Friday, October 20, 2006

Argopuro 1999 - Bagian 13

Selasa, 7 September 1999

Pagi-pagi aku sudah di dapur. Dapurnya hangat. Mungkin karena masaknya menggunakan perapian dengan bahan bakar kayu. Bukan kompor seperti di rumah kita. Aku betah di dapur, sebab bisa main api dengan kayu dan perapian. Mungkin kecenderungan manusia untuk senang main api, ya? (keponakanku saat berumur 4 tahun pernah membakar sofa kecil milik kakek-neneknya. Hehehe...

Jelas saja bapak-ibuku marah. Sekarang kursi itu tak bisa dipakai lagi. Tinggal kerangka kayunya saja yang tersisa. Sekarang dipakai utuk meja komputer adikku). Aku masak nasi, mie rebus, telor ceplok, dan menggoreng sisa-sisa kerupuk. Bu pudji beli susu lagi. (di mana siy, belinya?) Dia juga beli kerupuk lagi. Kalau gula dan semua sisa perbekalan, sudah aku oper pada dia. Sarapan, lalu packing dan menunggu yang lain bersih-bersih. Yeni sempat protes ketika tahu aku akan pake kaos A. Sebab dia ga mau ada orang lain yang nyamain dia yang tinggal punya satu kaos bersih: kaos A. Tapi aku cuek aja, biarpun resikonya akan dianggap sebagai rombongan dari panti asuhan. Yang lain bersih-bersih di kamar kecil milik kantor polsek krucil. Katanya gantian, sebab takut polisi-polisi itu iseng. Maka mekanismenya: satu orang masuk, dua orang jaga di luar sambil ngobrol dengan polisi-polisi. Wah, apa enaknya ngobrol di depan kamar kecil? Atau ngobrolnya sambil tutup hidung? Lagipula, apa polisi-polisi itu bernapsu untuk ngecengin mereka yang kucel-kucel itu? Aku sendiri tadi cuma mbasuh badan di pancuran belakang rumah bu pudji, dan nggak ada yang ngeliat tuh.

Sesudahnya aku menjalani ritual rutin di ruang tamu: nyeruput kopi dan nguping radio. Banyak foto dan slayer digantung di dinding. Ada juga peta usang. Lalu baca-baca log pendaki di buku besar yang sudah ada tiga buah. Kucari-cari nama anak-anak astacala yang pernah mengisinya. Ada juga ternyata. Ada tulisan tangan kuya. Ada juga yang nempelin foto-fotonya. Wah, narsis banget siy? Bosan dan pengap di dalam rumah, aku keluar. Liat-liat sekeliling. Ada tumpukan kayu bakar di samping rumah, yang ternyata bu pudji membelinya, tidak mencari sendiri.

Anak-anak lama sekali. Jam setengah sebelas baru pada selesai. Mungkin karena sekalian be-ol. Selesai packing, sudah hampir tengah hari. Foto-foto dengan bu pudji di depan rumah. Lalu pamitan sambil berjanji akan kembali lagi untuk menempelkan foto di buku log pendaki. Bu pudji mengatar sampai ke jalan raya. Nyetop angkutan colt, sambil berpesan padaku: Jangan ninggalin yang lainnya lagi!!!. Oke deh.

Turun angkutan langsung bingung: nyebrang apa enggak? Ada bus datang, setop saja, urusan belakangan. Aku tanya, "Surabaya?" kernetnya ngangguk. Tapi kok murah? cuma dua ribu perak? Ternyata di terminal kita disuruh turun. "Itu bis ke Surabaya, Mas!" seru kondektur tadi. Oh, ternyata harus pindah bus tho? Teringat pesan Gapung dulu, kita milih bis AKAS. Konon, ini PO yang menguasai Jawa Timur dsk. Bisnya biasa aja. Tapi ternyata memang nyaman: tidak ugal-ugalan seperti bis dari PO lainnya. Kondekturnya pakai seragam wearpack oranye. Kok jadi inget kernet metromini di Jakarta jaman baheula? Sepanjang jalan aku tidur. Ketika bangun bajuku basah, keringet. panas sekali bis ini? "Lain kali bawa pintu mobil, supaya kalau gerah, tinggal buka jendelanya!" Astaga, siapa yang bilang itu?

Sampai Bungurasih langsung nyari bis ke Gubeng. ternyata penuh. Anak-anak nggak mau, sebab "Nggak bisa naro carrier," katanya. Ya udah, naik bis berikutnya yang masih ngetem, kosong, dan pasti lama berangkatnya. Wied udah misah. Dia naik bis ke Madiun. Jangan lupa brem dan bumbu pecelnya ya wied!

