Aku kembali masuk tenda untuk tidur. Di luar memang masih gelap, dengan bintang-bintang tampak begitu dekat. Berkilauan, seperti mengejap pada mata yang masih terasa berat. Pagi itu Alun-alun Suryakencana menawarkan keheningan yang utuh. Menuntunku ke dalam dunia yang asing. Tentu saja asing bagi diriku yang tiap hari berkutat di kesibukan kerja di kota yang bising. Udara dingin langsung menyeruak masuk ke dalam tenda saat pintunya terbuka. Membuat siapa saja akan dihinggapi rasa malas untuk meninggalkan kenyamanan dalam lelap. Tapi ada kewajiban yang tak bisa ditunda dan telah memaksaku keluar tenda.
Tanggal 2 - 3 Mei 2009, aku kembali melakukan perjalanan dengan Astacala. "Hanya" ke gunung Gede, memang. Tempat yang telah aku sambangi entah berapa kali sejak tahun 1988. Tapi tetap saja ini sebuah gunung, yang merupakan bagian dari alam. Gunung dengan hutan, tanjakan, lembah, dan misteri yang tak pernah lepas dari tubuhnya. Kita bisa saja mengatakan sudah mendaki gunung ratusan kali. Namun tetap saja, saat melakukan pendakian, kita tak pernah bisa tahu dengan persis, apa yang ada di dalam kepekatan rimba. Kita tak mampu menebak dengan pasti apa yang menanti di akhir setiap tanjakan; di balik setiap tikungan; atau di sela batang-batang pepohonan, karena kita memang bukan apa-apa di hadapan alam.
Aku jadi teringat lagi dengan kata-kata Aconk di awal pendakian, bahwa dia belum lahir ketika aku pertama kali ke gunung Gede ini. Umur kami terpaut belasan tahun. Lebih dari satu dekade. Tapi tetap saja ini sebuah gunung, yang merupakan bagian dari alam. Alam tak pernah membedakan usia. Ia akan memberikan perlakuan yang sama, tak peduli apakah umur kita 21 tahun, 37 tahun, atau 71 tahun (Himawan Tedjomulyono lahir di Temanggung 12 September 1936, tercatat di MURI sebagai Pendaki Gunung tertua, 71 Tahun 3 Bulan saat mendaki Gunung Rinjani). Umur dan pengalaman akan sia-sia jika hanya untuk memanggul kesombongan menghadapi alam. Alam tetaplah sebuah misteri yang harus disikapi dengan jujur, termasuk kejujuran menyusun niat saat mencoba mengakrabinya.
Lalu apa tujuanku ikut mendaki gunung Gede kali ini? Sekedar hunting foto? Melemaskan otot-otot yang sudah kaku, mencoba lebih dekat lagi dalam mengenal adik-adik di Astacala, atau ada niat-niat lain? Apapun itu, kita sama sekali tak bisa berbohong kepada alam. Ia akan memberi apa yang kita niatkan. Kalau hanya sekadar jalan-jalan menikmati pemandangan alam, maka alam akan menyuguhkan keindahan yang memang kita inginkan. Karena alam selalu jujur dan tak pernah menyembunyikan apapun. Apa adanya.
Mungkin kondisi apa adanya itulah yang seringkali membuat manusia goyah. Sering manusia menipu diri sendiri, berusaha tampil dengan kondisi tertentu meski harus bersolek dan menutupi kekurangan. Padahal, itu beban yang akan memberatkan seumur hidup. Akibatnya, kepalsuan yang telah dipilih harus selalu dijaga dengan segenap kemampuan. Energi yang harusnya bisa dipakai untuk kegiatan yang lebih positif, malah habis dipakai untuk menambal kepalsuan-kepalsuan agar selalu utuh dan terlihat baik.
Di antara keindahan alun-alun Surya Kencana
yang batasnya memagar jiwa,
kepalsuanpun kehilangan makna.
