Showing posts with label Penelusuran. Show all posts
Showing posts with label Penelusuran. Show all posts

Wednesday, May 06, 2009

Suryakencana, Apa Adanya

Aku kembali masuk tenda untuk tidur. Di luar memang masih gelap, dengan bintang-bintang tampak begitu dekat. Berkilauan, seperti mengejap pada mata yang masih terasa berat. Pagi itu Alun-alun Suryakencana menawarkan keheningan yang utuh. Menuntunku ke dalam dunia yang asing. Tentu saja asing bagi diriku yang tiap hari berkutat di kesibukan kerja di kota yang bising. Udara dingin langsung menyeruak masuk ke dalam tenda saat pintunya terbuka. Membuat siapa saja akan dihinggapi rasa malas untuk meninggalkan kenyamanan dalam lelap. Tapi ada kewajiban yang tak bisa ditunda dan telah memaksaku keluar tenda.

Tanggal 2 - 3 Mei 2009, aku kembali melakukan perjalanan dengan Astacala. "Hanya" ke gunung Gede, memang. Tempat yang telah aku sambangi entah berapa kali sejak tahun 1988. Tapi tetap saja ini sebuah gunung, yang merupakan bagian dari alam. Gunung dengan hutan, tanjakan, lembah, dan misteri yang tak pernah lepas dari tubuhnya. Kita bisa saja mengatakan sudah mendaki gunung ratusan kali. Namun tetap saja, saat melakukan pendakian, kita tak pernah bisa tahu dengan persis, apa yang ada di dalam kepekatan rimba. Kita tak mampu menebak dengan pasti apa yang menanti di akhir setiap tanjakan; di balik setiap tikungan; atau di sela batang-batang pepohonan, karena kita memang bukan apa-apa di hadapan alam.

Aku jadi teringat lagi dengan kata-kata Aconk di awal pendakian, bahwa dia belum lahir ketika aku pertama kali ke gunung Gede ini. Umur kami terpaut belasan tahun. Lebih dari satu dekade. Tapi tetap saja ini sebuah gunung, yang merupakan bagian dari alam. Alam tak pernah membedakan usia. Ia akan memberikan perlakuan yang sama, tak peduli apakah umur kita 21 tahun, 37 tahun, atau 71 tahun (Himawan Tedjomulyono lahir di Temanggung 12 September 1936, tercatat di MURI sebagai Pendaki Gunung tertua, 71 Tahun 3 Bulan saat mendaki Gunung Rinjani). Umur dan pengalaman akan sia-sia jika hanya untuk memanggul kesombongan menghadapi alam. Alam tetaplah sebuah misteri yang harus disikapi dengan jujur, termasuk kejujuran menyusun niat saat mencoba mengakrabinya.

Lalu apa tujuanku ikut mendaki gunung Gede kali ini? Sekedar hunting foto? Melemaskan otot-otot yang sudah kaku, mencoba lebih dekat lagi dalam mengenal adik-adik di Astacala, atau ada niat-niat lain? Apapun itu, kita sama sekali tak bisa berbohong kepada alam. Ia akan memberi apa yang kita niatkan. Kalau hanya sekadar jalan-jalan menikmati pemandangan alam, maka alam akan menyuguhkan keindahan yang memang kita inginkan. Karena alam selalu jujur dan tak pernah menyembunyikan apapun. Apa adanya.

Mungkin kondisi apa adanya itulah yang seringkali membuat manusia goyah. Sering manusia menipu diri sendiri, berusaha tampil dengan kondisi tertentu meski harus bersolek dan menutupi kekurangan. Padahal, itu beban yang akan memberatkan seumur hidup. Akibatnya, kepalsuan yang telah dipilih harus selalu dijaga dengan segenap kemampuan. Energi yang harusnya bisa dipakai untuk kegiatan yang lebih positif, malah habis dipakai untuk menambal kepalsuan-kepalsuan agar selalu utuh dan terlihat baik.

Di antara keindahan alun-alun Surya Kencana
yang batasnya memagar jiwa,
kepalsuanpun kehilangan makna.

Maka keindahan alam akan mengajarkan pada setiap manusia, bahwa 'apa adanya' adalah sebuah keindahan. Berkali-kali perjalanan, ratusan kilometer lintasan yang akui jalanai bersama Astacala, semakin mengukuhkan keyakinan tadi. Ingin rasanya berbagi dengan teman-teman yang dulu sering bermain bersama di alam ini. Mereka pasti punya pelajaran lain yang diserap dari alam dan mungkin bisa sama-sama bertukar pikiran dan membagi pengetahuan. Tapi di dalam tenda ini, sebelah kiriku adalah Petong, dan di kanan Aconk, yang kebetulan baru kali ini aku merasakan perjalanan bersama mereka. Di tenda lain ada Somad, Singo, Rifki, Adek, Gimbal, dan Astaka. Bukan Gepeng, bukan Ewok bukan Isnanto, atau Irphan, yang dulu sering menemaniku berguru di alam dan terjebak dalam limpahan keindahan dan Rahmatnya.

Pada akhirnya, Surya Kencana hanyalah alun-alun, yang keindahannya hanya sebingkai gambar
atau menjadi semacam guru yang tak pernah kehabisan ilmu untuk ditebar. Sama seperti tempat-tempat lain di bumi ini. Sama seperti indahnya tempat pelelangan ikan, atau lapak-lapak tempat pemulung menukarkan ratusan gelas plastik bekas menjadi beberapa bilangan rupiah. Semua bisa menjadi indah, manakala hati kita terbuka menerima keindahannya, dan menyerapnya menjadi sesuatu yang berguna bagi kita semua.

Tuesday, August 28, 2007

Ngadem


Data Teknis:
Tukang Foto: Gepeng - Astacala, STT Telkom
Lokasi: Bantaran Caringin - Sungai Citarum
Kamera: Canon AE-1 "The Legend"
Film: Kodak Pro Image ISO 100
Diafragma: 8, Speed: 1/125, Filter: UV


Kalau kepala lagi panas dan tak mungkin menjawab Hawa nafsu kayak orang nggak waras, maka paling enak ngadem sambil main air dan perahu kayak di atas.

Wednesday, May 23, 2007

Sanggabuana, Ciremai, Jawa barat


Jam empat pagi aku sudah berdiri di sini. Sanggabuana, begitu orang-orang menyebutnya. Jaraknya sekitar tigapuluh menit menjelang puncak Ciremai. Sebuah tempat yang relatif datar meski tak terlalu luas. Seolah disediakan untuk menjadi teras bagi tempat istirahat pendaki di tengah terjalnya jalur pendakian menuju puncak gunung Ciremai. Meski tak luas, tapi masih cukup untuk mendirikan tenda kapasitas empat orang. Di sekitar, semak Cantigi dan Edelweis Jawa (Anaphalis javanica) rapat memagar.

Beberapa orang sudah bergerak menuju puncak. Lainnya masih ada dalam perjalanan menuju tempatku berdiri. Tapi sebentar lagi pagi, dan mereka mungkin akan terus menuju puncak untuk merasakan sensasi matahari terbit di sana. Jarang sekali yang sengaja berdiri di sini, di sanggabuana, untuk menunggu matahari terbit. Kebanyakan orang akan lebih senang melihatnya di puncak. Kecuali terpaksa, entah karena tak bisa mencapai puncak sebelum matahari terbit, atau memang tak kuat lagi melanjutkan pendakian ke sana.

"Berger?" tanya itu mengajakku bergerak ke puncak. Aku hanya menggeleng. Maka kawanku itu berlalu perlahan. Tapak-tapaknya diiringi debu-debu yang beterbangan. Dalam kegelapan dini hari, tubuhnya seolah bayang-bayang hitam yang sedang membelah tipisnya udara di ketinggian tempat ini. Bayangan yang tampak makin jauh dan tinggi, pertanda lereng sudah mulai dirambah dan undakan telah mulai didaki.

Lalu yang lain segera menyusul, melewatiku yang masih berdiri di tepi jalan setapak yang menghadap langsung ke jurang. Ajakan dan teguran kutanggapi seadanya saja. Biarlah aku diam di sini, di Sangga buwana yang sepi. Mungkin akan ke puncak dan bibir kawah setelah agak terang nanti.Lagipula aku sudah beberapa kali menjejakkan kaki di puncak Ciremai dan menyaksikan kelahiran hari baru di sana. Saat ini aku ingin merasakan sensasi melihat terbitnya matahari dari Sanggabuana. Senter telah lama kumatikan. Aku duduk di tepi jurang, menatap lurus ke arah Timur. Suara angin terdengar memainkan daun-daun, mengajaknya menari menyambut matahari, barangkali. Dalam gelap dan sepi begini, suara-suara alam terdengar lain dari yang biasanya, terdengar lebih kaya dan menyusup dalam jiwa.

Memang, aku sengaja memilih tempat ini untuk mengintip matahari terbit. Pemandangannya lebih dramatis, setidaknya menurutku, karena ada sebuah pohon yang tumbuh menyendiri dan tampak menonjol di area ini. Keberadaannya bisa menjadi bingkai alami saat Kau membuat foto. Sedangkan di puncak, meski dengan pandangan yang lebih luas, sulit sekali mencari subjek pengiring bagi matahari kemerahan yang sedang terbit. Tentu pemandangannya tetap indah. Ah, tapi apakah keindahan itu? Sesuatu yang membuat hati senang saat kita melihatnya? Ataukah sesuatu yang bisa diabadikan dalam foto lalu mengisi daftar stock foto yang bisa dijual atau disewakan lalu uangnya dihabiskan untuk memuaskan hasrat diri akan kesenangan? Ataukah sesuatu yang bisa dikenang bersamamu, ketika hari-hari sibuk seolah tak memberi kesempatan bagi kita untuk sekadar merenungkan kebesaran sang Pencipta dan mengingatkan kita lagi bahwa kelak segalanya akan kembali padaNya?

Sekarang cahaya di cakrawala Timur yang gelap mulai berubah warna. Semula biru gelap, seperti warna pakaian satpam di Blok M Mall Jakarta. Lalu biru gelap tadi seolah naik ke atas, berganti ungu, lalu merah, dan menjadi jingga terang. Ah, Kaukah itu, yang menitipkan senyum pada mentari, merajut tirai jingga di jendela langit pagi, ketika angin merangkai udara, dan resah membingkai rasa.

Atraksi memukau itu kunikmati sendiri, di tengah sepi yang mengepung dan semak cantigi yang mengurung. Bola api raksasa bernama matahari itu terus bergeser, menguak kegelapan diantara bayangan gunung Slamet yang bagaikan lipatan roti tawar persegi di atas cake besar bernama bumi. Itu matahari yang sama seperti yang terbenam petang kemarin. Bukankah begitu? Meski kita tak tahu, apakah itu benar-benar matahari yang kemarin. Mungkinkah ketika malam, matahari itu bertukar tempat dengan matahari yang lain, lalu pagi ini matahari yang terbit bukanlah matahari yang terbenam kemarin? Tapi tidak, itu memang matahari yang kemarin terbenam. Dan ia akan terbenam lagi sore nanti, utnuk terbit lagi esok pagi. Begitu seterusnya. Berapa lamakah kita harus hidup, untuk memahami betapa masa selalu berganti dan manusia hanya sekadar kilasan dalam lintasan waktu yang amat panjang? Sejarah manusia tak lebih tua dari debu yang mengotori sepatu, tapi seringkali manusia berpolah seolah-olah ialah yang paling berkuasa di alam raya ini. Padahal sejarah cantigi merah hijau lebih punya arti dalam masa dibandingkan umur manusia yang tak sebebrapa ini. Apalagi dibandingkan dengan matahari.

Kini tanah mulai terang. Daun-daun cantigi yang semula terlihat serupa semua di dalam gelap, kini mulai jelas perbedaan warnanya: hijau, kuning, dan merah. Lapisan kapas putih bunga-bunga Edelweis Jawa mulai tampak, menyelimuti batang-batang kecoklatannya. Rumput-rumput dan ujung daun-daun mulai berkilauan, melahirkan pantulan cahaya matahari yang lahir dari rahim ribuan embun. Ah, kapankah embun itu singgah di pucuk-pucuk dedaunan itu? Pasti dia tiba diam-diam di tengah malam, mengajarkan pada semua manusia yang melihatnya bahwa sebagai bagian dari alam, dia tak melakukan apa-apa selain menjalankan apa yang sudah digariskan alam.

Dan seperti juga di puncak argopuro, maka di sini
di ketinggian tempat ini
aku hanyalah sebutir embun
yang sedang mencari
setangkai puisi.

Tapi dalam hidup ini, apakah puisi itu? Barangkali hidup kita inilah puisi itu sendiri, yang hanya setangkai dibandingkan pohon besar peradaban manusia. Hidup yang hanya seranting dalam taman besar ciptaan tuhan. Hidup yang tak akan menjadi puisi, ketika kita tak mampu menyadari asal-usul kita sendiri.

Allahu'alam

Tuesday, May 01, 2007

Sabang, Pulau Weh

Postingan berikut ini untuk memenuhi permintaan mbak W (dah lama nggak liat senyummu...). maaf ya, nggak bisa banyak-banyak, soale darurat sih. Lagipula, foto-fotonya nggak layak tampil.

