Suaramu tiba melalui celah bukit membiru.
Meruntuhkan batu-batu nisan
yang tumbuh liar bagai ilalang diantara namamu.
Bukankah sepi tak lagi kekal ketika bisikmu memicu debar hati,
dengan skala getaran yang tak akan pernah bisa kupahami.
Sementara masih saja tak mampu kubedakan suara ombak tatkala surut
menjauh, dengan embun yang bergayut dan terjatuh
dari kelopakmu. Langit hanya menyisakan catatan diskusi tentang Tom
and Jerry, atau tentang kepura-puraan kita memahami isi hati
Robert Herrick. Atau kau telah kehilangan hasrat bertualang bersamaku
menelusuri sajak-sajak panjang The Waste Land seraya tiba-tiba teringat
pada semak di pinggir sungai tanpa muara dan tanpa hulu itu?
Tapi kaukah itu, kekasih,
yang menyisipkan tawa ceria di tengah geliat bangkitnya kota.
Lihatlah betapa tunas-tunas hijau mulai tinggi,
dan angin dari laut seberang tak lagi menebar cerita
tentang pokok-pokok hitam tua yang tak juga tumbang.
Sendiri mengeja pagi
saat garis buram di batas pintu tak lagi mencetak sisa air
mata. Maka biarlah aku gulirkan terus kisah pencarian berabad-abad
pada sudut senyummu, agar dalam ayunan bunga cempaka dini hari
bisa kulihat lambaian tanganmu
mengusir keraguanku sendiri.
Meulaboh, April 2007.
puisi ini, mungkin belum selesai....
Kalau suatu saat aku putuskan untuk berangkat,
mendaki puncak gunung tinggi,
menembus belantara hutan lebat,
atau menelusuri pantai sepi
maka, aku hanya sedang mencoba menemukan sesuatu
yang mampu menghadirkan ingatan kepadamu
dan bisa kujadikan alasan
rindu.
Wednesday, July 11, 2007
Tuesday, July 10, 2007
GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)
Pasti udah banyak yang tau tentang GPS, alat ajaib yang mampu memberi informasi yang berkaitan dengan posisi di atas bumi ini memang bukan "barang langka" lagi. Beberapa tahun lalu GPS memang masih digunakan di kalangan terbatas, tapi sekarang telpon genggam personalpun sudah ada yang dilengkapi dengan GPS. Meski demikian nggak banyak yang mau tau, teknologi apa sih yang membuat GPS menjadi sedemikian canggih itu. Nah, postingan berikut ini saya copy habis-habisan dari blognya Adek. Bukannya males mau menguliti sendiri teknologi GPS ini, tapi semata karena informasinya sudah cukup komplit Setidaknya untuk orang awam semacam saya ini. Pokoknya, copy abis...nggak dikurangi...nggak ditambahi. Kalau berminat, silakan lanjutkan bacanya. Buat adek, nuhun pisan :)
GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)
dicopy dari http://lailiaidi.blogspot.com
Laili Aidi, A-062-Kabut Fajar
Anggota Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam STTTelkom
GPS adalah sistem radio navigasi berbasis satelit yang secara terus-menerus mentransmisikan informasi dalam bentuk kode, sehingga memungkinkan kita untuk mengidentifikasikan lokasi / posisi, ketinggian, kecepatan dan waktu dengan mengukur jarak kita dengan satelit.
Satelit-satelit GPS mengelilingi bumi secara konstan, dalam waktu 12 jam, jadi dalam sehari satelit mengelilingi bumi sebanyak dua kali. Satelit-satelit mentransmisikan sinyal ke sebuah alat yang disebut receiver GPS yang dimiliki oleh seorang pengguna. Dengan receiver ini, ia kemudian dapat mengetahui posisinya di permukaan bumi.
Sistem ini dibangun oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat dengan biaya yang sangat tinggi yang berasal dari anggaran militer AS. Walaupun begitu, sistem ini dapat digunakan secara cuma-cuma oleh setiap orang di seluruh dunia, selama mereka memiliki receiver GPS.
PRINSIP KERJA GPS
Oleh Dephan AS, GPS ini disebut NAVSTAR ( Navigation Satellite Timing And Ranging ), dan pada dasarnya terdiri dari tiga buah segmen yaitu :
1. Segmen luar angkasa (Satellite / Space Segmen)
Terdiri atas satelit-satelit GPS yang berjumlah 24 buah, menempati 6 bidang orbit, dimana tiap orbit ditempati 4 satelit. Orbit-orbit satelit beriklinasi 55 derajat terhadap bidang equator dengan ketinggian rata-rata dari permukaan bumi sekitar 20.200 km. Setiap satelit GPS bergerak dalam orbitnya dengan kecepatan kira-kira 4 km/detik dan mempunyai periode 11 jam dan 58 menit (sekitar 12 jam). Engan konstelasi ini, setidaknya terdapat 4 - 10 satelit akan selalu terlihat di tempat manapun di bumi. Sebuah satelit memiliki 3 bagian hardware :
* Komputer, yang mengontrol pernerbangan dan fungsi lain satelit
* Atomic Clock, yang mengatur agar penunjuk waktu pada satelit tetap akurat hingga pada akurasi nanoseconds (around three-billionths of a second).
* Radio transmitter, yang mengatur agar satelit secara konsisten mengirimkan ke bumi agar dapat diterima receiver GPS yang sedang aktif atau sedang digunakan. Sehingga pengguna dapat mengetahui posisinya di permukaan bumi
Generasi Satelit GPS
* pertama disebut Blok Satelit (Block I Satellites), di luncurkan mulai 22 Februari 1978 hingga 9 Oktober 9 1985 yang terdiri dari 11 satelit.
