Friday, July 06, 2007

terbawa suasana

Pernah nggak ketika kita berada di suatu tempat, terus teman kita mengajukan pertanyaan semacam ini pada kita :

+ kok tiba-tiba jadi pendiam?
+ kenapa jadi sepi begini?
+ biasanya kamu antusias
+ lho, tumben bisa teriak
+ eh, kenapa senyam-senyum sendirian?
+ waduh, puitis banget sih...

lalu kita seperti tersadar akan adanya perubahan emosi pada diri kita. Biasanya sih, itu terjadi karena kita ada di suatu tempat yang menimbulkan kesan sangat kuat pada diri kita. Makanya terus temen-temen kita akan bilang bahwa kita terbawa suasana.

Apa iya suasana (lingkungan sekitar) bisa mempengaruhi perilaku atau emosi seseorang? Yang biasanya kasar, tiba-tiba jadi lembut. Yang biasanya teriak-teriak tiba-tiba jadi pendiam, dsb. Apa bisa gitu? Secara impulsif, mungkin saja. tapi tidak bisa berlaku selamanya. Kalau suasana sudah berganti, maka perilaku juga akan mengikuti perubahan. Tapi ada kalanya efeknya berlaku permanen. Bukan berarti terus-terusan terbawa suasana, tapi akibat dari terbawa suasana tadi akan membuat seseorang berada dalam suatu kondisi dalam jangka waktu yang panjang. Kalau begini, maka suasana tadi menjadi pemicu bagi kondisi lain.

Bingung...? saya aja binun...jadi abaikan aja kalimat tadi. Tapi yang jelas, suasana memang bisa menghanyutkan seseorang hingga ia berada dalam kondisi emosi tertentu. Bisa positif, bisa pula negatif.

Nah, kalau saat bangun tidur di tengah hutan di atas gunung, kemudian membuka mata Anda, lalu pemandangan yang terlihat untuk kali pertama adalah pemandangan seperti foto di bawah ini, maka kira-kira emosi apa yang bisa timbul?


Kalau saya, jawabnya jelas.....

Thursday, July 05, 2007

gemuruh

gemuruh itu datang lagi
bagaikan rangkaian kereta barang
melintas jembatan di atas kepala.

ia lewati jalur mati

hanya deretan masa lalu lewat di sana
dengan gerbong-gerbong usang berisi untaian bunga
kering. sekarang sajakpun kurang bukit buat didaki.

seperti ingin minum dari tetes tak terjangkau,
tanganku menggapaimu.
hanya percik nafsu, barangkali.
tapi ini bukanlah pakaian dengan warna
dan model impian.
ini adalah sungai yang mengaliri tubuh.
aku kenal liku-likunya,
paham deras arusnya.
mengejar geliat ombak di pantai-pantai tak terjamah
dan teluk tak tersentuh.

lalu sibuk menutup rekah
hati, setelah gemuruh berlalu.
mamasang lukisan berjatuhan
dan kembali sia-sia menghayati
sunyi.

Wednesday, July 04, 2007

Unfinished Work

Beberapa tahun yang lalu, seorang kawan berkesempatan mengikuti acara penanaman bibit mangrove di pantai utara jakarta. Daerah penanaman merupakan wilayah pantai yang sedang direhabilitasi karena rusak akibat abrasi. Acara tersebut diikuti berbagai kalangan, mulai pejabat setingkat menteri, gubernur hingga aparat pemerintahan di tingkat bawahnya, wartawan, serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Semua terlibat aktif menanam bibit mangrove. Sekian ribu bibit ditebar dan diharapkan kelak akan menjadi hutan mangrove yang mampu mengatasi abrasi pantai.

Setelah lewat sekian tahun, kawan tadi mengajak saya untuk "meninjau" kawasan tempat ia menanam dulu. Saya membayangkan bahwa pastilah hutan mangrove sudah ijo royo-royo di sana. Tapi betapa tekejutnya teman saya itu, sebab daerah itu ternyata tak berbeda jauh kondisinya seperti saat dia ke sana kali pertama. Memang ada satu dua mangrove yang tegak, tapi jumlahnya sangat sedikit. Kalau ini memang hutan mangrove, pastilah hutan yang rusak. Lho, mana hutan mangrove yang dulu diharapkan tumbuh dari bibit-bibit yang ditanam para pejabat dulu? Apa yang salah? Setelah tanya sana-sini, ternyata acara penanaman tadi tidak ditindaklanjuti dengan perawatan yang intensif. Setelah tanam, tinggalkan. Begitulah yang terjadi. Maka sia-sia saja seremoni yang menghabiskan biaya tak sedikit itu. Tidak ada keseriusan untuk "mengawal" bibit-bibit hingga hutanmangrove yang diimpikan masih bersemayam di alam mimpi. Hilang disapu gelombang pasang sebelum sempat tumbuh.

Memang upaya dari berbagai pihk untuk mengembalikan fungsi hutan mangrove sudah sering digalakkan, tapi jika hanya sebatas menanam bibit tanpa ada perawatan intensif, maka upaya tadi tak akan memberi hasil maksimal. Harapan bagi tumbuh kembangnya mangrove menjadi omong kosong saja. Berbagai pihak akan bersedia jika diajak ikut menanam bibit bagi terciptanya hutan mangrove, tapi sedikit sekali yang bersedia diajak merawatnya.

Menanam bibit untuk hutan mangrove memang upaya yang baik dan patut dihargai, tapi jauh lebih baik jika disertai dengan upaya nyata untuk merawatnya, hingga benar-benar niat tadi bisa terlaksana secara tuntas.

Barangkali kita memang terbiasa memulai suatu pekerjaan, tapi lupa untuk menyelesaikannya.