Ini foto sunset di salah satu pantai di Sabang:
Yang ini, kapal cepat Baruna Duta 3 (yang pertama dan keduanya mana ya?):

Ini pelabuhan Balohan, Kota Sabang:
Ini diambil dari mobil, ketika menyusuri jalan di tepi pantai:
Ini salah satu sudut dari pantai Gapang:
.

Monday, April 02, 2007

sampah


Ini terjadi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Teman-teman dari salah satu organisasi Pecinta Alam bermaksud mendaki gunung Semeru. Di awal perjalanan, petugas dari PHPA (Perlindungan Hutan Pelestarian Alam) di pos Jagawana sudah mengingatkan agar menjaga kebersihan di dalam kawasan Taman Nasional. Selesai dengar formalitas urusan administrasi, rombongan pun memulai perjalanan.

Sepanjang perjalanan selalu ditemui papan petunjuk arah yang disertai dengan peringatan untuk menjaga kebersihan. Bentuknya bermacam-macam, ada yang terbuat dari seng, ada juga yang berupa papan kayu. Uniknya, ada beberapa papan peringatan atau papan petunjuk jalan yang dibuat oleh organisasi-organisasi di luar instansi Departemen Kehutanan. Ini ditandai dengan label nama dari organisasi yang besangkutan. Misalnya saja seperti ini:

Iya, jadi peringatannya kecil saja, sedangkan identitasnya besar. Entah apa maksudnya. Ada juga papan-papan petunjuk yang mungkin maksudnya membantu, tapi terkadang malah bikin frustasi semacam ini:


Papan petunjuk itu memang membantu, tapi sebatas menunjukkan arah saja. Sedangkan tulisan 20 km-nya membuat yang membaca jadi agak frustasi. "Wah, 20 km!? Jauh amat sih, perasaan jalan udah jauh," biasanya seperti itu gerutuan yang keluar.

Perjalanan lancar saja. Semua berhasil menjejakkan kaki di puncak Semeru. Tak lupa, sesuai petunjuk dan himbauan, semua sampah dibawa, tidak ditinggalkan, apalagi dibuang di sembarang tempat. Ketika tiba Ranu Kumbolo, rombongan membuka tenda dekat dengan pondok yang ada di sana. Tak jauh dari situ, ada sebuah bak sampah yang terbuat dari tembok bata. Cukup besar ukurannya, dan tampak sedang digunakan untuk membakar sampah di sana.

Karena sampah yang dibawa rombongan cukup banyak, kurang lebih satu karung yang dibawa menggunakan trashbag besar ukuran 50 cm x 100 cm, maka rombongan memutuskan untuk membakar saja sampah-sampah itu di sana. Maksudnya supaya praktis saja, toh mereka tidak mengotori Taman Nasional. Lagi pula, tempat sampah besar itu tampaknya disediakan oleh pihak Taman Nasional. Selesai? Ternyata tidak. Saat tiba kembali di pos jagawana, petugas menanyakan sampah-sampah milik rombongan. "Lho, sudah dibakar, Pak. Di Bak sampah besar yang ada di Ranu Kumbolo," jawab seorang anggota rombongan.
"Tidak ada tempat sampah di sana," jawab petugas.
"Ada pak. Kami tidak membuang sampah sembarangan. Bahkan di sepanjang jalan pun, kami memungut sampah yang berserakan. Memang tidak kami bawa ke sini, karena di Ranu Kumbolo sudah ada bak sampah yang bisa dipakai. "
Tapi petugas tak percaya. Dia tetap menganggap bahwa rombongan meninggalkan sampah-sampah di atas gunung, dan tidak mengikuti anjuran agar sampah tidak dibuang sembarangan. Dia bahkan mengancam rombongan untuk dipaksa kembali naik ke atas gunung dan membawa turun sampah-sampah yang ditinggalkan.

Setelah berunding sebentar, rombongan memutuskan untuk mengumpulkan sampah-sampah yang ada di sekitar pos jagawana. Juga botol-botol air mineral yang ada di dalam ransel, dikeluarkan. Isinya diminum, glegek-glegek, lalu botolnya dikumpulkan dalam trashbag. Lima menit kemudian, trashbag itu terlihat menggembung. Lalu diserahkan kepada petugas. Selamat? Iya, ternyata itu bisa dilakukan, walaupun petugas juga tahu bahwa sampah-sampah tadi adalah hasil pengumpulan di sekitar pos. Dan petugaspun tidak lagi galak seperti sebelumnya, dia sepertinya merasa sudah menjalankan tugasnya dengan baik: meminta sampah pada rombongan pendaki yang turun. Setelah sampah sudah diterima (dari mana pun asalnya) maka habislah perkara, para pendaki akan dipersilahkan lewat.

Itu tadi kasus di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Berbeda lagi kalau kita pergi ke tempat fasilitas umum, terlebih obyek wisata semacam Kebun Binatang atau Taman Hiburan seperti Taman Mini Indonesia Indah maupun Taman Impian Jaya Ancol. Di tempat seperti itu, selalu ditemui anjuran untuk memelihara atau menjaga kebersihan. Peringatan berupa gambar tempel atau tulisan di atas papan berisi himbauan "Jagalah Kebersihan" atau "Buanglah Sampah Pada Tempatnya" akan sering kita jumpai, berdampingan dengan bak atau tempat sampah.

Namun berdasarkan pengalaman, jika kita tak menindahkan anjuran atau himbauan itu, tidak akan ada sanksi hukum, meskipun (di wilayah DKI Jakarta) undang-undang yang mengatur soal membuang sampah sudah ada. Dan ancaman bagi pelanggar Perda no. 1 Tahun 2005 itu cukup menyeramkan, karena bisa dihukum kurungan maksimal empat bulan penjara, atau denda hingga 50 juta rupiah. Tapi jarang sekali sanksi itu ditegakkan. Paling-paling kalau Anda membuang sampah sembarangan, hanya akan ada orang yang memandang sinis, atau memungut sampah yang Anda buang tadi untuk diletakkan di tempat sampah.

Satu pertanyaan terselip, "Apakah interaksi orang Indonesia dengan peraturan hanya sebatas pada tahap pembuatannya saja, dan tidak sampai pada implementasi penegakkan aturan tersebut?" Postingan ini tidak bermaksud menunjuk pihak mana yang kurang disiplin. Ini hanya renungan saja. Mungkin perlu perumusan peraturan yang lebih baik dan sesuai dengan karakteristik orang Indonesia sendiri.

Friday, February 23, 2007

Gunung Semeru, Jawa Timur (3)


Sepuluh meter di hadapan tampaknya merupakan tempat paling tinggi yang bisa terlihat. Wah, sedikit lagi puncak. Langkah kakipun dipercepat. hati diliputi semangat. Tapi setelah melangkah sepuluh meter, nyatalah bahwa sepuluh meter di depan, masih ada tempat yang lebih tinggi lagi. Tampaknya tempat itulah yang menjadi tempat paling tinggi. Begitu seterusnya, sampai hal itu tak lagi terpikirkan, sampai aku sendiri malas untuk memikirkan. Biarlah, mau sepuluh meter lagi, atau sejuta meter lagi, aku tak peduli. Aku akan terus melangkah, melangkah, hingga hilang pedih peri (ditulis dengan ingatan kepada puisi Aku karya Cahiril Anwar).


Sesuai rencana, kami terjaga pukul 01.00 dini hari. Angin di luar tenda membuat pohon-pohon seolah berbisik, dan udara terasa dingin.

Segera kami siapkan diri. Sleeping bag digulung rapi. Sarapan disiapkan, meski hari belum pagi. Apa menu kali ini? Nasi sisa malam masih ada, dan kami menyantapnya dengan siraman mie rebus yang hangat. Tak ketinggalan Cereal untuk menambah energi. Perbekalan pun sudah siap dalam day pack. Ada dua minuman kaleng, larutan air asem, biskuit, kamera, survival kit, bendera, senter, dan barang-barang lain yang sekiranya diperlukan nanti.

Selesai sarapan dan merapikan tenda, kami mulai melangkah diantara cemara-cemara yang tumbuh di atas tanah berpasir. Melewati beberapa nisan untuk mengenang pendaki-pendaki yang pernah menemui ajalnya di sini, juga tenda-tenda pendaki lain yang tampaknya sedang mempersiapkan diri juga.

Sepuluh menit kemudian, kawasan berpasir yang lapang terhampar di hadapan. Tidak ada tumbuh-tumbuhan lagi di kiri kanan jalan. Hanya bidang miring yang menunggu untuk dijejaki. Dengan kemiringan lebih dari tigapuluh derajat, bahkan mungkin sampai empatpuluh lima derajat. Langit sangat cerah, sehingga tanpa alat bantu penerangan semacam senterpun, jalan tetap terlihat. Suara nafas yang memburu beradu dengan langkah kaki-kaki yang segera diliputi debu.

Tak ada yang berubah di sepanjang jalan ini. Masih sama seperti yang aku lewati beberapa tahun yang lalu. Sepi. Hanya terdengar deru nafas saja. Sebenarnya aku pergi berempat, tapi di jalan ini, kami terpisah. Aku berdua saja, bersama Lilis yang tampaknya cukup terkejut dengan medan mendaki yang harus dihadapi. Beberapa kali ia berhenti. Tangannya diletakkan di tanah berpasir di hadapannya. Tubuhnya membungkuk, dan dari suaranya, ia tampaknya berusaha mengatur nafas.

Medan menuju puncak Semeru ini memang unik. Berbatu dan berpasir. Sangat berpasir. Beberapa teman berkomentar, "Jalan satu langkah, merosot lagi dua langkah." Agak berlebihan memang, karena kalau seperti itu, berarti kita akan mundur, tidak maju-maju. Tapi kondisi jalannya memang menantang. Tak mudah menjejakkan kaki dengan mantap. Kalau diam berdiri, kemungkinan besar kita akan turun pelan-pelan karena pasirnya tak cukup kuat untuk menahan agar kita tetap berada di tempat semula. Tapi kalau kita cukup bugar, puncak Semeru akan bisa dicapai dari batas vegetasi dalam waktu 3 - 4 jam. Sebaliknya, perjalanan turun akan lebih mudah, meskipun harus ekstra hati-hati. Waktu yang dibutuhkan untuk turun tak akan lebih dari satu jam! Tapi pagi ini, aku harus mengiringi Lilis, agar ia tak ketinggalan. Aku tak berani meninggalkannya berjalan sendirian. Bisa-bisa ia balik kanan. Bayangkan saja, di suatu tempat bernama Cemoro Tunggal (ditandai dengan adanya sebatang pohon cemara yang tumbuh di tengah lintasan), ia sudah bertanya, "Kak, masih jauh nggak?" Padahal kalau diukur, itu baru sepuluh persen perjalanan. Maka aku sadar bahwa aku sedang menghadapi tantangan yang lebih dari sekedar tantangan alam berupa medan menanjak dengan lintasan berpasir. Jauh dari itu, aku harus mampu menemani Lilis agar ia sampai di puncak. Agar semangatnya tak surut. Terus menerus mengingatkan dirinya bahwa ia mampu mencapai puncak. Bahwa manusia memang diciptakan dengan kemampuan yang lebih dari pada yang bisa ia sadari sendiri. Dan itu ternyata tak mudah.

Sepanjang perjalanan, aku sengaja mengajak Lilis bicara saat ia beristirahat. Maksudnya agar ia melupakan sulitnya perjalanan ini. Sangat lambat pergerakan kami berdua. Hampir setiap sepuluh langkah ia berhenti istirahat. Maka aku usul padanya agar berjalan terus selama sepuluh menit, lalu istirahat satu menit. Tapi ia tak menjawab. "Kok mau sih, mendaki Semeru susah-susah gini?" tanyaku mencoba memecah sepi. "Mau membuktikan sesuatu, ya?" Tapi dia masih diam. Entah kenapa. Mungkin ia tak mendengar suaraku.
"Kok diem aja ditanyain?"
Tiba-tiba ia menjawab dengan suara tinggi, "Jangan tanya-tanya dong. Nafas aja susah, gimana mau menjawab."

Astaga, ternyata ia memang kesulitan. Medan mendaki ini membuatnya harus mengoptimalkan kemampuan paru-parunya, sehingga tak ada ruang lagi untuk bicara. Apalagi bicara ngalor ngidul.

Begitulah, aku mencoba menikmati perjalanan ini. Satu menit berjalan lalu dua menit istirahat. Lilis tampaknya mulai menyadari sulitnya medan yang dihadapi. Maka ia pun mulai "bisa" bicara dan ngobrol selama istirahat. Lagipula, berdiam diri atau duduk istirahat terlalu lama akan membuat tubuh kita akan kedinginan. Segala hal kita bicarakan. Mulai maalah kuliah hingga keluarga. Mulai masalah dunia, hingga masalah akhirat.