* kedua disebut Sateli Blok II/IIA (Block II/IIA Satellites. Blok IIA adalah pengembangan dari Blok II, dengan perbaikan kemampuan pada penyimpanan data pesan navigasi dari 14 hari menjadi 180 hari. Hal ini membuat satelit pada blok ini mampu bekerja secara kontiniu tanpa support dari ground dari rentang periode tersebut. Total satelit pada blok ini adalah 28 buah yang diluncurkan pada Februari 1989 hingga November 1997. Pada generasi inilah selective availability (SA) dan antispoofing ditambahkan untuk menjamin keamanan nasional amerika
* terakhir GPS disebut dengan Blok IIR terdiri dari 21 satelit yang memiliki waktu hidup hingga 10 tahun. Satelit pada blok ini memiliki akurasi tinggi dan beroperasi secara automatik. Pada Juli 2001 lalu, 6 Blok IIR telah di luncurkan.
2. pengendali ( stasiun kontrol dan Monitoring Segmen).
Bertugas memonitor dan mengkontrol kesehatan satelit-satelit GPS. Stasiun-stasiun yang bertugas memonitor dan mengkontrol tersebut tersebar di seluruh dunia meliputi pulau Ascension (Samudra Atlantik bagian Selatan), Diego Garcia (Samudra Hindia), Kwajalein (Samudra Pasifik bagian Utara), Hawaii dan Colorado Springs. dan Master control station (chreiver AFB, Colorado)
3. pengguna ( Receiver dan user )
Ide dibalik GPS sangatlah sederhana. Jika jarak dari titik di bumi (GPS receiver) pada setidaknya 3 satelit GPS diketahui maka lokasi titik tersebut dapat dihitung berdaasrkan pada konsep resektion. Namun bagaimana cara mengetahi jarak satelit dengan receiver di bumi ? Hal ini dapat diketahui karena setiap satelit GPS secara terus menerus mentransmisikan sinya radio microwave yang terdiri dari 2 carrier, 2 kode dan sebuah pesan navigasi.
Saat pengguna GPS mengaktifkan receiver-nya, maka secara otomatis GPS receiver akan men-tracking beberapa satelit yang berada di atasnya yang sinyalnya mampu diterima dengan baik kemudian dengan software pada perangkat receiver tersebut ddapat diketahui jarak satelit GPS tersebut dari receiver menggunakan kode digital (pseudoranges) dan koordinat satelit tersebut berdasarkan pesan navigasi.
Secara teori dibutuhkan minimal tiga buah satelit yang sinyalnya dapat diterima dengan baik untuk mendapatkan posisi pengguna secara tepat. Apabila yang digunakan hanya dua buah satelit, maka akan sulit untuk menentukan posisi pengguna dengan menggunakan perpotongan area pancaran. Sedangkan untuk tiga buah satelit dapat terlihat perpotongan area pancar semakin mendekati posisi user. Namun secara praktikal sebenarnya dibutuhkan minimal 4 satelit untuk receiver clock offset. Akurasi untuk pengguna umum berdasarkan aturan selective availability adalah 100m untuk komponen horizontal, 156m untuk komponen vertical, 340 ns untuk komponen waktu. Secara keseluruhan adalah maksimal 95% probability level.
KEGUNAAN GPS
Dengan pengintegrasian Sistem Informasi Geografis ( GIS ), maka GPS dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan, diantaranya:
* navigasi pada sarana transportasi.Penggunaan GPS dalam hal ini banyak kita temukan. Misalnya untuk sistem navigasi pada transportasi udara seperti pesawat terbang, transportasi perairan dan darat.
* Pemetaan. Dengan GPS, kita dapat melakukan pemetaan suatu wilayah, baik darat, maupun laut. Kelebihan dari GPS ini adalah kesulitan – kesulitan yang kita hadapi saat pemetaan ( seperti gunung pada pemetaan darat ) akan dapat teratasi dengan penggunaan GPS ini. Pada pesawat GPS juga terdapat fasilitas untuk membuat peta lokasi-lokasi yang kita tinggali atau lewati. Peta ini akan digunakan sebagai guide dalam perjalanan
KEKURANGAN GPS
GPS juga memiliki keterbatasan-keterbatasan yang menyebabkan adanya ketidakakuratan penentuan posisi. Sumber dari kesalahan – kesalahan tersebut diantaranya :
* Ephemeris error, adalah kesalahan pengiriman data message yang digunakan dalam model ephemeris untuk menghitung posisi satelit saat trasmisi sinyal diterima. Padahal ephemeris satelit sudah berubah ketika message diterima oleh penerima
* Ionosphere condition, Kondisi ionosfir yang tidak kondusif menjebabkan terjadi delay dan atau kesalahan kalkulasi pada receiver. Sinyal yang melalui ionosfer mengalami pengurangan kecepatan dan pembengkokan. Kedua efek itu disebabkan oleh pembiasan (refraksi).