Maka keindahan alam akan mengajarkan pada setiap manusia, bahwa 'apa adanya' adalah sebuah keindahan. Berkali-kali perjalanan, ratusan kilometer lintasan yang akui jalanai bersama Astacala, semakin mengukuhkan keyakinan tadi. Ingin rasanya berbagi dengan teman-teman yang dulu sering bermain bersama di alam ini. Mereka pasti punya pelajaran lain yang diserap dari alam dan mungkin bisa sama-sama bertukar pikiran dan membagi pengetahuan. Tapi di dalam tenda ini, sebelah kiriku adalah Petong, dan di kanan Aconk, yang kebetulan baru kali ini aku merasakan perjalanan bersama mereka. Di tenda lain ada Somad, Singo, Rifki, Adek, Gimbal, dan Astaka. Bukan Gepeng, bukan Ewok bukan Isnanto, atau Irphan, yang dulu sering menemaniku berguru di alam dan terjebak dalam limpahan keindahan dan Rahmatnya.
Pada akhirnya, Surya Kencana hanyalah alun-alun, yang keindahannya hanya sebingkai gambar
atau menjadi semacam guru yang tak pernah kehabisan ilmu untuk ditebar. Sama seperti tempat-tempat lain di bumi ini. Sama seperti indahnya tempat pelelangan ikan, atau lapak-lapak tempat pemulung menukarkan ratusan gelas plastik bekas menjadi beberapa bilangan rupiah. Semua bisa menjadi indah, manakala hati kita terbuka menerima keindahannya, dan menyerapnya menjadi sesuatu yang berguna bagi kita semua.
Kalau suatu saat aku putuskan untuk berangkat,
mendaki puncak gunung tinggi,
menembus belantara hutan lebat,
atau menelusuri pantai sepi
maka, aku hanya sedang mencoba menemukan sesuatu
yang mampu menghadirkan ingatan kepadamu
dan bisa kujadikan alasan
rindu.
Wednesday, May 06, 2009
Wednesday, April 22, 2009
Kebun (2)
Masih ada kebun lainnya. Ini kebun rahasia, karena tak ada orang lain dalam keluarga yang tahu keberadaan kebun itu (tiba-tiba aku ingat dengan The Secret Garden karya Frances Hodgson Burnett. Download aja di proyek gut**berg) ). Kebun itu terletak di sebuah tempat yang jauh dari rumah. Tentu, Kau pasti beranggapan bahwa 'jauh' itu satuan yang relatif. Berapa jauh kita melangkah, atau berapa jauh Kau sanggup pergi, adalah tipe pertanyaan yang jawabannya bisa memberi tafsiran yang beragam. Namun bisa disebutkan bahwa kebun itu jauh karena untuk mencapainya dibutuhkan waktu satu hari perjalanan dengan kendaraan. Bisa lebih cepat sih, kalau menggunakan pesawat terbang atau pakai transporter seperti yang ada di USS Enterprises milik Kapten Kirk dkk. di Star Trek. Tapi yang biasa dilakukan adalah perjalanan darat belasan jam. Oke, aku kira hal itu udah bisa menjelaskan kenapa kebun itu bisa dibilang jauh.
Masalahnya cuma satu: kebun itu masih dikuasai orang lain. Lho?! Iya, sebab orang lain itulah yang pertama kali menemukan kebun itu lalu merawatnya di dunia ini. Catat: di dunia ini. Padahal, akulah yang menemukannya pertama kali, jauh sebelum dia lahir. Bahkan sebelum aku sendiri lahir. Ya, sebab akulah memang pemilik sah dari kebun itu sejak masih di alam arwah. *sok tau mode & nggak mau kalah mode: on*
Tapi nggak papa. Keterpisahan kami itu tak akan lama (lagi-lagi, ukuran waktu adalah hal yang relatif). Setidaknya bila dibandingkan usia alam semesta ini, maka kepemilikan sementara itu tak akan lama. Kita akan segera mati, dan aku akan memiliki kebun itu. Selamanya.
Sekarang aku hanya bisa memandang kebun itu dari jauh. Mencium aromanya tiap kali angin menyusup di jendela dan membuat tirai berkibar-kibar. Kadang-kadang terbaca juga jejaknya dari ceceran tanah yang tersebar di berbagai tempat. Pasti ada orang lain yang ikut melihat ceceran tanah itu, tapi aku tak peduli. Karena suatu saat, aku akan bertemu dan rebah di tengah kebun itu.