Menurut prediksi semula, puncak Semeru akan bisa dicapai sebelum langi terang. Mungkin dua kawanku sudah ada di atas sana ketika matahai pelan-pelan mulai menebar tirai jingga di ufuk timur. Tapi dengan caraku dan Lilis berjalan, aku perkirakan akan sampai di puncak setelah pukul 08.00. Agak lama juga kami beristirahat saat subuh ini. Mencoba memahami cara alam yang sedang mengajarkan hal-hal luar biasa ini. Lihatlah ke timur sana, ketika langit yang menjelma dari gelap menjadi semburat jingga. Memerah dengan ujung tak terjangkau. Ada gumpalan awan yang menyuguhkan pemandangan fantastis. Memantulkan cahaya matahari, seolah-olah menjadi duta yang mengabarkan pada alam semesa, bahwa matahari akan segera tiba. Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Satu hal yang pasti, kami berdua terpesona. Takjub, dan juga heran, mengapa di alam yang keindahannya tak terkira ini, manusia bisa saling membunuh dengan cara dan alasan yang terkadang tak masuk akal, bahkan konyol. Betapa setelah alam begitu teduh dan damai, manusia masih saja saling bertikai.

Tentu saja aku juga sibuk menjepretkan kamera. mencoba merekam moment-moment rahasia yang hanya diketahui oleh mereka yang pernah mendaki gunung tinggi dan bersedia kedinginan di pagi buta. Rahasia kelahiran hari yang mungkin saja menjanjikan hal-hal positif setelah malam menyelimuti kita. Kami berdua melarutkan diri di tengah alam. Menafsirkan sendiri makna hadirnya cahaya terang yang membuat gelap terusir pergi. Barangkali impian kami tak sama. Barangkali isi hati kami juga jauh berbeda. Tapi di hadapan keindahan semesta ini, di tengah-tengah kesadaran penuh akan keterbatasan manusia dengan fisik lemahnya, kami menjalin bahasa yang sama meski tak berwujud aksara. Seolah kesadaran metafisis kami yang bercakap-cakap dalam bahasa yang seragam. Bahasa keindahan.

"Ayo jalan lagi," ajakku setelah hampir tigapuluh menit istirahat. Maka kami kembali menapaki medan mendaki ini. Masih dengan irama yang sama, pelan tapi pasti. Namun kali ini dengan kesadaran yang berbeda. Lebih menyadari arti hadir kami dalam hidup ini. Menyadari bahwa perjalan penuh kesulitan ini bisa menjadi sarana belajar yang sangat efektif sebagai bekal dalam "kehidupan nyata" kami. Tentu saja tiap kali berhenti istirahat, aku masih sibuk membuka pembicaraan. Mencoba terus memanaskan hatinya agar tetap semangat. Meskipun tampaknya Lilis sudah sangat kelelahan. Wajahnya mulai tampak bosan.

"Udah deh, Kakak duluan. Aku mau istirahat dulu," ujarnya setelah dia terduduk dan aku tak juga mampu membuatnya bangkit untuk berjalan lagi.
"Nggak mau. Kalau kamu nggak jalan, aku juga nggak akan jalan," jawabku.
"Ya udah, jangan nyuruh-nyuruh elist buat jalan, kalau begitu."
Aku tak menjawab, karena sesungguhnya aku memintanya berjalan agak cepat karena khawatir. Aku khawatir jika kami tiba di puncak terlalu siang. Bahaya, karena arah angin akan mengarah ke utara - barat. Membawa gas yang konon pernah membunuh Soe Hok Gie di ketinggian sana. Aku tak mau hal itu terjadi pada kami. Aku sendiri cukup yakin, kalau Lilis akan mampu ke puncak. Masalahnya, jam berapa ia akan tiba? Sangat tidak enak kalau dia hanya beberapa langkah menjelang puncak, lalu disuruh berbalik turun karena hari terlanjur siang. Itu sebabnya aku berusaha membujuknya agar mengurangi waktu istirahat dan menambah pergerakan.

"Ayo, deh. Dikit lagi nih," bujukku.
"Ugh," jawabnya sambil berdiri dan menghadap ke arah puncak. Kakinya dilangkahkan dengan cepat. Ah, ini dia. Kami akan segera tiba. Semeru, here we come...

Tapi baru sepuluh meter, dia berhenti lagi dan membalikkan badan. Duduk lagi. Menghadap pemandangan di bawah yang memang mampu membuat pikiran segar dan melupakan kelelahan. Gunung Gupolo, yang kemarin siang tampak begitu tinggi, ternyata sudah terlewati puncaknya. Tampak sangat kecil dan "tidak ada apa-apanya" dibandingkan Semeru ini.

"Aduh, kenapa berhenti lagi," keluhku.
"Ya udah, nggak usah nungguin. Jalan aja sana. Cepetan!" katanya memberengut. Tampangnya tampak sebal, tangannya dikibaskan mengusirku.
"Hehehe," jawabku sambil nyengir.
"Lagian ngapain sih pake nunggu-nungu?" sengit.
"Dikit lagi nih."
"Biarin."
"Paling sepuluh meter."
"Sebel."
"Ayo jalan."

Begitulah sepanjang jalan. Aku membujuknya sebisaku. Aku tak pandai merayu, maka aku langsung saja mengajaknya dengan kata-kata, "Ayo jalan," atau "Dikit lagi sampe." Dan sepanjang jalan pula, Lilis menjawab dengan wajah jengkel. Tapi aku tak pernah bosan, karena inilah satu-satunya cara agar kami tak kesiangan.

Usaha kami berdua memang akhirnya berhasil. Segera setelah melewati jalan yang sempit, hampir seperti celah diantara batu-batu dan tanah berpasir, tibalah kami di kawasan puncak. Beberapa pendaki tampak sedang menikmati suasana di tempat tertinggi di tanah Jawa ini. Lilis sendiri, tanpa aku duga, langsung merebahkan dirinya. Membiarkan punggungnya beradu dengan punggung tertinggi Semeru. Wajahnya menyeringai menghadap langit. Ah, kenapa dia tak melonjak kegirangan, atau melangkah dengan riang dan ringan akrena telah berhasil mencapai puncak. Tampaknya, ia lebih bersyukur bahwa tubuhnya tak perlu lagi harus dipaksa mengatasi gravitasi dan menambah ketinggian. Kopet, (nama aslinya Rifki Abdul Hafid) hanya berkomentar pendek, "Abis bikin gudeg, ya! Kok lama amat?" yang segera dijawab Lilis dengan tampana masam. Aku lihat arloji, menunjukkan pukul 08.30. Jadi aku dan Lilis sudah berjalan bersama selama enam jam! Pantas saja kopet merasa bosan menunggu.

Setelah menghabiskan perbekalan dan berpose menghadap kamera, kami pun segera turun. Berbeda dengan saat mendaki, tantangan pada saat turun jug atak mudah: debu yang membuat mata perih dan nafas sesak. Kemiringan medan juga membuat kita seolah-olah terdorong ke bawah, sehingga membuat kaki terasa berat menahan tubuh jika berjalan pelan-pelan. Jarak dengan kawan di depan pun harus dijaga agar tak mendapat "limpahan debu" yang membuat wajah kita seperti disaput bedak.

Sebentar saja, kami sudah tiba di tenda. Masih aman, tak ada satu pun barang hilang. Tak berubah sejak thaun 1989, ketika aku kali pertama datang ke sini. Berbeda dengan Kerinci yang agak rawan, sebab kawan saya pernah kehilangan satu carrier bag penuh (ransel) ketika dia melakukan summit attack di Kerinci. Padahal, carriernya itu "bermerk" dengan harga yang lumayan mahal. Belum lagi Trangia dan perlengkapan pribadi lainnya. Kalau di Seeru ini, relatif aman. Tentu saja asalkan tidak kita letakkan barang-barang perlengkapan kita di tengah jalan yang akan mengesankan sebagai barang tak bertuan.

Hanya satu jam kami istirahat di tenda, karena kami harus mengejar waktu agar ssebelum malam sudah tiba di Ranu Kumbolo. Maka kami segera berkemas. Packing, dan segera berangkat lagi. Melewati Arcopodo, Kali Mati, Djambangan (atau Badjangan), Oro-oro Ombo, sebelum tiba di Danau yang mampu membuat siapapun yang melihatnya terikat rindu.

Wednesday, February 14, 2007

Gunung Semeru, Jawa Timur (2)


Ada sebuah anekdot. Konon, di Australia, sebuah majalah mengadakan kuis bagi pembacanya. Diajukanlah satu pertanyaan: "Apa yang Anda lakukan setelah bangun tidur?" Berbagai jawaban datang ke meja redaksi. Ada yang menjawab olah raga, mandi, sarapan, atau ke pasar. Tapi dari sekian jawaban yang masuk, ternyata jawaban yang membuat juri memilihnya sebagai juara adalah jawaban dari seorang pembaca berkebangsaan Indonesia. Mau tahu jawabannya? Dia menjawab dengan kalimat, "Hal yang saya lakukan setelah bangun dari tidur adalah istirahat."


Wah, luar biasa, bukan? Cerita itu teringat lagi saat aku terjaga lalu keluar tenda. Saat itu danau tertutup kabut. Suasananya sungguh indah, karena kabut itu melayang di atas permukaan danau. Semilir angin yang datang mengantarkan hawa yang luar biasa sejuk. Rasa sejuk yang berlebihan itu membuatku ingin kembali ke dalam kantung tidurku yang hangat. Ngapain? istirahat, tentu saja. Hehehe...

Tapi karena harus memenuhi panggilan alam (baca: buang hajat), aku memutuskan untuk tidak tidur lagi. Sebentar lagi pasti terang, dan kabut yang mengalun di atas danau akan tersaput angin, atau terusir oleh cahaya pagi. Maka aku menelusuri padang rumput yang basah. Mengusir butiran embun dari ujung-ujung daun dan bunga padang. Ini memang bagian paling aku suka dari perjalanan melintasi rimba belantara di Indonesia. Berjalan pelan melintasi padang rumput atau tepian hutan, mengamati alam yang mulai terjaga diiringi bunyi-bunyian khas aneka satwa yang juga mulai terjaga. Entah burung apa bertengger di cemara di atas kepalaku, tapi suaranya yang kecil dan riang membuat suasana hati menjadi senang.

Sekembalinya ke tenda, sarapan sedang dipersiapkan. Aroma kopi bubuk yang bertemu air panas menyeruak ke sekitar tenda. Dan aku mencium bau nasi yang sedang ditanak. Sebentar lagi sarapan akan siap. Kulihat lilis sedang meracik sesuatu di mangkuk kecil. Mungkin dia sedang menyiapkan telur dadar. Ah, betapa hidup itu sangat indah di tengah suasana alam yang memesona ini. Rasanya aneh juga membayangkan manusia bisa bertikai satu sama lain, padahal Sang Pencipta telah memberikan anugrah berupa bumi yang cantik dan memukau keindahannya ini.

Jam delapan tepat, kami bergerak menuju tanjakan mesra, yang menghubungkan danau Ranu Kumbolo dengan padang rumput Oro-Oro Ombo. Kenapa disebut tanjakan mesra? Entahlah, tapi tanjakan ini memang sangat menantang. Tak terlalu curam, tapi cukup panjang. Penduduk lokal akan dengan mudah melintasinya tanpa perlu berhenti untuk sekedar beristirahat dan menarik nafas. Tapi kebanyakan pendaki yang memanggul beban sekitar 25 kg di punggungnya, akan berhenti untuk menarik nafas dan mengatur langkah. Tak terkecuali aku. yang harus berhenti dua kali untuk meluruskan kaki dan melonggarkan dada dengan menghirupnya kuat-kuat. Tanjakan ini juga bisa terlihat di foto yang ada di bawah ini.

Setelah menyelesaikan tanjakan mesra, maka hamparan padang rumput luas segera menyambut. Dikelilingi bukit-bikit di kanan dan kirinya, padang ini terlihat begitu luas. Ada dua jalan, yaitu dengan langsung menuruni bukit tempat menyeberang dari Ranu Kumbolo, atau dengan menelusuri jalan setapak di lereng bukit di sebelah kiri. Tapi kedua jalan ini nantinya bertemu juga. Hanya saja, jalan di kiri lebih landai, karena turun perlahan-lahan. Aku menunggu agak lama sebelum turun ke padang ini. Supaya bisa mengambil foto ketika Lilis berjalan menyusuri jalan setapak di tengah lembah yang membelah padan grumput ini. Butuh waktu kurang lebih setengah jam untuk melintasi padang rumput ini. Kalau terlalu siang melintasinya, pasti akan kepanasan.

Selepas Oro-oro Ombo, hutan langsung menyergap dengan semak-semak yang tumbuh rapat meskipun pohon-pohonnya tak terlalu lebat. Jalan setapak memaksa ktia naik turun bukit dengan pemandangan yang tak anyak variasi. Di sepanjang perjalanan, banyak ciplukan yang tumbuh dan bisa dicicipi dengan aman.

Sekitar tengah hari, hutan dengan pohon-pohon tinggi tadi akan melepas kita dan tibalah kita di sebuah area yang sering disebut dengan nama Jambangan (di peta tertulis dengan nama Badjangan). Cukup luas dan datar, dengan pohon edelweis yang tumbuh mengelilinginya. Biasanya para pendaki akan istirahat di sini. Memang cukup nyaman berleha-leha sambil makan siang dan menikmati semilir angin. Apalagi pemandangannya memang menakjubkan, karena puncak Semeru yang berpasir sudah bisa terlihat dari sini. Kita bisa menikmati keindahannya saat menyemburkan gumpalan awan kelabu yang limpahannya akan mengarah ke selatan atau barat, tergantung arah angin yang berhembus. Di sini kita merasa seolah-olah sudah sangat dekat dengan ouncak dan sedang berada di tempat yang cukup tinggi. Kelak terbukti, dari puncak Semeru, area ini ternyata tidak terlalu tinggi.