* Troposphere condition, perubahan temperature, tekanan, dan kelembapan molekul dapat menyebabkan perbedaan kecepatan gelombang radio sehingga dapat terjadi sedikit kesalahan akurasi
* Timing error, terjadi karena clock satelit memberikan deviasi sebesar 976 detik dari waktu sistem GPS
* Multipath error, Terjadi saat pengguna dengan receiver GPS-nya berada di daerah terbuka, akan tetapi dengan bangunan – bangunan tinggi seperti gedung pencakar langit di sekitarnya. Sinyal yang dikirimkan satelit ke receiver akan mengalami pantulan, sehingga waktu tempuh akan mengalami penambahan yang nantinya akan mempengaruhi perhitungan. Kesalahan ini terjadi karena kombinasi data lebih dari satu lintasan propagasi yang mengubah karakteristik sinyal pengukuran jarak.
* Poor satellite coverage, Terjadi derau dan resolusi berasal dari pemrosesan sinyal oleh hardware dan software penerima yang akan menambah kesalahan dalam penentuan jarak
* Selective Availibility(SA), merupakan kebijakan dari Dephan AS, yaitu pengurangan tingkat ketelitian dari sinyal yang dikirimkan oleh satelit (Tingkat ketelitian untuk pengguna sipil antara 100 – 15 m).
DAFTAR PUSTAKA
El-Rabbany, Ahmed. . . “Introduction To GPS, The Global Positioning Systems”. London : Artech House Boston
Tim Mobil Comm Laboratory. 2007. “Opend Mind 2007”. Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Telkom (Tidak diterbitkan)
McNamara, Joel. . “GPS for Dummies”. Willey Publishing Inc
sumber: http://lailiaidi.blogspot.com
GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)
dicopy dari http://lailiaidi.blogspot.com
Laili Aidi, A-062-Kabut Fajar
Anggota Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam STTTelkom
GPS adalah sistem radio navigasi berbasis satelit yang secara terus-menerus mentransmisikan informasi dalam bentuk kode, sehingga memungkinkan kita untuk mengidentifikasikan lokasi / posisi, ketinggian, kecepatan dan waktu dengan mengukur jarak kita dengan satelit.
Satelit-satelit GPS mengelilingi bumi secara konstan, dalam waktu 12 jam, jadi dalam sehari satelit mengelilingi bumi sebanyak dua kali. Satelit-satelit mentransmisikan sinyal ke sebuah alat yang disebut receiver GPS yang dimiliki oleh seorang pengguna. Dengan receiver ini, ia kemudian dapat mengetahui posisinya di permukaan bumi.
Sistem ini dibangun oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat dengan biaya yang sangat tinggi yang berasal dari anggaran militer AS. Walaupun begitu, sistem ini dapat digunakan secara cuma-cuma oleh setiap orang di seluruh dunia, selama mereka memiliki receiver GPS.
PRINSIP KERJA GPS
Oleh Dephan AS, GPS ini disebut NAVSTAR ( Navigation Satellite Timing And Ranging ), dan pada dasarnya terdiri dari tiga buah segmen yaitu :
1. Segmen luar angkasa (Satellite / Space Segmen)
Terdiri atas satelit-satelit GPS yang berjumlah 24 buah, menempati 6 bidang orbit, dimana tiap orbit ditempati 4 satelit. Orbit-orbit satelit beriklinasi 55 derajat terhadap bidang equator dengan ketinggian rata-rata dari permukaan bumi sekitar 20.200 km. Setiap satelit GPS bergerak dalam orbitnya dengan kecepatan kira-kira 4 km/detik dan mempunyai periode 11 jam dan 58 menit (sekitar 12 jam). Engan konstelasi ini, setidaknya terdapat 4 - 10 satelit akan selalu terlihat di tempat manapun di bumi. Sebuah satelit memiliki 3 bagian hardware :
* Komputer, yang mengontrol pernerbangan dan fungsi lain satelit
* Atomic Clock, yang mengatur agar penunjuk waktu pada satelit tetap akurat hingga pada akurasi nanoseconds (around three-billionths of a second).
* Radio transmitter, yang mengatur agar satelit secara konsisten mengirimkan ke bumi agar dapat diterima receiver GPS yang sedang aktif atau sedang digunakan. Sehingga pengguna dapat mengetahui posisinya di permukaan bumi
Generasi Satelit GPS
* pertama disebut Blok Satelit (Block I Satellites), di luncurkan mulai 22 Februari 1978 hingga 9 Oktober 9 1985 yang terdiri dari 11 satelit.
* kedua disebut Sateli Blok II/IIA (Block II/IIA Satellites. Blok IIA adalah pengembangan dari Blok II, dengan perbaikan kemampuan pada penyimpanan data pesan navigasi dari 14 hari menjadi 180 hari. Hal ini membuat satelit pada blok ini mampu bekerja secara kontiniu tanpa support dari ground dari rentang periode tersebut. Total satelit pada blok ini adalah 28 buah yang diluncurkan pada Februari 1989 hingga November 1997. Pada generasi inilah selective availability (SA) dan antispoofing ditambahkan untuk menjamin keamanan nasional amerika
* terakhir GPS disebut dengan Blok IIR terdiri dari 21 satelit yang memiliki waktu hidup hingga 10 tahun. Satelit pada blok ini memiliki akurasi tinggi dan beroperasi secara automatik. Pada Juli 2001 lalu, 6 Blok IIR telah di luncurkan.
2. pengendali ( stasiun kontrol dan Monitoring Segmen).