Jakarta, 22 April 2009
Masalahnya cuma satu: kebun itu masih dikuasai orang lain. Lho?! Iya, sebab orang lain itulah yang pertama kali menemukan kebun itu lalu merawatnya di dunia ini. Catat: di dunia ini. Padahal, akulah yang menemukannya pertama kali, jauh sebelum dia lahir. Bahkan sebelum aku sendiri lahir. Ya, sebab akulah memang pemilik sah dari kebun itu sejak masih di alam arwah. *sok tau mode & nggak mau kalah mode: on*
Tapi nggak papa. Keterpisahan kami itu tak akan lama (lagi-lagi, ukuran waktu adalah hal yang relatif). Setidaknya bila dibandingkan usia alam semesta ini, maka kepemilikan sementara itu tak akan lama. Kita akan segera mati, dan aku akan memiliki kebun itu. Selamanya.
Sekarang aku hanya bisa memandang kebun itu dari jauh. Mencium aromanya tiap kali angin menyusup di jendela dan membuat tirai berkibar-kibar. Kadang-kadang terbaca juga jejaknya dari ceceran tanah yang tersebar di berbagai tempat. Pasti ada orang lain yang ikut melihat ceceran tanah itu, tapi aku tak peduli. Karena suatu saat, aku akan bertemu dan rebah di tengah kebun itu.
Jakarta, 22 April 2009
Kalau Marah
Sebagaimana manusia lainnya, saya juga pernah marah. Tidak ada manusia yang tidak pernah marah. Semua pasti pernah marah. Tidak berarti saya ini pemarah, lho. Lagipula, marah juga diperlukan, asalkan ada alasan yang benar dan sesuai.
Persoalannya, kadang ada yang marahnya berlebihan dan tidak proporsional lagi. Hanya karena satu masalah, marahnya merembet hingga ke masalah-masalah lain.
Nah, supaya marahnya nggak kebablasan, ada berbagai cara yang bisa dipakai. Sebelum menumpahkan kemarahan bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:
Kalau sedang berjalan, cobalah untuk berhenti
Kalau sedang berdiri, cobalah untuk duduk
Menarik napas beberapa kali
Menghitung dari 1 - 100, kalau perlu sampai 1.000
Cuci muka (untuk yang muslim, ambil air wudlu. kemarahan itu iblis, dan iblis itu terbuat dari api. maka usirlah marah denagn air wudlu)
Mennyetel musik kesukaan
Mengingat saat-saat kita sendiri melakukan kesalahan.
Hmmm.... mungkin ada cara-cara lain yang bisa dipakai. Kalau ada, boleh sharing di sini ;) .
Pada kenyataannya, sangat sulit mengendalikan kemarahan. Jangankan untuk cuci muka atau mendengarkan musik kesukaan, untuk menarik napas panjang saja sulit. Iya nggak? Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.
Persoalannya, kadang ada yang marahnya berlebihan dan tidak proporsional lagi. Hanya karena satu masalah, marahnya merembet hingga ke masalah-masalah lain.
Nah, supaya marahnya nggak kebablasan, ada berbagai cara yang bisa dipakai. Sebelum menumpahkan kemarahan bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:
Kalau sedang berjalan, cobalah untuk berhenti
Kalau sedang berdiri, cobalah untuk duduk
Menarik napas beberapa kali
Menghitung dari 1 - 100, kalau perlu sampai 1.000
Cuci muka (untuk yang muslim, ambil air wudlu. kemarahan itu iblis, dan iblis itu terbuat dari api. maka usirlah marah denagn air wudlu)
Mennyetel musik kesukaan
Mengingat saat-saat kita sendiri melakukan kesalahan.
Hmmm.... mungkin ada cara-cara lain yang bisa dipakai. Kalau ada, boleh sharing di sini ;) .
Pada kenyataannya, sangat sulit mengendalikan kemarahan. Jangankan untuk cuci muka atau mendengarkan musik kesukaan, untuk menarik napas panjang saja sulit. Iya nggak? Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.
Subscribe to:
Posts (Atom)