Bebera apel manalagi kami santap sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kali Mati. Sebenarnya ke arah Barat pun ada jalan setapak. Konon mengarah ke sebuah mata air. Tapi aku sendiri belum pernah melintasinya. Kata teman-teman sih, lokasinya angker. Tapi menurutku, angkernya karena jalannya memang sulit dan jarang dilewati, sehingga agak tersamar dan mudah membuat orang tersesat bila tak waspada.

Mulai jalan ini, tanah yang kita injak sudah bercampur pasir. Sehingga akan membuat sepatu maupun celana kita tampak lusuh berdebu. Terlebih lagi jika ada yang berlari, maka debu-debu akansegera beterbangan dan memaksa kita menutup hidung dan mulut. Meskipun demikian, sepanjang jalan kita akan disuguhi dengan pemandangan indah. Jalan menuju Kali Mati adalah lintasan berupa lembah yang diapit oleh dua bukit besar. Di sebelah kanan kita adalah Arcopodo, yang berujung di puncak Mahameru. Sedankan sebelah kiri adalah gunung Badjangan. Jalur sepanjang kurang lebih dua kilometer ini akan mengantar kita ke sebuah pertigaan dengan salah satu jalannya berupa bekas sebuah sungai yang berbatu-batu. Inilah Kali Mati dan kita akan segera mendaki lagi, melintasi hutan hingga batas vegetasi. Lalu jalan satunya ke mana? Entahlah, aku sendiri belum pernah melewati pertigaan ini dengan mengambil jalan lurus ke Timur yang tampaknya menurun itu. Tapi sepintas bisa kulihat bahwa jalan itu mengarah ke hutan di punggungan yang curam.

Tahap berikutnya adalah melalui Arcopodo. Jalan berbatu dan mendaki. Sungguh tak enak jalan di sini. Di sebelah kiri kita adalah jurang dengan lebar 15 meter dan kedalaman bervariasi mulai 5 hingga 20 meter. Terlihat indah memang, tapi itu adalah jalur batu yang di masa lalu tampaknya sering terjadi longsor. Atau menjadi lintasan aliran lahar?

Pohon-pohon mulai jarang di sini, dan didominasi oleh jenis cemara. Debu masih beterbangan setiap kali kaki melangkah. Ini membuat dahaga lekas mampir di kerongkongan (atau tenggorokan? apa bedanya sih?). Seharusnya sebelum gelap kita sudah sampai di batas vegetasi. Sebab akan sulit mencari tempat berkemah di sana. Tapi kondisi Lilis yang tampaknya kepayahan cukup sulit untuk diajak berpacu mengejar waktu. Maka aku menemaninya berjalan di belakang sementara yang lain bergerak cepat mencari lokasi camping. (sebenarnya aku sendiri agak payah kalau harus berlari, hehehe...). Oh iya, kalau sedang musim pendakian, area camping akan jadi rebutan. Semua ingin posisi yang pas di dekat batas vegetasi. Tidak terlalu jauh, agar summit attack tak terlalu lama, tapi juga tak terlalu dekat, menghindari angin dingin di area terbuka. Makanya harus cepat-cepat mendapatkannya.

Nah, hari sudah gelap, ketika aku dan Lilis pelan-pelan berjalan menyusul dua kawan kami. Ada juga pendaki yang sudha membuka tenda meski masih jauh dari batas vegetasi. Sepi, mungkin sudah sejak siang tadi mereka tiba dan sekarang sedang istirahat mengumpulkan tenaga untuk esok hari. Di sebelah Barat langit masih menyisakan warna tembaga. Matahari telah lama pergi, dan aku terpesona lagi. Sungguh menakjubkan melihat senja dari sela-sela pohon cemara dan semak yang tumbuh mengitari.

Sekitar pukul tujuh, aku sudah ada di lokasi camping. Tidak terlalu dekat dengan batas hutan, karena di sana sudah ramai dihuni beberapa rombongan pendaki. Tapi juga tak terlalu jauh, sehingga kami perkirakan bahwa pendakian ke puncak tinggal sekitar 3 hingga 4 jam lagi. Tenda sudah berdiri, dan aku sudah lapar lagi. Malam ini tak banyak kegiatan yang dilakukan selain masak dan makan malam. Selesai mengisi perut, kami segera memasuki kantung tidur. Tak lupa jam weker diatur agar bisa terjaga sekitar pukul satu dini hari. Karena kantung tidur yang dibawa Lilis tak sesuai dengan ukuran tubuhnya, maka aku bertukar tempat dengannya. Aku menggunakan kantung tidurnya, dan sebaliknya. Kebetulan kantung tidurku cukup sesuai dengan ukuran tubuhnya. (sekarang kantung tidur merk verdon berwarna biru dengan lapisan dalam oranye ( orange ) itu sudah dihibahkan untuk sekretariat Astacala ). Sempat juga bercanda meledek cewek satu-satunya di rombongan kami ini. Dia sempat mengatakan bahwa ini mungkin pendakian terakhirnya. Setelah ini, dia akan menjadi perempuan "normal" yang tinggal diam di rumah dan tidak melakukan hal-hal yang ke-tomboy-tomboyan lagi. Ah, apa harus seperti itu? Menjadi perempuan (muslimah) yang baik buka berarti harus diam saja di rumah 'kan? Atau dilarang melakukan aktivitas outdoor sport seperti mendaki gunung, 'kan? Lagipula, pakaian seorang muslimah yang baik tak seharusnya jadi penghalang aktifitas. Bukan begitu? Waktu menunjukkan pukul sembilan, tapi udara tak lagi sedingin kemarin malam. Hangat dan suasana ceria. Besok pagi, insya Allah kami akan segera menjejakkan kaki di tempat tertinggi di tanah Jawa ini.

bersambung.....

Wednesday, January 31, 2007

Gunung Semeru, Jawa Timur

Rencana untuk buka tenda sebelum gelap terpaksa berubah. Kami masih berada di tengah hutan ketika malam pelan-pelan menurunkan tirainya. Sementara lokasi yang direncanakan masih belum tampak. Padahal lokasi itu semestinya akan terlihat dari jalan setapak di lereng bukit di atasnya, jalan yang belum juga kami jejaki. Itu artinya, lokasi itu masih berada satu kilometer lebih dari posisi kami saat ini.

Warna langit mulai redup. Temaram, meski tak harus berarti muram (aku jadi teringat dengan chairil anwar: ada juga kepak elang menyinggung muram...). Tentu saja kondisi ini telah kami antisipasi, karena kami semua membawa lampu senter. Maka sorot lampunya segera berkelebatan dari tangan kami. Hanya Lilis saja yang senternya agak bermasalah. Terkadang redup, bahkan padam sama sekali. Aku menawarkan padanya untuk bertukar senter. Semula dia menolak, tapi ketika beberapa kali kakinya terperosok dan lututnya menumbuk akar pohon yang menonjol, dia pun setuju. Beriringan kami berempat berjalan menyusuri jalan yang dikepung hutan dan semak. Cuaca sebenarnya cerah, langit bersih tanpa awan hingga gemerlap bintang tampak jelas. Mereka berkilauan, seolah menawarkan keindahan abadi dari kejauhan. Hanya saja bulan belum kelihatan, sehingga cahaya magisnya tak berperan dalam pergerakan malam ini.

Sebenarnya pagi-pagi kami sudah meninggalkan kota Malang. Pukul tujuh pagi kami sudah selesai packing. Sarapan pagi kami beli di warung dekat kampus untuk kami santap sesampainya di Tumpang. Dari terminal Arjosari, kami menumpang angkot berwarna putih tujuan Tumpang. Tampaknya awak angkot sudah terbiasa melayani penumpang backpackers macam kami ini. Terbukti, ketika kami mendekati angkot, kernet dengan sigap menawarkan tenaganya. "Mau ke Semeru ya, Mas? Mari, tasnya saya bawakan. Biar bisa langsung diatur di atas mobil," ujarnya cepat. Segera saja ransel-ransel berpindah dari punggung kami ke atas kap angkot dan kami masuk ke dalam angkot. Karena tujuan kami paling jauh, maka kami merapatkan diri ke pojok. Tapi ternyata penumpang tak banyak. Angkot belum lagi penuh ketika supir mulai menjalankan kendaraannya. Mungkin lebih banyak penumpang yang akan diambil sepanjang jalan yang dilewati.

Sepanjang perjalanan Arjosari - Tumpang yang menghabiskan waktu satu jam, kami tak banyak bicara. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah apa saja yang ada dalam benak rekan seperjalananku. Mungkin mereka membayangkan senja yang turun pelan-pelan di tepi danau Ranu Kumbolo yang dikepung bukit-bukit dan padang rumput. Atau membayangkan hawa dingin yang menerpa bersamaan dengan hembusan angin dari arah permukaan danau seluas lebih dari delapan kali lapangan sepak bola itu. Atau membayangkan santap malam di hari pertama perjalanan kami ke Semeru ini. Tapi khayalan itu belum terwujud hingga saat ini. Karena hingga pukul tujuh malam ini, kami masih dalam perjalanan menuju tepi danau, tempat kami akan mendirikan tenda. Beberapa kali kami harus berhenti, karena Lilis tampak sedikit kesulitan untuk berjalan cepat, mengikuti langkah tergesa kami. Barangkali dia belum bisa menyesuaikan diri dengan kondisi gelap, setelah hampir empat jam berjalan di suasana yang terang sejak waktu Ashar tadi.

Ya, kami memang bergerak memulai pendakian setelah shalat Ashar. Saat tiba di Ranu Pane, kami segera melaporkan diri pada petugas PHPA di Ranu Pane, pos terakhir sebelum mendaki Semeru. Sebenarnya perjalanan dengan Toyota Hardtop (Land Cruiser) dari Tumpang menuju Ranu Pane hanya ditempuh dalam waktu dua setengah jam saja. Jauh lebih singkat dibandingkan dengan saat kali pertama aku ke tempat ini. Di tahun 1989, butuh waktu minimal empat jam untuk mencapai Ranu Pane dari Tumpang. Kalau musim hujan, waktunya jadi molor hingga 12 jam! Di tahun 2001 ini memang jauh lebih cepat. Masalahnya, kami berangkat dari Tumpang sudah sangat siang. Padahal dengan berangkat pagi-pagi dari Malang, kami berharap akan segera sampai di Ranu Pane sebelum tengah hari, sehingga perjalanan menuju Ranu Kmbolo bisa kami lakukan dengan santai sambil menikmati pemandangan hutan. Tapi siang tadi kondisinya memang agak kacau dan tak sesuai rencana.

Bayangkan saja, kami harus menunggu lebih dari empat jam di Tumpang sebelum bergerak menuju Ranu Pane dengan jpip hardtop. Setelah satu jam naik angkot dari Arjosari, kami tiba di pasar Tumpang. Tepat di depan alun-alun sudah terlihat sebuah hardtop yang memang khusus mengangkut penumpang menuju Ranu Pane. Maklum saja, kondisi jalan yang mendaki dan terkadang rusak membuat hanya kendaraan-kendaraan khusus saja yang bisa melewati jalur off road itu. Segera kami negosiasi dengan supir. Tapi ternyata supir hanya mau berangkat dengan bayaran dua ratus ribu rupiah sekali jalan. Kami berempat, kalau memaksakan berangkat saat itu juga, maka per orang akan terkena tarif lima puluh ribu rupiah. Maka diputuskan untuk menuggu penumpang lain. Semoga saja tidak lama. Lagipula masih ada bahan makanan yang harus dibeli di pasar Tumpang.

Selesai sarapan, aku pun masuk pasar, bersama Lilis. Mencari bahan makanan seperti tempe, sayuran, bumbu dapur, serta apel malang, tentu saja. Lalu kembali di emperan toko, menunggu calon penumpang lain. satu jam berlalu, masih kami berempat. Bahan obrolan sudah habis dikunyah. Dua jam berlalu, dan hari makin panas. Tempat kami menunggu tepat menghadap sinar matahari. Aku mencoba mengusir bosan dengan berjalan-jalan lagi ke sekeliling pasar bersama Anung. Sempat mampir di studio foto untuk membeli film. Lalu berhenti di warung dan makan lagi. Ketika kembali ke tempat menunggu, sudah ada tambahan dua calon penumpang. Tapi hanya dua orang. Mereka dari Surabaya. Sepertinya anak SMA. Kemudian adzan dzuhur berkumandang. Kami putuskan ke masjid saja, sambil berpesan pada supir agar tidak meninggalkan kami jika sudah ada tambahan penumpang lain. Cukup lama kami di masjid, dan ketika kmbali, ternyata memang sudah ada rombongan lain. Wah, tapi jumlahnya terlalu banyak. Ada dua rombongan. Yang pertama duabelas orang. Yang kedua, entah berapa lagi. SIbuk nego sana sini. Rombongan yang dua belas orang tak mau dipisah. Butuh dua mobil. Itu bukan masalah, tapi penumpang jadi berkurang, yang berarti ongkos per kepala akan bertambah. Untunglah ada rombongan lain yang datang. Maka dua jip berangkat siang itu dengan penumpang penuh. Setelah dihitung-hitung, per kepala harus membayar Rp. 12.000. Aku di depan, berdua dengan Lilis yang tampak mulai bosan menunggu.