Bertugas memonitor dan mengkontrol kesehatan satelit-satelit GPS. Stasiun-stasiun yang bertugas memonitor dan mengkontrol tersebut tersebar di seluruh dunia meliputi pulau Ascension (Samudra Atlantik bagian Selatan), Diego Garcia (Samudra Hindia), Kwajalein (Samudra Pasifik bagian Utara), Hawaii dan Colorado Springs. dan Master control station (chreiver AFB, Colorado)
3. pengguna ( Receiver dan user )
Ide dibalik GPS sangatlah sederhana. Jika jarak dari titik di bumi (GPS receiver) pada setidaknya 3 satelit GPS diketahui maka lokasi titik tersebut dapat dihitung berdaasrkan pada konsep resektion. Namun bagaimana cara mengetahi jarak satelit dengan receiver di bumi ? Hal ini dapat diketahui karena setiap satelit GPS secara terus menerus mentransmisikan sinya radio microwave yang terdiri dari 2 carrier, 2 kode dan sebuah pesan navigasi.
Saat pengguna GPS mengaktifkan receiver-nya, maka secara otomatis GPS receiver akan men-tracking beberapa satelit yang berada di atasnya yang sinyalnya mampu diterima dengan baik kemudian dengan software pada perangkat receiver tersebut ddapat diketahui jarak satelit GPS tersebut dari receiver menggunakan kode digital (pseudoranges) dan koordinat satelit tersebut berdasarkan pesan navigasi.
Secara teori dibutuhkan minimal tiga buah satelit yang sinyalnya dapat diterima dengan baik untuk mendapatkan posisi pengguna secara tepat. Apabila yang digunakan hanya dua buah satelit, maka akan sulit untuk menentukan posisi pengguna dengan menggunakan perpotongan area pancaran. Sedangkan untuk tiga buah satelit dapat terlihat perpotongan area pancar semakin mendekati posisi user. Namun secara praktikal sebenarnya dibutuhkan minimal 4 satelit untuk receiver clock offset. Akurasi untuk pengguna umum berdasarkan aturan selective availability adalah 100m untuk komponen horizontal, 156m untuk komponen vertical, 340 ns untuk komponen waktu. Secara keseluruhan adalah maksimal 95% probability level.
KEGUNAAN GPS
Dengan pengintegrasian Sistem Informasi Geografis ( GIS ), maka GPS dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan, diantaranya:
* navigasi pada sarana transportasi.Penggunaan GPS dalam hal ini banyak kita temukan. Misalnya untuk sistem navigasi pada transportasi udara seperti pesawat terbang, transportasi perairan dan darat.
* Pemetaan. Dengan GPS, kita dapat melakukan pemetaan suatu wilayah, baik darat, maupun laut. Kelebihan dari GPS ini adalah kesulitan – kesulitan yang kita hadapi saat pemetaan ( seperti gunung pada pemetaan darat ) akan dapat teratasi dengan penggunaan GPS ini. Pada pesawat GPS juga terdapat fasilitas untuk membuat peta lokasi-lokasi yang kita tinggali atau lewati. Peta ini akan digunakan sebagai guide dalam perjalanan
KEKURANGAN GPS
GPS juga memiliki keterbatasan-keterbatasan yang menyebabkan adanya ketidakakuratan penentuan posisi. Sumber dari kesalahan – kesalahan tersebut diantaranya :
* Ephemeris error, adalah kesalahan pengiriman data message yang digunakan dalam model ephemeris untuk menghitung posisi satelit saat trasmisi sinyal diterima. Padahal ephemeris satelit sudah berubah ketika message diterima oleh penerima
* Ionosphere condition, Kondisi ionosfir yang tidak kondusif menjebabkan terjadi delay dan atau kesalahan kalkulasi pada receiver. Sinyal yang melalui ionosfer mengalami pengurangan kecepatan dan pembengkokan. Kedua efek itu disebabkan oleh pembiasan (refraksi).
* Troposphere condition, perubahan temperature, tekanan, dan kelembapan molekul dapat menyebabkan perbedaan kecepatan gelombang radio sehingga dapat terjadi sedikit kesalahan akurasi
* Timing error, terjadi karena clock satelit memberikan deviasi sebesar 976 detik dari waktu sistem GPS
* Multipath error, Terjadi saat pengguna dengan receiver GPS-nya berada di daerah terbuka, akan tetapi dengan bangunan – bangunan tinggi seperti gedung pencakar langit di sekitarnya. Sinyal yang dikirimkan satelit ke receiver akan mengalami pantulan, sehingga waktu tempuh akan mengalami penambahan yang nantinya akan mempengaruhi perhitungan. Kesalahan ini terjadi karena kombinasi data lebih dari satu lintasan propagasi yang mengubah karakteristik sinyal pengukuran jarak.
* Poor satellite coverage, Terjadi derau dan resolusi berasal dari pemrosesan sinyal oleh hardware dan software penerima yang akan menambah kesalahan dalam penentuan jarak
* Selective Availibility(SA), merupakan kebijakan dari Dephan AS, yaitu pengurangan tingkat ketelitian dari sinyal yang dikirimkan oleh satelit (Tingkat ketelitian untuk pengguna sipil antara 100 – 15 m).
