingat bahwa salah satu model atom moder yang diterima luas di kalangan ilmuwan adalah Model Atom Bohr.

Sesuai namanya, Model Atom Bohr diperkenalkan oleh Niels Bohr yang asli orang Denmark pada tahun 1913. Dalam hipotesisnya, pak Bohr mengajukan teori bahwa suatu atom terdiri dari satu inti atom bermuatan positif yang dikelilingi elektron-elektron bermuatan negatif. Elektron-elektron ini mengelilingi inti atom dalam lintasan orbit tertentu. Yah, mirip-mirip model tata surya kitalah.

Nah, tiap elektron ini punya energi yang tetap, selama masih ada dalam lintasan orbit stasionernya. Namun demikian, energi ataom tersebut bisa berubah bergantung pada perubahan lintasan. Pak Bohr bilang, bahwa elektron dapat berpindah lintasan. Jika ingin berpindah ke lintasan yang makin jauh dari initi atom, dia akan menyerap energi. Sebaliknya, jika elektron berpindah semakin mendekati inti atom, maka elektron akan melepas energi. Lihat gambarnya:


Sampai di sini, saya berhenti mengingat-ingat soal teori model atom Niels Bohr. Saya tiba-tiba tergelitik untuk menganalogikan model atom ini dengan kehidupan kita sebagai manusia. Khususnya perilaku elektron yang berpindah tadi.

Jika kita andaikan manusia adalah elektron, maka inti atomnya haruslah sesuatu yang menjadi pusat kehidupan manusia. Itu berarti Tuhan, penguasa alam semesta. Nah, jika kita sebagai manusia sering menyerap energi, mengambil segala hal tanpa merasa perlu untuk mengeluarkannya bagi lingkungan sekitar maupun bagi orang lain, maka kita akan seperti elektron yang menyerap energi dan akan berpindah ke lintasan yang letaknya makin jauh dari inti atom.

Sebaliknya, kalau ingin semakin mendekati Tuhan Yang Maha Kuasa, maka kita harus berperilaku seperti elektron yang berpindah lintasan ke orbit yang makin dekat dengan inti atom, yaitu melepas energi. Maka kita harus sering berbagi, bersedekah dan memposisikan diri untuk bermanfaat bagi sesama dengan memberikan yang terbaik bagi lingkungan kita selama hidup kita.

Ternyata, fisika atom juga mengajarkan kita untuk rajin shodaqoh.

Allahu'alam.
Sekali lagi, saya bisa aja salah, lho... :)

Tuesday, December 11, 2007

Hujan Meteor 13 - 14 Desember

Desember ini, kita akan disuguhi pemandangan indah di langit. Bukan karena ada penari joget di sana sambil diam-diam memelorotkan busana, atau pemandangan semacam itu. yang terjadi adalah hujan meteor.

Waktu kecil, saya sering menyebutnya sebagai bintang jatuh. Memang seperti bintang bergerak atau berpindah, seolah jatuh dari langit. Tapi yang akan terjadi Desember ini adalahHujan Meteor Geminidis (GEM-IMO37).

Hujan meteor ini terjadi antara tanggal 7 - 17 Desember. Puncaknya terjadi sekitar tanggal 13 - 14 Desember. Kalau langit bersih dan tidak hujan, kita bisa menyaksikan meteor ini berjatuhan dengan warna-warni yang indah. Saat puncak, bisa mencapai 120 kilasan meteor.

Kalau berminat, keluar saja dan lihat ke langit sebelah Timur Laut sekitar jam delapan malam. Ini bisa berlangsung sampai pagi dengan hujan meteor bergerak ke arah barat. Dinamai Hujan Meteor Geminids, karena posisinya memang searah dengan rasi gemini.

Tentu, kalau mengamati dengan teropong atau binocular, akan lebih jelas. Syaratnya, ya itu tadi: tidak hujan atau mendung. Sebab di sebagian besar wilayah Indonesia, saat ini memang sudha masuk musim penghujan.

Monday, December 03, 2007

Membayar Hutang

Pagi tadi seorang teman menelpon. Ah, rupanya teman semasa SMA. Seperti layaknya percakapan diantara teman lama, kami saling menanyakan kabar masing-masing. Rupanya dia tinggal di benua Amerika. Bekerja di sana, di salah satu perusahaan Nasional milik slah satu negara maju. Dengan gaji yang besar tentu saja.

Percakapan kemudian bergeser soal kapan dia akan pulang. Betapa terkejutnya saya, ketika dia mengatakan bahwa dia tidak tahu, sebab dia sudah memiliki kewarganegaraan di sana.

Saya tidak menanyakan motif ia pindah kewarganegaraan. Mungkin ia lebih kerasan di sana. dia lebih jauh. Saya hanya heran, bahwa ternyata ia sudah tak mau lagi menjadi warga negara Indonesia. Padahal, ia belajar di Indonesia dari SD hinnga SMA, lalu melanjutkan hingga perguruan tinggi di luar negri dengan mendapatkan bea siswa. Ia sempat bekerja di Indonesia, dan menurutnya, sudah cukup ia bekerja di sebuah BUMN Indonesia untuk memenuhi kewajiban Ikatan Dinas.

Saya amat menyayangkan keputusannya. Sebab, walaupun masa Ikatan Dinas sudah selesai, ia sama sekali tak akan bisa mengembalikan semua yang sudah diberikan Ibu Pertiwi kepadanya. Apa ia bisa mengembalikan semua ilmu dan pengetahuan yang ia dapat ketika bersekolah dari SD hingga SMA? Ilmu itu tak akan hilang. Ia juga tak akan bisa mengembalikan semua pengetahuan dan pengalaman yang ia dapat saat berada di Indonesia. Belum lagi kalau membicarakan soal dukungan hidup dari Tanah dan Air Ibu Pertiwi.

Maka, sangat tidak pantas kalau ia tak mau lagi menjadi warga negara Indonesia seraya berucap semua yang ia dapatkan dari tanah air sudah dikembalikan. Ia masih punya hutang yang tak akan pernah sanggup untuk dilunasi.