Jip berhenti sebentar di kantor Taman Nasional Bromo - Tengger - Semeru. Semua turun dan mengurus perijinan. Supaya murah, surat perijinan milik kami digabung dengan dua pendaki dari Surabaya. Tapi aku mewanti-wanti pada Lilis, agar memegang surat ijinnya untuk keperluan penyusunan laporan perjalanan.

Pemandangan sepanjang perjalanan masih seperti yang dulu kukenal. Tak banyak yang berubah. Bukit-bukit masih tegak menjulang, petani masih setia di ladang-ladang di lerengnya, atau anak sekolah berseragam putih-merah berlarian tanpa sepatu sepulang sekolah di desa Gubug Klakah yang berketinggian 2.100 m dpl. . Hanya saja, infrastruktur jalan memang sudah jauh lebih baik. Tak banyak lagi jalan berluang atau berbatu-batu. Bahkan jalan sudah diaspal hingga pertigaan menuju ke arah Segoro Wedi yang merupakan jalur ke gunung Bromo. Dari pertigaan itu, tampak jelas gunung Batok yang simetris, serta lembah pasir dengan jalur jalan yang membelah di tengah-tengah padang. Sayang supir memutuskan untuk terus berjalan, tak singgah di pertigaan itu, sekedar istirahat. Maka aku tak sempat menjepretkan kamera. Mau mengambil dari dalam mobil, cukup sulit sebab ruang pandang tidak leluasa. Maka hanya percakapan dengan Lilis saja yang bisa kulakukan saat itu. Entah bagaimana kondisi penumpang lain di belakang. Yang jelas, perjalanan itu terasa singkat setelah kami menghabiskan empat jam lebih dalam penantian. Hanya 2,5 jam, kami sudah tiba di Ranu Pane.

Dan kini, kami akan segera tiba di tepi Ranu Kumbolo. Tampak suasana cukup ramai di pondok kayu di sebelah Barat Danau. Kami memutuskan untuk menginap di sisi Timur, menghindari kerumunan. Agak curam juga jalan turunnya, sebab bukan jalan yang biasa dilewati. Tapi lokasi yang kami tuju memang ideal untuk tempat mendirikan tenda, cukup lapang, terlindung dari angin karena banyak cemara tumbuh, dan yang lebih penting lagi: sepi. Tak ada rombongan pendaki lain yang berkemah di sana.

Segera setelah menemukan lokasi yang pas, tenda didirikan. Tenda yang kami bawa bukanlah tenda yang biasa kami bawa. Ini tenda pinjaman dari teman. Tenda merk Rhino milik kami sedang dibawa oleh Momes ke Jombang. Agak lama juga, karena kami belum familiar dengan bentuk tendanya. Sementara tubuh sudah mulai dingin sebab suhu udara memang turun, dan pakaian kami basah oleh keringat. Lilis membongkar peralatan masak, dan segera menyiapkan air panas untuk menyeduh kopi dan teh. Setengah jam berikutnya, kami sudah menyeruput minuman hangat sambil menikmati semilir angin danau dan langit cerah tanpa awan. Malam kami lewati dengan nyaman, makan kenyang, nulis catatan, lalu masuk dalam sleeping bag yang menawarkan kehangatan.

bersambung...

Monday, January 22, 2007

Pulau We

Sejak kecil, kita sudah mendengar lagu Dari Sabang Sampai Merauke. Tapi pernahkah Anda mengunjungi Sabang atau Merauke itu? Nah, tahun 2006 lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kota yang konon merupakan kota paling barat di Indonesia.

Untuk menyeberang dari Banda Aceh, bisa menggunakan KM Pulo Rondo dengan tujuan Balohan, Pulau We. Tiket ekonomi untuk kapal cepat ini seharga Rp. 60.000 dan pelayaran hanya menghabiskan satu jam saja. KM Pulo Rondo ini emang khusus untuk penumpang manusia. Jadi, kendaraan bermotor tak boleh naik! Kalau mau membawa motor atau mobil harus menggunakan kapal fery yang lain, dan bukan kapal cepat. Pelabuhan tujuannya juga lain, bukan di Balohan.

Nah, dari Balohan menuju kota Sabang, hanya setengah jam. Melewati jalan mulus beraspal dan melewati kawasan bandara milik Pangkalan TNI AU, kita akan segera tiba di kota Sabang.
Di kota ini, tak ada hotel atau penginapan kelas mewah. Yang hanya ada penginapan sekelas losmen. Kalau hanya untuk numpang tidur, lumayanlah. Harga sekamar bervariasi, mulai Rp. 50.000 hingga Rp. 200.000 per malam. Tapi untuk kenyamanan, lebih baik memilih bungalow di daerah wisata di tepi pantai, jangan di kota Sabang.

Tapi kalau memilih untuk menginap di kota Sabang, maka sebaiknya menyewa kendaraan roda empat untuk pelesir. Sebab angkutan umum memang tidak seramai di Jakarta. Pilihlah kendaraan yang anda sukai. Di Sabang ini akan bisa dijumpai berbagai jenis mobil yang bahkan di Jakarta pun tak bisa kita temukan. Contohnya saja Honda RAV. Nah, pernah dengar merk mobil itu? Di Jakarta tidak ada, bukan? Maklum saja, Sabang adalah pelabuhan bebas, sehingga mobil-mobil eks SIngapura dapat dengan mudah ditemukan. Tapi jangan salah, kendaraan-kendaraan itu hanya bisa dipakai di area pulau We saja, tidak boleh dibawa keluar.

Secara Administratif, Sabang adalah Kotamadya, dengan terdiri dari dua wilayah kecamatan saja. Sebeblumnya, pulau ini termasuk ke dalam wilayah kota Banda Aceh. Pulau We tak terlalu besar. Hanya dibutuhkan 3 jam saja menggunakan kendaraan roda empat untuk mengelilingi pulau ini. Jumlah penduduknya yang sedikit, membuat setiap pendatang yang berada di kota Sabang akan segera dikenali sebagai orang asing oleh penduduk Sabang.

Setelah mendapat penginapan dan kendaraan untuk keliling pulau, maka kita tinggal menentukan saja, mau pergi ke mana. Untuk wisata pantai, bisa ke pantai Iboih, pantai Tapak Gajah, Atau Pasir Hitam. Bisa juga menyewa perahu untuk pergi salah satu pulau yang ada di sekitar Pulau We. Jangan lupa untuk mengunjungi Tugu Nol Kilometer. Di titik itulah konon, terdapat titik nol kilometer Indonesia. Kalau mau sedikit report, bisa juga datang ke Dinas parwisata untuk meminta sertifikat yang menyatakan bahwa kita sudah pernah mengunjungi titik paling barat di Indonesia. Di tugu yang terletak di puncak bukit di tepi pantai itu, bisa juga terlihat pulau-pulau lain di sebelah barat. Bahkan kita bisa melihat kepulauan Andaman milik negara India.

Kalau sedang duduk merenung sambil menatap laut di pasir pantai, jangan kaget jika tiba-tiba di depan kita melintas kapal perang. Itu memang kapal milik TNI AL. Pangkalan mereka ada di dekat pelabuhan milik Pertamina. Juga perlu berhati-hati bila kita berenang di pantai-pantai yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia ini. Kalau terlalu jauh, salah-salah kita bisa terseret arus hingga ke Madagaskar! Iya, sebab memang pulau We ini langsung berhadapan dengan Samudera lepas.

Seperti juga pantai-pantai di tempat lain, pemandangan dari pantai-pantai di pulau ini juga indah. Apalagi saat berada di area Tugu Nol Kilometer ketika matahari terbenam. Wah, sangat dramatis suasananya. Hanya harap hati-hati kalau pergi berdua dengan pasangan Anda. Jangan lupa membawa salinan surat nikah. Sebab di wilayah NAD ini, tidak diperbolehkan berkhalwat dengan orang yang bukan mahromnya. Kalau tidak, polisi syariah akan mencokok Anda, dan Anda akan diadili lalu dicambuk sampai malu. Maka jangan heran kalau jarang sekali kita temui pasangan muda yang asyik masyuk di bawah pohon kelapa di tepi pantai. Kalaupun ada, pastilah suami isteri.

Oh iya, walaupun pantainya indah, tapi potensi wisata di pulau ini belum tergarap dengan baik. Selama di sana, saya hanya bertemu dengan turis asing dua kali. Mereka snorkling (nulisnya bener ga neh?) di pantai Iboih yang memang banyak karangnya. Tentu saja, mereka bebas menggunakan bikini, sebab polisi syariah tak pernah menangkap mereka (tanya kenapa?). Tapi karena sepinya itulah, pantai ini jadi nyaman untuk tempat menyendiri. Saya betah berjam-jam duduk memandang lautan, sambil mendengar debur ombak yang datang mengecup bibir pantai.

Wednesday, November 15, 2006

Argopuro 2001

Aku tiba di Jombang ketika adzan subuh berkumandang. Agak terlambat Bangunkarta kali ini, sebab biasanya jam tiga dini hari sudah masuk stasiun Jombang. Di teras musholla ada beberapa orang yang masih tidur. Hawa dingin subuh membuat mereka harus membungkus rapat tubuh mereka dengan sarung atau jaket.

Selesai subuh, aku berjalan ke perempatan. Menunggu bis tiga perempat jurusan Jombang - Malang (P.O. Puspa Indah ?) . Penumpang penuh, tapi aku dapat duduk. Harus, sebab bis ini akan menghabiskan 3,5 jam perjalanan melalui lintasan berkelok-kelok tajam. Membuat isi perut setiap penumpang seperti diaduk-aduk dan memberontak ingin keluar. Sebisa mungkin tidur, supaya tidak mabuk. Kalau berdiri, wah...aku pasti muntah.
Sampai di kos-kosan sudah jam delapan. Kuya sudah berangkat ke Argopuro bersama Doni, Momes, dan Singo. Secarik kertas kutemukan di meja. "Buat Kebluk : Nyusul, ya. Gue udah berangkat." Tertera tanggal hari kemarin di bawahnya, beserta nama Kuya.
Selesai mandi, aku pamit pada ibu kos. "Mau langsung ke Probolinggo, bu. Naik gunung Argopuro. Salam buat pak Raung," kataku sambil menyebut nama suaminya. Konon, nama itu memang diambil dari nama gunung Raung. Suaminya memang lahir di kaki gunung itu.
Nah, sekarang aku sendirian lagi, di dalam bis menuju Probolinggo. Logistik di dalam carrier berisi perlengkapan standar saja. Rencananya malam nanti akan menginap di desa Baderan. Besok pagi baru berangkat menyusul anak-anak. Malam nanti bulan purnama.

=====

Sudah hampir maghrib sewaktu aku tiba di warung pak Bachri. "Iya, kemarin ada yang naik bertiga. Perempuannya satu orang, memakai kerudung," jawab beliau ketika aku tanyakan pada lelaki yang pembawaannya gagah itu, seperti umumnya orang desa yang fisiknya memang luar biasa. Aku lihat di log pendaki, bawha nama ketiga temanku memang tercatat di sana.
"Apa malam ini ada tempat buat saya menginap, pak?" tanyaku agak ragu.
Tapi keraguanku sama sekali tak beralasan. Ada pos jagawana yang memang biasa dipakai pendaki yang kemalaman di desa ini. Lalu aku dikenalkan dengan seorang jagawana yang akan menjadi tuan rumah di tempatku menginap. Aku makan malam dengan telor asin dan sayur lodeh yang sudah dingin. Lumayan buat ganjal perut, yang sejak tadi siang hanya diisi kue dan cemilan-cemilan. Di Probolinggo, tepatnya di Randu Pangger, pertigaan tempatku menunggu bis ke Banyuwangi yang akan membawaku ke Besuki, aku hanya sempat makan roti. Lalu di Pasar Khewan, Besuki, hanya sempat mampir ke kantor polisi, lapor dan mencatatkan namaku di sana. Maka nasi dengan sayur lodeh dinginpun sudah sangat cukup untuk meredam gejolak entah apa di dalam perutku.
Selesai makan, aku langsung ke rumah dinas jagawana. Rumahnya diterangi lampu kuning, bukan neon yang putih benderang. jadi agak remang-remang. Mungkin hanya lampu 25 Watt. Aku disediakan satu kamar depan. Sepi, dan airnya sangat dingin saat aku mandi. Selesai isya, aku ngobrol sebentar dengan si jagawana. Rupanya dia seangkatan dengan gepeng di pendidikan kader konservasi lingkungan yang diadakan Mapensa, Faperta Universitas Jember, tahun 1994 lalu. Ah, dia masih ingat dengan gepeng, rupanya. Kami pun langsung akrab, terutama karena membicarakan watak-watak gepeng yang memang sering dianggap terlalu keras oleh sebagian orang. Tepat jam 10 malam, aku pamit masuk kamar. Tidur, sebab besok aku ingin berangkat pagi-pagi, menyusul teman-temanku yang mungkin sekarang sedang tidur di Alun-alun Besar Sikasur.