DAFTAR PUSTAKA
El-Rabbany, Ahmed. . . “Introduction To GPS, The Global Positioning Systems”. London : Artech House Boston
Tim Mobil Comm Laboratory. 2007. “Opend Mind 2007”. Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Telkom (Tidak diterbitkan)
McNamara, Joel. . “GPS for Dummies”. Willey Publishing Inc
sumber: http://lailiaidi.blogspot.com
Monday, July 09, 2007
Sabtu-Minggunya Orang Gajian
Biasanya kalau libur sabtu - minggu (maklum, masih jadi budaknya orang kaya yang punya perusahaan sehingga liburnya terjadwal gitu), aku suka jalan-jalan ke taman kota, atau ke rumah ortu, atau nyambi jadi tukang parkir di sebuah gedung yang sering ngadain acara atau pertemuan besar (serius lho ini..., pake priwitan segala dan topi rimba biar gak kepanasan saat markirin mobil atau motor), atau kerja berat lainnya. Tapi rupanya badanku lagi nggak mau diajak melakukan aktifitas yang akan membuat peluhku membanjir di sekujur tubuh. Maka prei kali ini cuma aku manfaatkan buat istirahat di rumah aja. Ini istirahat beneran, soalnya aku lebih banyak tidur. Nggak ada kerja berat kayak angkat kursi atau tempat tidur, nggak ada kerja kasar kayak memakai parutan untuk memarut kelapa atau memakai amplas untuk ngamplas rak buku kayu hasil karya sendiri (dari kayu-kayu bekas yang kubeli di kios madura). Pokoke istirahat...
Tapi ternyata tidur melulu emang membosankan. Tadinya mau main game aja dengan kompi kesayangan. Masih penasaran dengan level veteran di Call of Duty 2. Tapi karena suka ada yang mendelik karena merasa dicuekin kalau aku lagi main game di kompi, makanya pada hari Minggunya aku coba kombinasi ini:
1. Setel WinAmp dan menyiapkan =>
Second Live - Genesis (konser, vocalisnya sudah Phil Collins, bukan Gabriel)
Scene From Memories - Dream Theater
Private Collection #1 - Ermy Kullit
Selling Endland By The Pound - Genesis
Lir ilir - Emha Ainun Najib dan Kyai Kanjeng.
Equalizer diatur ke preset Full Bass and Treble.
2. Empat comro yang masih panas (sisanya masih ada yang belum digoreng dan disimpan di kulkas biar lebih renyah saat digoreng nanti. rencananya sisa ini buat cemilan senin malam. Eh, dah pada tau kan, kalau comro itu oncom dijero?). Nggak ketinggalan teh tubruk (nggak bermaksud promosi, tapi teh kasar merk Tjatoet itu rasanya uueenak buaanged). Sempat juga kepikiran untuk nyeduh bandrek susu (dilabel kotaknya, bandrek ini terbikin dari pala, lada, dan tanpa jahe. sedangkan untuk susu, biasanya aku pake susu kental manis. Racikan ini, akan membuatku teringat pada kawasan Tjiwidej (baca: ciwidey) karena di daerah Ranca Suni ada warung Bandrek Abah yang menyuguhkan bandrek susu pake kelapa muda yang dikerok.
3. Menyiapakan buku-buku, mengatur bantal untuk sandaran punggung, lalu mulai membaca sambil denger musik. Berikut kronologis pembacaan bukunya:
3.a "How to Speak Dragonese" yang kocak abis dan mengungkit-ungkit keinginan nulis dan nggambar (= bikin komik). Sebenarnya buku terbitan litle k ini (anaknya penerbit qanita) lebih seru seri pertamanya: "How to Train Your Dragon" karena al. berisi asal-usul si Toothless, naga milik Hiccup yang kayaknya lebih mirip cicak ompong. Tapi aku juga pengen belajar bahasa naga... bukan napas naga loh. Makanya kupilih buku ini. Selama satu jam aku cekikikan sendirian sambil membayangkan Hiccup yang pewaris tunggal kepala sku bangsa Viking, dan Fishleg koleganya. Suara dari WinAmp lewat begitu aja tanpa sempat disimak dengan serius. Namanya aja istirahat, jadi nggak usah serius juga nggak papa
3.b "Nagasasra Sabukinten" terbitan Kedaulatan Rakyat karangan S.H. Mintardja (buku ini aku baca kali pertama saat masih SMP, saat ibuku meminjamnya dari Pak Sampan, tetanggaku yang udah ubanan. Beliau menjilid rapi koleksinya dan membuatku terinspirasi untuk menjilid koleksi Kisah Petualangan Asterix dan Obelix, bertahun-tahun kemudian). Tentu saja bukan buku beliau yang saat ini aku baca. Buku kedua ini terlalu panjang kalau dibaca semua. Maka hanya aku baca episode saat jagoannya bertekuk lutut di hadapan gadis pujaan hatinya, ketika si jagoan tergagap-gagap saat gadis itu nangis, dan makin gagap saat setiap kata-katanya malah bikin gadisnya tambah nangis. Padahal tatkala sedang berhadapan dengan musuh-musuhnya, pasti lutut musuhnya itu yang ditekuk-tekuk oleh si jagoan. Tapi laki-laki perkasa sekalipun memang sering keliru membaca tanda dari peta yang disodorkan perempuan pemujanya.
3.c Salah satu novel metropop-nya GPU yang bernomor seri GM 401 05.014 dan dengan ISBN : 979 - 22 - 1625 - 1). Dalam koleksi pop karya penulis lokalku, buku ini mampu menggeser dominasi novel Tia dari penerbit yang sama karangan Kembang Manggis, yang sekarang jualan penganan kecil di Bogor dan kayaknya udah pensiun nulis. Biasanya, buku Tia ini yang aku baca ulang kalau lagi pingin mbaca buku-buku lama.