=====

Tepat jam 06.30, aku berjalan keluar pos, menuju warung pak Bachri. Sarapan dengan indomie rebus, nasi sepiring, dan bakwan gorng. Semuanya panas. Setengah jam kemudian, aku sudah bergerak menuju Sikasur.
Mungkin karena sendirian, maka jalanku agak cepat. Mungkin juga karena menyadari bahwa bekalku memang tidak kusiapkan untuk bermalam sendirian di jalur pendakian. Bisa saja memang, untuk bermalam dan buka bivak, tapi sangat tidak nyaman jika dibandingkan dengan tidur di dalam doom yang didirikan di dalam pondok pemburu sikasur.
Tempat mata air pertama (HM 43) dan kedua (HM 67) menjadi tempat istirahatku. Tidak trlalu lama, hanya sekitar 15 menit saja. Niat untuk masak indomie (lagi) di HM 67 kubatalkan, sebab hujan mulai turun. Kupikir, lebih baik jalan dengan ponco dari pada membuka bivak untuk masak dan membuatku jadi malas lagi untuk melanjutkan perjalanan.
Alun-alun kecil kulewati di bawah siraman hujan yang cukup deras. Beberapa kali serombongan babi hutan membuatku terkejut saat berpapasan dengan mereka (atau aku yang membuat mereka terkejut?). Mungkin hujan deras membuat kehadiranku tak mereka sadari. Beberapa kali belokan membuatku terkecoh dan menyangka sudah hampir tiba di Alun-alun besar. Sampai kemudian aku melihat dua sosok sedang menuruni tening sungai kolbu. Sikasur! Alun-alun besar yang berhasil mengundangku untuk jauh-jauh datang dari Jakarta untuk mengunjunginya. Aku berteriak keras, saat kukenali bahwa mereka adalah Doni dan Singo yang tampaknya sedang mengambil selada air.
"Hei, kebluk ya?" pekik doni yang rupanya mengenali sosokku yang terbalut ponco gelap di keremangan cahaya jam empat sore yang disiram hujan.
Menit berikutnya,aku sudah di dalam pondok kayu yang tampak sempit karena tenda doom rhino biru hijau dibuka di dalamnya. "Kopi jahe, ya," sahutku ketika kuya mendekati kompor sambil mengankat jirigen air.
"Ini kompan bocor, punya lem nggak, Bluk?" tanya kuya.
Ketika kujawab hanya ada tensoplast di survival kit-ku, mereka segera mengaduk-aduk isinya. Singo menemukan permen karet, lalu memakannya diam-diam, diiringi senyum-senyum kuya yang sesekali melirikku.
"Hahaha. Bluk, permenloe dimakan si anung," lapornya.
"Eh, ini buat nambal kompan, Ya. Jangan sembarangan nuduh lu. Ini buat kepentingan tim," ujar Singo membela diri.
Ah, senang sekali bisa berada di tengah saudara-saudaraku sendiri. Tertawa terbahak-bahak ketika Doni meminum air cucian selada air, yang disangka air kopi. Atau nggodain Momes yang konon sedang kasmaran, entah pad asiapa. Mungkin babi-babi hutan yang belum laku seusai musim kawin ini.
karena aku baru tiba, maka mereka memutuskan untuk tinggal semalam lagi di sikasur. Berarti dua dari tiga malam pertama mereka, akan dihabiskan di Sikasur. Kuya mengalah untuk memberi tempat padaku di dalam doom, sementara dia tidur di luar doom. Aku tertidur sangat lelap, hingga suara ribut Singo keesokan harinya.

=====

Jam enam lewat! astaga, nyenyak sekali aku tidur. Entah apa yang diributkan Singo di luar. Semua sudah bangun. Kuya dan Doni di depan kompor. Momes tak terlihat, mungkin pergi ke air. Rupanya Singo berusaha mendekati seekor rusa yang bermain terlalu dekat dengan pondok. Tapi Singo merayapnya tanggung-tnaggung, hingga pantatnya masih menyembul sedikit. Rusa itu mungkin sadar bahwa pantat itu tak mungkin bergerak sendiri tanpa ada manusia yang membawanya. ketika rusa itu lari, Singo yang malang berusaha mengejar. Tapi dia terantuk sesuatu. Mungkin sisa akar, sebab dia mengusap-usap kepalanya sambil misuh-misuh. Hehehe, emang enak?

Setelah sarapan dan ambil foto, kami mulai bergerak dengan cisentor sebagai target antara, dan puncak rengganis sebagai target akhir hari ini. Kami sengaja memang, untuk tak bermalam di cisentor dan lebih memilih untuk menjadikan kawasan petilasan Dewi Rengganis untuk camp selanjutnya. "Cari suasana baru," ujar kuya yang sudah bolak-balik ke argopuro.

Perjalanan hingga cisentor dilakukan dalam tempo sedang. Kami tiba di cisentor ketika hujan mengguyur lagi gunung ini. Makan siang hanya dengan mie rebus saja. Sempat bertemu dengan dua orang pramuka asal Jember yang baru saja turun dari puncak dan bermaksud meneruskan perjalanan hingga Taman Hidup. Wah, mereka pasti berjalan dengan kecepatan tinggi. Sebab jarak Cisentor dengan Taman Hidup masih cukup jauh. Kalau kami, tak akan bisa mencapai Taman Hidup dalam waktu enam jam.

Pukul 14.00, kami lanjutkan lagi perjalanan. kali ini terbagi menjadi dua. Singo dan uya di depan, dengan target menyiapkan tempat camp sebelum malam. AKu, Doni, dan Momes di belakang. Ini lebih efektif, sebab bila harus bersama-sama dalam rombongan, bisa dipastikan akan kemalaman di jalan, dan akan bersusah payah mendirikan tenda, mencari kayu dan membuat api saat hari sudah gelap.

Ketika aku tiba di kawasan puncak Rengganis, tenda sudah berdiri dan api sudah menyala. Bahkan Singo sudah membuatkan minuman hangat. (enak juga jadi orang tua, begitu sampai camp, sudah ada pelayanan ekstra). Alhamdulillah, di puncak tidak hujan. Tapi akibatnya, suhu udara menjadi terasa lebih dingin. Malam kami lewati dengan makan kentang bakar. Tempe yang dibawa Kuya belum juga berhasil menjadi tempe. Dia sengaja membeli tempe yang belum sempurna proses peragiannya. "mungkin tempenya kedinginan, Kuy!!!" Singo dan kuya memilih tidur di luar doom, menghangatkan diri dekat api sekaligus menjaganya agar tidak padam. Alarm dipasang pukul 05.00, karena kami ingin melihat dan mengabadikan matahari terbit.

=====

Begitu mendegar alarm dari weker kecil milik Kuya, aku bergegas mengambil Minolta SRT101 buatan tahun 1971 yang sudah tak bisa beroperasi menggunakan lampu kilat. Kamera berat tu aku jining menuju puncak bersama Singo yang menemani. Tak lama Doni, Kuya, dan Momes menyusul. Kami semua menggigil.

Tapi ufuk timur tertutup aswan. Kami hanya melihat cahaya semburat jingga yang makin siang semakin terang dan putih. Tapi cukup membuat kami terkesima dengan suasana dramatis yang ditimbulkannya. Cita-cita kami untuk menginap dan melihat matahari terbit dari puncak Rengganis tercapai sudah. Tak ada lagi rasa penasaran.

Ketika hari mulai terang, Kami mulai mencabut beberapa "atribut" yang dipakukan ke pohon. Macam-macam isi tulisannya, tapi kebanyakan hanya menuliskan nama organisasi tertentu yang dicat di atas seng atau kayu. Juga ada beberapa bendera yang "merusak pemandangan" yang kami cabut. Hanya satu tanda saja yang tertinggal di sana, yaitu papan yang menunjukkan nama tempat dan ketinggian Puncak Rengganis.

Sekitar pukul 09.00, kami bergerak turun. Di persimpangan antara Puncak Rengganis, Puncak Argopuro, dan jalan menuju Cisentor, kami berhenti. Berjalan sedikit masuk ke jalan menuju puncak Argopuro, dan beristirahat di sana. Aku dan Momes berhasil terbujuk Kuya untuk mengikutinya berjalan menuju puncak. Doni dan Singo memilih menjaga Carrier.

Jalan menuju puncak Argopuro tidak sejelas jalan menuju puncak Rengganis. Mungkin ini bukan jalur normal yang biasa dipakai orang untuk menuju ke puncak Argopuro. Sepanjang jalan, Kuya menceritakan dugaannya bahwa Puncak Argopuro mungkin sebuah candi yang terkubur seperti Borobudur di masa lalu. Ini, katanya, bisa dilihat dari bentuknya yang simetris dan adanya beberapa lokasi datar setiap kali kami tiba di ketinggian tertentu. Bisa jadi Kuya benar. Memang, jalannya cukup curam, tapi setelah beberapa langkah, kami selalu menemui pijakan berupa batu-batu yang luas dan datar. Pohon-pohon jug tidak bisa tumbuh besar dan berdiri dengan jarak yang sangat renggang. Hanya semak-semak saja yang tumbuh rapat. Bahkan di lereng menuju puncak, kami menemukan patung berupa manusia yang duduk bersila, membelakangi puncak. Mungkin kalau meau mencari ke kiri atau ke kanan di dalam hutan, akan bisa ditemukan arca serupa.

Di puncak, suasananya agak "gimana gitu", sepi dan mistis. Di sebuah meja batu yang mungkin menjadi altar pemujaan, ada sisa-sisa sesajen. Di sampingnya, ada sebuah batu dengan ceruk yang sepertinya digunakan sebagaitempat menampung air. Tak lama kami bertiga di puncak ini. Kami turun melalui jalan yang berbeda dengan yang kami lalui saat mendaki tadi. Tampaknya, jalan turun inilah yang biasa dipergunakan orang. Ini bisa terlihat dari lebarnya jalan dan beberapa sampah plastik bekas bungkus permen yang kami temui. Beberapa pohon juga tampak dipasangi marka. Mungkin ada yang baru saja melakukan latihan SAR di sini. Cukup sering kami tersesat keluar dari jalur, dan beberapa kali menemui jalur yang curam, sebelum akhirnya bertemu dengan padang luas. Nyatalah, bahwa kami memang tak melewati jalan yang sama dengan jalan saat kami mendaki tadi. Sebab cukup jauh jug akami harus melintasi padang rumput, sebelum menemukan tempat Singo dan Doni menunggu.

Segera setelah mengambil beberapa gambar, kami melanjutkan perjalanan. Semula, target kami memang Taman Hidup. Maka kami pun turun dengan agak sedikit berlari. Tapi kenyataan berbicara lain. Setelah pukul 17.00, kami baru tiba di Aing Kenek. Sebuah lembah sempit tempat pertemuan dua bukit yang dialiri sungai yang cukup deras airnya. Hujan deras menyambut kami, seakan menahan kami agar tak meneruskan perjalanan. Maka kami putuskan untuk bermalam di tempat lembab ini.

Entah karena hujan atau karena tak cakap mencari kayu kering, maka api unggun baru bisa menyala setelah hari gelap. Padahal kami kedinginan dalam pakaian kuyup dan sudah berniat memasak bubur kacang ijo. Kalau memasak bubuk dengan trangia, akan memboroskan bahan bakar. Mungkin sekitar pukul 20.00, api baru menyala besar dan siap dipakai untuk membuat bubur kacang hijau. Tapi aku sudah terlanjur lelah, sehingga memutuskan masuk doom bersama momes, yang sepertinya juga kecapekan karena beban carriernya sepertinya paling berat (maklum adik bungsu).

=====

Esok paginya, kami kuatkan hati untuk mengenakan celana lapangan yang basah kuyup. Kami harus turun hingga Bremi, Krucil, sebeblum angkot terakhir berlalu. Malam ini, kami harus sudah tiba lagi di Malang. Maka perjalanan turun kali ini dilakukan dengan kecepatan tinggi. Hanya DOni yang berjalan agak lambat. Singo yang terjebak di belakang Doni, terpaksa harus menemaninya sampai tiba di Bremi nanti.

Di Taman hidup, aku, Kuya dan Momes sempat fot-foto. Kemudian diputuskan untuk langsung turun tanpa menunggu kedatangan Doni dan Singo di tempat itu. Sayangnya, kami lupa memberi tanda di persimpangan, sehingga Doni tak tahu kalau kami bertiga sudah tak ada di Taman Hidup.

Hasilnya, ketika sudah tiba di Bremi dan sedang duduk-duduk di warung, Doni tiba dengna muka masam. Dia langsung memesan Susu Soda dan sate kambing. Singo tertawa-tawa sambil menyalahkan kami yang meninggalkan mereka. Katanya, "Doni ngguondok banget pas sampe di Taman Hidup, dan nggak ada siapa-siapa lagi." Yah, kalau kami tadi menunggu di Taman Hidup. mungkin kami akan tertinggal angkot menuju jalan besar, dan rencana ke Malang malam ini bisa berantakan. Untung saja Doni cuma sedikit kesal. Setelah kenyang, di asudah bis atersenyum lagi.

Sengaja kami tak menyambangi rumah bu Pudji, tempat yang biasa kami singgahi saat turun dari Argopuro. Sebab kami memang tak ingin berlama-lama di sini. Kalau ke rumah bu Pudji dan tidak menginap di sana, rasanya tidak enak juga. Maka sekalian saja nggak usah ke sana.

Dengan seijin pemilik warung sekaligus pemilik rumah, kami mandi dan bersih-bersih di kamar mandi di samping rumah. Untuk mempersingkat waktu, kami menimba bergantian dan mandi berdua dalam satu kamar mandi. Kecuali Doni tentu saja. (kok nggak mau mandi bareng siy? nggak kompak neh!)

Dengan angdes kami menuju Jalan Raya Jember - Probolinggo. Naik bus ke Probolingga, lalu menyambung bus AKAS menuju Malang. Sekitar pukul 21.0, kami sudah makan di warung dekat dengan kos-kosannya macan. Sekali lagi kami pesan soda susu, yang seolah menjadi minuman wajib sehabis turun gunung. Dalam benak kami, terbayang kasur-kasur empuk di ranjang kos-kosan kami. Rasanya tak percaya, kalau siang tadi masih ada di dermaga di tepian danau Taman Hidup. Suatu saat, kami akn kembali ke sana.

Friday, October 20, 2006

Argopuro 1999 - Bagian 13

Selasa, 7 September 1999

Pagi-pagi aku sudah di dapur. Dapurnya hangat. Mungkin karena masaknya menggunakan perapian dengan bahan bakar kayu. Bukan kompor seperti di rumah kita. Aku betah di dapur, sebab bisa main api dengan kayu dan perapian. Mungkin kecenderungan manusia untuk senang main api, ya? (keponakanku saat berumur 4 tahun pernah membakar sofa kecil milik kakek-neneknya. Hehehe...

Jelas saja bapak-ibuku marah. Sekarang kursi itu tak bisa dipakai lagi. Tinggal kerangka kayunya saja yang tersisa. Sekarang dipakai utuk meja komputer adikku). Aku masak nasi, mie rebus, telor ceplok, dan menggoreng sisa-sisa kerupuk. Bu pudji beli susu lagi. (di mana siy, belinya?) Dia juga beli kerupuk lagi. Kalau gula dan semua sisa perbekalan, sudah aku oper pada dia. Sarapan, lalu packing dan menunggu yang lain bersih-bersih. Yeni sempat protes ketika tahu aku akan pake kaos A. Sebab dia ga mau ada orang lain yang nyamain dia yang tinggal punya satu kaos bersih: kaos A. Tapi aku cuek aja, biarpun resikonya akan dianggap sebagai rombongan dari panti asuhan. Yang lain bersih-bersih di kamar kecil milik kantor polsek krucil. Katanya gantian, sebab takut polisi-polisi itu iseng. Maka mekanismenya: satu orang masuk, dua orang jaga di luar sambil ngobrol dengan polisi-polisi. Wah, apa enaknya ngobrol di depan kamar kecil? Atau ngobrolnya sambil tutup hidung? Lagipula, apa polisi-polisi itu bernapsu untuk ngecengin mereka yang kucel-kucel itu? Aku sendiri tadi cuma mbasuh badan di pancuran belakang rumah bu pudji, dan nggak ada yang ngeliat tuh.

Sesudahnya aku menjalani ritual rutin di ruang tamu: nyeruput kopi dan nguping radio. Banyak foto dan slayer digantung di dinding. Ada juga peta usang. Lalu baca-baca log pendaki di buku besar yang sudah ada tiga buah. Kucari-cari nama anak-anak astacala yang pernah mengisinya. Ada juga ternyata. Ada tulisan tangan kuya. Ada juga yang nempelin foto-fotonya. Wah, narsis banget siy? Bosan dan pengap di dalam rumah, aku keluar. Liat-liat sekeliling. Ada tumpukan kayu bakar di samping rumah, yang ternyata bu pudji membelinya, tidak mencari sendiri.

Anak-anak lama sekali. Jam setengah sebelas baru pada selesai. Mungkin karena sekalian be-ol. Selesai packing, sudah hampir tengah hari. Foto-foto dengan bu pudji di depan rumah. Lalu pamitan sambil berjanji akan kembali lagi untuk menempelkan foto di buku log pendaki. Bu pudji mengatar sampai ke jalan raya. Nyetop angkutan colt, sambil berpesan padaku: Jangan ninggalin yang lainnya lagi!!!. Oke deh.

Turun angkutan langsung bingung: nyebrang apa enggak? Ada bus datang, setop saja, urusan belakangan. Aku tanya, "Surabaya?" kernetnya ngangguk. Tapi kok murah? cuma dua ribu perak? Ternyata di terminal kita disuruh turun. "Itu bis ke Surabaya, Mas!" seru kondektur tadi. Oh, ternyata harus pindah bus tho? Teringat pesan Gapung dulu, kita milih bis AKAS. Konon, ini PO yang menguasai Jawa Timur dsk. Bisnya biasa aja. Tapi ternyata memang nyaman: tidak ugal-ugalan seperti bis dari PO lainnya. Kondekturnya pakai seragam wearpack oranye. Kok jadi inget kernet metromini di Jakarta jaman baheula? Sepanjang jalan aku tidur. Ketika bangun bajuku basah, keringet. panas sekali bis ini? "Lain kali bawa pintu mobil, supaya kalau gerah, tinggal buka jendelanya!" Astaga, siapa yang bilang itu?

Sampai Bungurasih langsung nyari bis ke Gubeng. ternyata penuh. Anak-anak nggak mau, sebab "Nggak bisa naro carrier," katanya. Ya udah, naik bis berikutnya yang masih ngetem, kosong, dan pasti lama berangkatnya. Wied udah misah. Dia naik bis ke Madiun. Jangan lupa brem dan bumbu pecelnya ya wied!

Ternyata selain ngetem, bisnya muter-muter dulu sebelum lewat Gubeng. Kami turun di pertigaan. Jalan lagi sekitar seratus meter ke Stasiun. Wah, waktunya mepet nih. Jam 17.00 KA Mutiara ke Bandung berangkat. Tergopoh-gopoh kami berlari. Bayangan ketinggalan kereta Kahuripan kembali menari-nari di ruang ingatan. Ternyata kami masuk dari pintu belakang. Lewat pintu itu, tidak ada loket untuk kelas bisnis. Jadi harus nyebrang ke pintu satuya. Melewati beberapa jalur sepur. Keretanya masih ada. Aku tinggalkan carrier dengan anak-anak dekat kereta. Biar larinya cepat. Aku langsung ke loket. Lho, kok ngantri? ternyata aku salah loket. Itu loket Mutiara untuk pemesanan perjalanan besok dst. Bukan loket penjualan langsung. Padahal udah ngantri. Di loket penjualan langsung, aku tanya, "Masih kekejar keretanya, Bu?" Dijawab masih. Aku lari ke peron, ternyata keretanya hanya kelihatan buntutnya ajah. Anjrit . Lemas rasanya. Mosok sih, ketinggalan kereta lagi? Tapi begitulah. Aku temui Lilis dan Yeni yang kelihatan frustasi. Ah, sialan. "Keretanya udah jalan, kak." Orang-orang pada ngeliatin. Malu nih. "Padahal, tadi orang-orag udah nyuruh naik, kak," ujar Yeni,"Katanya biar ajah Masnya ditinggal. Nanti bayar di atas." Sialan. Untung aja mereka masih waras. Aku langsung tuker tiket. Berarti naik kereta berikutnya: Turangga. Berarti ongkosnya juga nambah. Emang udah nasib.

Kami duduk-duduk di bangku peron dengan pikiran melayang-layang. Nggak pernah kebayang sebelumnya kalau kami bakalan ketinggalan kereta lagi. Lilis ngajak ke musholla. Aku pergi beli coca-cola. Tapi nggak ada yang mau. Mereka maunya es krim, 'kali. Bosan di stasiun, kami nyari soto di depan stasiun. Sotonya enak, nasinya banyak. setelah kenyang, balik lagi ke stasiun. Turangga berangkat tepat waktu. Aku duduk di tengah gerbong dengan seorang penumpang lain. Lis dan Yen di kursi bagian depan. Penumpang di sebelahku menawarkan Orange Juice. Aku mengangguk, sambil bilang bahwa adik-adikku dua orang, duduk di kursi no. 1A dan 1B. "Oke, sekalian aja dipesenin," katanya. Dia orang Freeport yang mau pulang ke Jogja. Kami ngobrol soal tailing freeport yang ternyata masih banyak kandungan emasnya. Setelah dia turun, aku tidur. Karena AC-nya terlalu dingin, aku pakai sweater Camel Trhopy. Baca do'a sebelum tidur. Bandung, we're coming.

Argopuro 1999 - Bagian 12

Senin, 6 September 1999

Pagi ini nggak ada yang terlambat bangun. Maka jam 08.00 sudah bisa mulai sarapan. Jam 09.00, kami berger lagi, dengan target Taman Hidup. Wied kelihatan sudah bosan dengan hutan. Padahal baru seminggu. Sebelum berger, api kumatikan dengan bantuan golok tebas. Karena nggak bisa cepat, aku siram dengan air. Yang lain protes. Maka aku membuka ikat pinggang, pura-pura memelorotkan celana. Yang lain ngacir, sebab aku memang akan melakukan upacara adat: mematikan api dengan cara kencing di tumpukan unggun. Aku ngakak mendengar sumpah serapah mereka. Tapi karena hanya sendirian, baranya masih saja nyala. Maka aku kubur saja dengan tanah. Ternyata efektif.

Lima menit aku ketinggalan rombongan. Weh, cepet juga mereka jalan. Lintasan mulai turun terus, tapi mepet jurang. Aku beberapa kali berhenti. Mebiarkan mereka jalan di depan, kemudian berlari menusul. Kalau jalan terlalu pelan, dengkulku gemetar. Kuhitung-hitung, aku tujuh kali jatuh. Terpeleset, tapi nggak sampe masuk jurang.

Sepanjang jalan radio aku nyalakan. Di depanku Lilis, kadang mengikuti lagu dari radio yang siarannya sudah mulai bervariasi. "I can see clearly now, the rain has gone..." Hmm... suaranya merdu juga ...kalau dibandingkan dengan suara beruk di atas sana. Hehehe... Hutan mulai rapat, dan gelap.

Jam 13.00, sampailah kami di pertigaan taman hidup. Ketika melihat danau, anak-anak langsung teriak-teriak. Ajaib, ternyata yang dikatakan kuya benar: kabut akan turun di taman hidup kalau kita teriak-teriak. Tapi nggak lama, paling-paling setengah jam sudah terang lagi. Kau masak hun kue pake gula merah dan coklat tulip yang dicairkan. Tapi nggak laku. Masih kenyang? Mungkin rasanya memang nggak enak. Ketika diajukan usul untukbermalam lagi, nggak ada yang nyahut. Baguslah, aku juga agak merinding di sini. Mungkin karena kedinginan. Foto-foto di dermaga kayu. Kalau melihat tanah di sekitarnya, rasanya akan berubah jadi rawa di musim hujan. Dua jam di sini, kami berger lagi. Berjalan malas-malasan, menghabiskan film, dan lagi-lagi kesepian.

Jam 17.00, sampai di hutan damar. Terdengar deru motor. Mungkin ada yang sedang menggergaji pohon atau membelah kayu. Kulihat beberapa lokasi bekas penampungan kayu tebangan. Di ujung hutan damar, lagi-lagi anak-anak berhenti. Padahal ladang penduduk sudah kelihatan. Yeni tanya jam, aku bilang jam setengah enam Eh, dia nggak percaya! sialan. Aku berdiri, dan tanpa ba-bi-bu langsung lari menuju ladang. Biar rasa kemaleman di ladang, sumpahku. Nggak tahu, apa mereka nyusul atau nggak. Aku udah bosan. Di kebon kopi, aku papasan dengan sapi yang lagi makan di tengah jalan. Wah, kok nggak mau nyingkir dia? Aku agak-agak takut juga. Takut kalau ditaksir. Terpaksa aku jalan di pinggir. Tapi sapi itu mendekat. Wah, aku masuk ke ladang saja. Setelah aman, aku baru sadar kalau ada dua anak yang diam-diam memperhatikan aku. Mereka ketawa ngikik. Bisik-bisik dalam bahasa yang aku nggak ngerti. Brengsek. Tiba di warung pertama, aku beli semangka. Trik ajah, sebenarnya mau tanya lokasi rumah bu pudji. Ternyata nggak jauh lagi. "Dekat turunan," ujar ibu warung. Di dekat turunan, aku tanya lagi pada tiga anak kecil. Mereka mengantar ke rumah bu pudji. Hah, langsung ngasih limaribuan kepada bu pudji. Buat beli susu. Aku mandi di kantor polisi. Wangi, sebab keramas dan pake biore. Selesai mandi, sudah ada kopi susu. Masih panas. Aku ke dapur. Tanya ini itu pada pak pudji. Ternyata dulu beliau sering jadi porter buat orang-orang yang berburu ke sikasur. Banyak macan, katanya. Tapi karena macannya sudah mulai habis, maka yang banyak sekarang adalah rusa. Iya sih, aku liat beberapa rusa di sikasur. Mungkin banyak lagi di sekitarnya.