Buku ketiga ini sudah pernah kubaca juga (ugh... entah berapa kali, aku enggan menghitung... ntar penulisnya ge-er. hehehe... becanda, sebenarnya aku emang lupa dah berapa kali). Makanya kali ini bacanya loncat-loncat (maksudku halamannya, bukan akunya yang loncat-loncat). Tapi aku berhenti lama saat membaca bab 28, soalnya - seperti yang tokoh di buku itu lakukan di bab 28 - aku pernah juga "lari" karena merasa galau dan dunia seolah akan runtuh menimpa kepala. Makanya di paragraf-paragraf awal bab ini, aku berhenti lama mengenang masa lalu. (ciee... memori daun pisang neh?). Lalu balik lagi ke halaman awal buku untuk membaca prolognya yang berupa puisi. Saat ini (kebetulan atau bukan?), WinAmp sedang menyajikan Afterglow milik Genesis. Kombinasi suara Phil Collins yang ngos-ngosan karena habis nyanyi medley sambil main drum, serta kalimat puisi tentang pencarian di awal buku ini ternyata bisa bikin aku merinding. "...'cause i miss... you more....," begitu ucap Phil Collins parau. Mata tiba-tiba terasa panas... akh, laki-laki nangis seh... Oh ya, aku lebih suka kalau buku ini dihabisi saja di Bab 46. Maka setelah Bab 46, aku nggak lanjutkan membacanya.
3.d "Rumahku Dunia" karya Eka Budianta. Aku sudah empat kali membeli buku ini, tiga diantaranya aku berikan sebagai kado ultah temanku. Lantas "Kartu Nama" karya Kurnia Effendi. Kedua kumpulan puisi ini berisi hal-hal menakjubkan yang hanya bisa dituang ke dalam puisi, atau direguk dari dalam puisi.
Baca beberapa judul selama setengah jam ketika WinAmp sedang dalam posisi menampilkan suara Emha yang nggak merdu namun sanggup untuk langsung nyelonong ke dalam kalbu. "...Kenapa bukan, '...Bapak Jendral...Bapak Jendral...,' melainkan '...Cah Angon...Cah Angon...pene'no blimbing kuwi....' Kenapa blimbing...itu terserah Anda mau menafsirkan blimbing bersudut lima ini sebagai apa...yang jelas harus ada yang memanjat untuk blimbing ini...meski jalannya licin".
Eh, diantara lembaran buku Rumahku Dunia, kutemukan selembar kertas yang terselip dan ternyata berisi coretan tulisan tanganku. Isinya aku ketik ulang di sini:
Lewat tengah hari kau kembali menyapa daun-daun kayu manis hingga mereka bergoyang riang karena air yang kau siram di area pembibitan. Ada memang nyamuk kebun datang dengan suara berdengung, tapi kau tak peduli. Irama yang disuguhkan percikan air diantara daun-daun dan polybag begitu serasi disela keceriaan suaramu, meski tanah becek dan cipratan air menjadi akrab di telapak kaki. Lama kuamati kebiasaanmu dari kejauhan saat sesekali mengusapkan handuk kecil di dahi yang berkeringat. Inilah saat ketika sore bagai berhenti di hadapanmu dan menjelma lukisan keemasan, seakan tubuh kecilmu sanggup menahan berlalunya senja yang entah mengapa tak terlihat lembayungnya dari balik matamu
"Ada yang minta bibit? berikan saja, kebun kita tak akan kehabisan upaya," serumu saat dana bagai pohon di hutan jati yang meranggas. Impian besar yang belum tercapai tak mengurangi kebaikan hati, bahkan ketika benda kesayangan direnggut dan membuat kayuhan ke tanah seberang tersendat. "Dalam sudut saku, mungkin terselip hak anak yatim tanpa sengaja," belamu. Ingin kuucapkan selamat pagi selalu, betapa waktu seolah terhenti saat kesibukan berlalu, dan diam-diam kuselipkan melati diantara barisan kata ini.
waduh, ini puisi yang belum jadi, kapan nulisnya ya...? Jelas puisi ini kutujukan buat seseorang. Cepat-cepat kusalin ke kompi. hehehe... Mungkin terbaca agak kacau, maklum aja, belon selesai.
Ternyata kombinasi hal-hal yang aku lakukan tadi bisa mengantarku pada, "Aduh, udah Minggu sore. Mesti nyiapin tetek bengek lagi buat kerjaan besok."
"Emang sebel ya, kalau ketemu Minggu sore?" yang nggak aku jawab.
Malamnya aku nonton siaran langsung efwan (Formula Satu). Tapi jagoanku masih kalah aja, mungkin masih trauma karena beberapa tahun yang lalu sempat kecelakaan sampai memaksanya istirahat selama beberapa seri balapan, sehingga sampai kini ia kehilangan nyali buat gila-gilaan di sirkuit. Ini cuma mungkin loh, saya bukan psikiater....
Selesai sudah akhir pekanku yang berharga dan kulewatkan tanpa hasil konkret (nggak ada uang hasil parkiran, nggak ada rak buku yang jadi lebih halus, nggak ada tata letak barang yang baru di kamarku, nggak ada anak SMP atau SMA yang fisiknya tambah bugar karena ikutan latihan fisikku, nggak ada ... yah, nggak ada hasil fisik yang keliatan jelas gitu).
Tapi biarpun nggak ada hasil fisik, pasti ada hasil non-fisiknya. Mudah-mudahan ini nggak cuma menghibur diri, karena mungkin aku bisa belajar dan memperkaya wawasan dari lagu dan buku-buku tadi. Setidaknya aku ingat lagi bahwa aku mesti hati-hati saat bicara atau bersikap terhadap makhluk hidup berlabel perempuan; atau menambah koleksi vocabulary bahasa naga; atau ... apa lagi ya? apa baca puisi bisa memperkaya batin... ? bisa mengajarkan sesuatu yang bermanfaat...?