Jam 19.00, anak-anak belum sampai. Aku pamit pada bu pudji. Mau kemana? tanyanya. Tapi beliau marah, katanya: "WONG EDAN!!!" waktu aku bilang anak-anak masih di belakang, dan cewek semua. Aku cuma nyengir. Baru saja aku buka pintu, terdengar suara yeni. Haha, dia marah-marah. Yang lain memberengut. Cemberut. Apalagi tau kalau aku sudah mandi dan wangi. Mereka diantar seorang penduduk. Rupanya tersesat di kebon kopi. Sukurin loe...! Mereka nggak mandi malam ini. Cuma cuci muka. Karena rumah bu pudji sepi, tak ada pendaki lain, aku diminta bu pudji (yang masih marah-marah karena aku ninggalin anak-anak) utuk tidur di kamar depan. Wah, istana nih. Yang lain tidur sama bu pudji.

Argopuro 1999 - Bagian 11

Minggu, 5 September 1999

Pagi-pagi aku bangun sendirian. Aku tidur beratapkan flysheet, ditemani api unggun. Yang lain tidur dalam doom. Aku akan masak tuna pedas. Hah! Sarapan ini harus istimewa. Untuk ketiga putri astacala yang telah berhasil mencapai puncak Rengganis kemarin sore. Nasi kubuat agak banyak. Tuna pedas. Mie rebus. Teh tubruk. Ikan asin dan krupuk tak ketinggalan. Bahkan nutrisari kusiapkan, siapa tahu ada yang ingin minum air jeruk-jerukan. Semua aku persembahkan buat mereka. Buat cuci mulut, aku bikinkan agar-agar, yang kemudian kurendam di sungai (mudah-mudahan bisa beku).

Jam 08.30, masakan sudah siap. Aku menunggu sambil mendengarkan siaran radio Jember. Sebagian atap flysheet sudah kubuka, supaya terang. Pakaianku yang kotor sudah dicuci dan dijemur. Panas matahari kuharapkan mampu membuat pakaianku kering. Sleeping bag pun aku jemur di atap flysheet. Tapi, ah.... kenapa mereka belum juga bangun? Sudah satu jam masakan siap. Nasi mulai dingin. Mie rebus sudah kuhabiskan (kalau terlalu lama, tidak akan ada yang mau makan). Ah, apa mereka terlalu lelah? Atau jangan-jangan sakit? Atau aku tak sengaja berlaku kasar semalam, hingga mereka tersinggung dan tak mau makan masakanku lagi? Aku mulai was-was. Apa salahku ya?

Jam 10.00, aku mendekati tenda. Aku goyang-goyangkan tenda sambil memanggil mereka satu per satu. Terdengar suara dari dalam. Ah, rupanya mereka terlalu lelah, sehingga bangun kesiangan. "ASTACALA !!!" begitu kuteriakkan di depan tenda. Hahaha, aku mendapat kerianganku lagi saat mereka ternyata terganggu dengan teriakanku. "PEMALAS!! AYO BANGUN!!!"

Satu per satu mereka keluar. Wajahnya kusut masai, dan cemberut. Tapi melihat hidangan di atas matras, mereka terlihat senang. "Udah dari tadi nih. Air teh udah ronde kedua." Aku ke kali mengambil agar-agar yang kurendam. Lumayan, udah beku dan siap dimakan

Mereka duduk satu per saut menghadap hidangan. Memegang senjata masing-masing (sendok) lalu makan dengan lahap. Kayaknya mereka takjub melihat sederet hidangan yang disuguhkan. Setelah makan, mereka ke kali. Sekalian mencuci nesting dan trangia. Aku mulai melipat flysheet. Packing.

Jam 12.00, semua packing sudah rapi. Berger dengan target Taman Hidup. Dalam hati aku menebak, "Nggak bakalan sampe."

Dari Cisentor, medan yang dilewati masih berupa savana yang berbatas hutan cemara. Bosan juga. Yeni sempat mengeluh dengan kakinya. Kayaknya bekas jatuh kemarin masih terasa. Tapi aku nggak bantu dia. Biar yang lain saja. Nggak lama, dia sudah berdiri lagi.

Agak cepat juga perjalanan kali ini. Jam 15.00 sudah sampe di aing kenek. Sebuah lembah pertemuan tiga bukit. Banyak snip-snap di sini. Beberapa kali aku hampir menyentuh daun-daunnya. Aku menunggu kalau-kalau ada yang kena daun ganas ini (gatal dan panas). Maksudnya biar nggak terlalu membosankan. Tapi ternyata semua bernasib baik. Diputuskan untuk tidak berhenti. Suasananya syerem. Sepiii.... Nggak banyak percakapan kali ini. Entah apa yang dipikirkan mereka. Aku kesepian. Jalan lagi, setelah tak ada tanda-tanda yang ingin makan. "Masih kenyang." Tapi setengah jam berjalan, lagi-lagi kami berhenti. Buka bekal: makan biskuit. "Ada yang mau mie?" tapi ngak ada yang nafsu. Aku mulai jengkel dengan kecepatan kami. Kalau mau, ke Aing Kenek aja, buka camp lagi. Aku sendirian orienteering. Nulis puisi di belakang peta. Yang lain ketawa-ketiwi. Rasanya cuapek!

Entah berapa bukit kami naiki dan turuni. Rasanya bosan sekali. Setelah menyeberangi lembah dengan batu yang besar-besar, kami istirahat di puncak sebuah bukit. Apa ini yang namanya taman kering? Lama juga berhenti di sini, sampai aku tertidur. Sempat mimpi lagi makan nasi rawon di kantin kampus dengan gepeng. Bangun lagi, ternyata yang lain juga tertidur. Wah, "Ayo berger!" Malas-malasan kami bergerak. Lalu tiba di sadel, pertemuan dua bukit yang jalannya menikung. Malas sekali mau melanjutkan, karena jalannya naik. "Kita buka tenda di sini ajah," usul siapa aku sudah lupa. Lokasinya cukup datar. tampaknya bekas tempat camp juga. Ada bekas perapian dan rumput-rumputnya sudah dibersihkan. Ada sebuah pohon besar yang dikotori dengan beberapa tulisan dan plang kayu. Salah satunya bertuliskan singga lawang.

Makan malam hanya dengan nasi dan mie goreng. Hunkue belum tersentuh. Dendeng sudah habis. Begitu juga dengan sayur-sayuran. Nggak heran kalau nasinya nyisa. Malamnya aku tidur sendirian di luar tenda. Api menyala cukup besar, sehingga sleeping bag nggak aku buka. Cuma aku jadikan bantal ajah. Radio lagi-lagi cuma nangkap siaran dangdut. Untungnya ada siaran SW, walaupun suaranya naik turun dan campur suara semut. Sampe jam 23.00 aku belum bisa tidur. Mungkin karena khawatir dengan api yang terlalu besar. Soalnya, kering sekali di sini. Anginnya cukup besar. Jangan-jangan apinya merembet ke hutan dan jadi kebakaran. Aku bangun lagi dan masak nasi goreng. Dari tenda, suara mendengkur cukup keras terdengar. Selesai masak, api kukecilkan. Hanya bara saja yang tersisa, buat mengusir dingin. Nulis lagi, sampe jam dua pagi.

Argopuro 1999 - Bagian 10

Sabtu, 4 September 1999


Pagi ini tim dari jonggring sudah berkemas. Mereka akan turun pagi ini lewat bremi. Setelah ngobrol sebentar, mereka pamit. "Salam buat cewek-ceweknya, mas!" kata mereka, "Masih tidur ya?" Aku jawab,"Iya, kebluk semua." Hehehe.

Sepagian aku hanya tiduran saja. Yang lain nyuci di cisentor. Mau muncak jam berapa, nih? Sudah siang gini masih nyantai.

Jam 12.00, makan siang sudah siap dan kami mulai memindahkan barang ke dalam doom. Rencananya kami akan ke puncak dan langsung turun lagi. Maka barang-barangpun ditinggal. Toh ke puncak tidak jauh lagi (menurut laporan kuya, cuma dua jam)

Jam 12.30, kami berangkat. Perjalanan santai. Kadang aku sendiri di depan, berusaha menarik mereka supaya tidak terlalu santai. Aku khawatir kalau kemaleman. Nggak bawa logistik cadangan. Aku hanya bawa biskuit dan nata de coco. Hutan masih bervariasi. Jalur nanjak terus. Setiap sepuluh menit istirahat lima menit. Wah, kok seneng banget jalan santai sih?

Jam 14.30 Puncak? Nyatanya kami baru tiba di Rawa Embik. Ada sungai kecil di sini. Aku tiba di sini lima menit sebelum yang lainnya. Sempat melihat keluarga celeng ( babi hutan ) sedang bercengkrama dekat sungai. Kuteriakkan dengan keras. " ASTACALAAAA !!!!" dengan maksud mereka mendengar dan bergegas jalan lagi. Jujur saja, sendirian di rawa embik bikin aku merinding juga. Ada yang aneh di sini.

Jam 16.00, setelah bersusah payah membujuk mereka agar berjalan lebih cepat, akhirnya kami tiba di puncak Rengganis. Semua bekal di gelar di dekat puncak yang menyerupai makam. Barangali ini dulu tempat membuang sesaji, sebab di depannya ada jurang yang dalam. Sepi, hanya kami berempat di sini. Aku keluarkan Nata de Coco yang selama ini kusembunyikan. Aku tak lupa membawa gelas dan sendok. Mereka sempat bingung, "Makannya pake apa, kak?" Mereka piir aku nggak bawa gelas dan sendok. Lalu makan bergantian. Satu kali sendok, hanya boleh mengambil dua kotak nata de coco. Terus berputar, bergantian menggunakan satu sendok. (jorok ya?)

Selesai seremonial, mereka foto-foto. Aku menyendiri, melihat bekas bangunan persegi empat di bawah puncak. Sepertinya bekas candi. Buat apa bikin candi tinggi-tinggi seperti ini? Bikin orang malas sembahyang saja. Di sana, di puncak sana, ketiga cewek Telapak Bara masih saja ketawa-ketiwi. Bercanda kesana-kemari. Dan aku kesepian di sini. Berusaha memahami apa yang sedang terjadi, setelah setahun lebih aku tak mengunjungi Bandung, mendapati kenyataan pahit soal kuliah, soal ibu yang sakit (kata orang sudah hamir mati), lalu mencoba mengeja lagi makna kehadiranku di dunia ini. Di antara rimbunan edelweis dan merah hijaunya cantigi, aku menelan semua itu, merasakan mataku panas, lalu pipi dan lenganku basah.

Di ketinggian tempat ini
aku hanyalah sebutir embun
yang sedang mencari
selarik puisi



Jam 17.00 kami berger ke cisentor. Perkiraanku memang tepat: kami akan kemalaman. Padahal nggak ada yang bawa senter. Laporan kuya ternyata tidak bisa diterapkan untuk anak-anak cewek ini. Kuya mungkin atlet, sehingga tak bisa disamakan dengan cewek-cewek ini. Tapi kalau menghabiskan 3 - 4 jam untuk berjalan ke puncak dari Sicentor, rasanya keterlaluan juga. Apalagi semua bekal ditinggalkan di Cisentor. Tak ada survival kit, senter, apalagi bekal makanan yang dibawa ke puncak. Kalau ini bocor ke Badan Diklat Astacala, maka di sidang anggota muda nanti, mereka bisa kena bantai. Mudah-mudahan mereka "pandai" menulis laporannya nanti.

Secepat mungkin kami berjalan turun. Jam 18.00 tiba di Rawa Embik. Hiii, aku berlari di sini. Nggak safety rasanya, maghrib-maghrib di rawa embik. Kuatur lagi susunan barisan. Elist, Wied, Yeni, baru aku di belakang. "Ayo cepat, keburu gelap!"

Jam 19.15, setelah jatuh bangun dan beberapa kali terperosok, kami tiba di Cisentor. Setengah jam sebelumnya, kami sempat menyangka sudah tiba, karena mendengar suara aliran sungai. Ternyata masih jauh. Sebelum turun ke camp, aku sempat "hilang". Terperosok ke pinggir sungai. Untung saja nggak sampai nyemplung.

Begitu sampai, mereka langsung masuk doom. Sepertinya mereka kaget dengan perlakuanku saat turun tadi. Aku memang banyak perintah. Tapi kalau nggak gitu, bisa-bisa tengah malam baru tiba di cisentor. Itu pun kalau tidak tersesat. Mungkin mereka kesal. Makanya langsung masuk tenda. Aku masak sendirian. Kesepian. Cuma tikus gunung yang keluar. Itupun mendekati tumpukan logistik yang kusiapkan. Hanya aku, dan radio transistor empat band. Elist kemudian keluar. Dia mau bantu aku masak. Aku bilang, "kalau capek, istirahat aja. Nanti kalau sudah mateng, aku kasih tau," kataku sambil memotong sisa-sisa sayuran yang masih ada. Lumayan, masih ada kacang panjang dan wortel. Aku campur buat tumis saja. Tinggal menuggu nasi. Aku ke sungai. Airnya tak terlalu dingin. Segar setelah menyiramkan air ke tubuhku. Elist sedang sibuk mengusir tikus gunung yang nggak mau pergi-pergi.

Makan malam tanpa Wied. "Dia sudah tidur," ujar Yeni. Kupikir, mugkin dia masih marah kepadaku. Makanya nggak mau keluar. Biarlah, tapi kalau besok masih mogok makan, akan kupaksa saja.