Yang jelas, senin ini aku merasa fresh saat masuk kantor, segar kayak ketimun atau jamblang yang baru dipetik. Yah... begitulah sabtu minggunya orang gajian saat bermalas-malasan di rumah.
Tapi ternyata tidur melulu emang membosankan. Tadinya mau main game aja dengan kompi kesayangan. Masih penasaran dengan level veteran di Call of Duty 2. Tapi karena suka ada yang mendelik karena merasa dicuekin kalau aku lagi main game di kompi, makanya pada hari Minggunya aku coba kombinasi ini:
1. Setel WinAmp dan menyiapkan =>
Second Live - Genesis (konser, vocalisnya sudah Phil Collins, bukan Gabriel)
Scene From Memories - Dream Theater
Private Collection #1 - Ermy Kullit
Selling Endland By The Pound - Genesis
Lir ilir - Emha Ainun Najib dan Kyai Kanjeng.
Equalizer diatur ke preset Full Bass and Treble.
2. Empat comro yang masih panas (sisanya masih ada yang belum digoreng dan disimpan di kulkas biar lebih renyah saat digoreng nanti. rencananya sisa ini buat cemilan senin malam. Eh, dah pada tau kan, kalau comro itu oncom dijero?). Nggak ketinggalan teh tubruk (nggak bermaksud promosi, tapi teh kasar merk Tjatoet itu rasanya uueenak buaanged). Sempat juga kepikiran untuk nyeduh bandrek susu (dilabel kotaknya, bandrek ini terbikin dari pala, lada, dan tanpa jahe. sedangkan untuk susu, biasanya aku pake susu kental manis. Racikan ini, akan membuatku teringat pada kawasan Tjiwidej (baca: ciwidey) karena di daerah Ranca Suni ada warung Bandrek Abah yang menyuguhkan bandrek susu pake kelapa muda yang dikerok.
3. Menyiapakan buku-buku, mengatur bantal untuk sandaran punggung, lalu mulai membaca sambil denger musik. Berikut kronologis pembacaan bukunya:
3.a "How to Speak Dragonese" yang kocak abis dan mengungkit-ungkit keinginan nulis dan nggambar (= bikin komik). Sebenarnya buku terbitan litle k ini (anaknya penerbit qanita) lebih seru seri pertamanya: "How to Train Your Dragon" karena al. berisi asal-usul si Toothless, naga milik Hiccup yang kayaknya lebih mirip cicak ompong. Tapi aku juga pengen belajar bahasa naga... bukan napas naga loh. Makanya kupilih buku ini. Selama satu jam aku cekikikan sendirian sambil membayangkan Hiccup yang pewaris tunggal kepala sku bangsa Viking, dan Fishleg koleganya. Suara dari WinAmp lewat begitu aja tanpa sempat disimak dengan serius. Namanya aja istirahat, jadi nggak usah serius juga nggak papa
3.b "Nagasasra Sabukinten" terbitan Kedaulatan Rakyat karangan S.H. Mintardja (buku ini aku baca kali pertama saat masih SMP, saat ibuku meminjamnya dari Pak Sampan, tetanggaku yang udah ubanan. Beliau menjilid rapi koleksinya dan membuatku terinspirasi untuk menjilid koleksi Kisah Petualangan Asterix dan Obelix, bertahun-tahun kemudian). Tentu saja bukan buku beliau yang saat ini aku baca. Buku kedua ini terlalu panjang kalau dibaca semua. Maka hanya aku baca episode saat jagoannya bertekuk lutut di hadapan gadis pujaan hatinya, ketika si jagoan tergagap-gagap saat gadis itu nangis, dan makin gagap saat setiap kata-katanya malah bikin gadisnya tambah nangis. Padahal tatkala sedang berhadapan dengan musuh-musuhnya, pasti lutut musuhnya itu yang ditekuk-tekuk oleh si jagoan. Tapi laki-laki perkasa sekalipun memang sering keliru membaca tanda dari peta yang disodorkan perempuan pemujanya.
3.c Salah satu novel metropop-nya GPU yang bernomor seri GM 401 05.014 dan dengan ISBN : 979 - 22 - 1625 - 1). Dalam koleksi pop karya penulis lokalku, buku ini mampu menggeser dominasi novel Tia dari penerbit yang sama karangan Kembang Manggis, yang sekarang jualan penganan kecil di Bogor dan kayaknya udah pensiun nulis. Biasanya, buku Tia ini yang aku baca ulang kalau lagi pingin mbaca buku-buku lama.
Buku ketiga ini sudah pernah kubaca juga (ugh... entah berapa kali, aku enggan menghitung... ntar penulisnya ge-er. hehehe... becanda, sebenarnya aku emang lupa dah berapa kali). Makanya kali ini bacanya loncat-loncat (maksudku halamannya, bukan akunya yang loncat-loncat). Tapi aku berhenti lama saat membaca bab 28, soalnya - seperti yang tokoh di buku itu lakukan di bab 28 - aku pernah juga "lari" karena merasa galau dan dunia seolah akan runtuh menimpa kepala. Makanya di paragraf-paragraf awal bab ini, aku berhenti lama mengenang masa lalu. (ciee... memori daun pisang neh?). Lalu balik lagi ke halaman awal buku untuk membaca prolognya yang berupa puisi. Saat ini (kebetulan atau bukan?), WinAmp sedang menyajikan Afterglow milik Genesis. Kombinasi suara Phil Collins yang ngos-ngosan karena habis nyanyi medley sambil main drum, serta kalimat puisi tentang pencarian di awal buku ini ternyata bisa bikin aku merinding. "...'cause i miss... you more....," begitu ucap Phil Collins parau. Mata tiba-tiba terasa panas... akh, laki-laki nangis seh... Oh ya, aku lebih suka kalau buku ini dihabisi saja di Bab 46. Maka setelah Bab 46, aku nggak lanjutkan membacanya.
3.d "Rumahku Dunia" karya Eka Budianta. Aku sudah empat kali membeli buku ini, tiga diantaranya aku berikan sebagai kado ultah temanku. Lantas "Kartu Nama" karya Kurnia Effendi. Kedua kumpulan puisi ini berisi hal-hal menakjubkan yang hanya bisa dituang ke dalam puisi, atau direguk dari dalam puisi.
Baca beberapa judul selama setengah jam ketika WinAmp sedang dalam posisi menampilkan suara Emha yang nggak merdu namun sanggup untuk langsung nyelonong ke dalam kalbu. "...Kenapa bukan, '...Bapak Jendral...Bapak Jendral...,' melainkan '...Cah Angon...Cah Angon...pene'no blimbing kuwi....' Kenapa blimbing...itu terserah Anda mau menafsirkan blimbing bersudut lima ini sebagai apa...yang jelas harus ada yang memanjat untuk blimbing ini...meski jalannya licin".
Eh, diantara lembaran buku Rumahku Dunia, kutemukan selembar kertas yang terselip dan ternyata berisi coretan tulisan tanganku. Isinya aku ketik ulang di sini:
Lewat tengah hari kau kembali menyapa daun-daun kayu manis hingga mereka bergoyang riang karena air yang kau siram di area pembibitan. Ada memang nyamuk kebun datang dengan suara berdengung, tapi kau tak peduli. Irama yang disuguhkan percikan air diantara daun-daun dan polybag begitu serasi disela keceriaan suaramu, meski tanah becek dan cipratan air menjadi akrab di telapak kaki. Lama kuamati kebiasaanmu dari kejauhan saat sesekali mengusapkan handuk kecil di dahi yang berkeringat. Inilah saat ketika sore bagai berhenti di hadapanmu dan menjelma lukisan keemasan, seakan tubuh kecilmu sanggup menahan berlalunya senja yang entah mengapa tak terlihat lembayungnya dari balik matamu
"Ada yang minta bibit? berikan saja, kebun kita tak akan kehabisan upaya," serumu saat dana bagai pohon di hutan jati yang meranggas. Impian besar yang belum tercapai tak mengurangi kebaikan hati, bahkan ketika benda kesayangan direnggut dan membuat kayuhan ke tanah seberang tersendat. "Dalam sudut saku, mungkin terselip hak anak yatim tanpa sengaja," belamu. Ingin kuucapkan selamat pagi selalu, betapa waktu seolah terhenti saat kesibukan berlalu, dan diam-diam kuselipkan melati diantara barisan kata ini.
waduh, ini puisi yang belum jadi, kapan nulisnya ya...? Jelas puisi ini kutujukan buat seseorang. Cepat-cepat kusalin ke kompi. hehehe... Mungkin terbaca agak kacau, maklum aja, belon selesai.
Ternyata kombinasi hal-hal yang aku lakukan tadi bisa mengantarku pada, "Aduh, udah Minggu sore. Mesti nyiapin tetek bengek lagi buat kerjaan besok."
"Emang sebel ya, kalau ketemu Minggu sore?" yang nggak aku jawab.
Malamnya aku nonton siaran langsung efwan (Formula Satu). Tapi jagoanku masih kalah aja, mungkin masih trauma karena beberapa tahun yang lalu sempat kecelakaan sampai memaksanya istirahat selama beberapa seri balapan, sehingga sampai kini ia kehilangan nyali buat gila-gilaan di sirkuit. Ini cuma mungkin loh, saya bukan psikiater....
Selesai sudah akhir pekanku yang berharga dan kulewatkan tanpa hasil konkret (nggak ada uang hasil parkiran, nggak ada rak buku yang jadi lebih halus, nggak ada tata letak barang yang baru di kamarku, nggak ada anak SMP atau SMA yang fisiknya tambah bugar karena ikutan latihan fisikku, nggak ada ... yah, nggak ada hasil fisik yang keliatan jelas gitu).
Tapi biarpun nggak ada hasil fisik, pasti ada hasil non-fisiknya. Mudah-mudahan ini nggak cuma menghibur diri, karena mungkin aku bisa belajar dan memperkaya wawasan dari lagu dan buku-buku tadi. Setidaknya aku ingat lagi bahwa aku mesti hati-hati saat bicara atau bersikap terhadap makhluk hidup berlabel perempuan; atau menambah koleksi vocabulary bahasa naga; atau ... apa lagi ya? apa baca puisi bisa memperkaya batin... ? bisa mengajarkan sesuatu yang bermanfaat...?
Yang jelas, senin ini aku merasa fresh saat masuk kantor, segar kayak ketimun atau jamblang yang baru dipetik. Yah... begitulah sabtu minggunya orang gajian saat bermalas-malasan di rumah.
Subscribe to:
Posts (Atom)