Ternyata selain ngetem, bisnya muter-muter dulu sebelum lewat Gubeng. Kami turun di pertigaan. Jalan lagi sekitar seratus meter ke Stasiun. Wah, waktunya mepet nih. Jam 17.00 KA Mutiara ke Bandung berangkat. Tergopoh-gopoh kami berlari. Bayangan ketinggalan kereta Kahuripan kembali menari-nari di ruang ingatan. Ternyata kami masuk dari pintu belakang. Lewat pintu itu, tidak ada loket untuk kelas bisnis. Jadi harus nyebrang ke pintu satuya. Melewati beberapa jalur sepur. Keretanya masih ada. Aku tinggalkan carrier dengan anak-anak dekat kereta. Biar larinya cepat. Aku langsung ke loket. Lho, kok ngantri? ternyata aku salah loket. Itu loket Mutiara untuk pemesanan perjalanan besok dst. Bukan loket penjualan langsung. Padahal udah ngantri. Di loket penjualan langsung, aku tanya, "Masih kekejar keretanya, Bu?" Dijawab masih. Aku lari ke peron, ternyata keretanya hanya kelihatan buntutnya ajah. Anjrit . Lemas rasanya. Mosok sih, ketinggalan kereta lagi? Tapi begitulah. Aku temui Lilis dan Yeni yang kelihatan frustasi. Ah, sialan. "Keretanya udah jalan, kak." Orang-orang pada ngeliatin. Malu nih. "Padahal, tadi orang-orag udah nyuruh naik, kak," ujar Yeni,"Katanya biar ajah Masnya ditinggal. Nanti bayar di atas." Sialan. Untung aja mereka masih waras. Aku langsung tuker tiket. Berarti naik kereta berikutnya: Turangga. Berarti ongkosnya juga nambah. Emang udah nasib.

Kami duduk-duduk di bangku peron dengan pikiran melayang-layang. Nggak pernah kebayang sebelumnya kalau kami bakalan ketinggalan kereta lagi. Lilis ngajak ke musholla. Aku pergi beli coca-cola. Tapi nggak ada yang mau. Mereka maunya es krim, 'kali. Bosan di stasiun, kami nyari soto di depan stasiun. Sotonya enak, nasinya banyak. setelah kenyang, balik lagi ke stasiun. Turangga berangkat tepat waktu. Aku duduk di tengah gerbong dengan seorang penumpang lain. Lis dan Yen di kursi bagian depan. Penumpang di sebelahku menawarkan Orange Juice. Aku mengangguk, sambil bilang bahwa adik-adikku dua orang, duduk di kursi no. 1A dan 1B. "Oke, sekalian aja dipesenin," katanya. Dia orang Freeport yang mau pulang ke Jogja. Kami ngobrol soal tailing freeport yang ternyata masih banyak kandungan emasnya. Setelah dia turun, aku tidur. Karena AC-nya terlalu dingin, aku pakai sweater Camel Trhopy. Baca do'a sebelum tidur. Bandung, we're coming.

Argopuro 1999 - Bagian 12

Senin, 6 September 1999

Pagi ini nggak ada yang terlambat bangun. Maka jam 08.00 sudah bisa mulai sarapan. Jam 09.00, kami berger lagi, dengan target Taman Hidup. Wied kelihatan sudah bosan dengan hutan. Padahal baru seminggu. Sebelum berger, api kumatikan dengan bantuan golok tebas. Karena nggak bisa cepat, aku siram dengan air. Yang lain protes. Maka aku membuka ikat pinggang, pura-pura memelorotkan celana. Yang lain ngacir, sebab aku memang akan melakukan upacara adat: mematikan api dengan cara kencing di tumpukan unggun. Aku ngakak mendengar sumpah serapah mereka. Tapi karena hanya sendirian, baranya masih saja nyala. Maka aku kubur saja dengan tanah. Ternyata efektif.

Lima menit aku ketinggalan rombongan. Weh, cepet juga mereka jalan. Lintasan mulai turun terus, tapi mepet jurang. Aku beberapa kali berhenti. Mebiarkan mereka jalan di depan, kemudian berlari menusul. Kalau jalan terlalu pelan, dengkulku gemetar. Kuhitung-hitung, aku tujuh kali jatuh. Terpeleset, tapi nggak sampe masuk jurang.

Sepanjang jalan radio aku nyalakan. Di depanku Lilis, kadang mengikuti lagu dari radio yang siarannya sudah mulai bervariasi. "I can see clearly now, the rain has gone..." Hmm... suaranya merdu juga ...kalau dibandingkan dengan suara beruk di atas sana. Hehehe... Hutan mulai rapat, dan gelap.

Jam 13.00, sampailah kami di pertigaan taman hidup. Ketika melihat danau, anak-anak langsung teriak-teriak. Ajaib, ternyata yang dikatakan kuya benar: kabut akan turun di taman hidup kalau kita teriak-teriak. Tapi nggak lama, paling-paling setengah jam sudah terang lagi. Kau masak hun kue pake gula merah dan coklat tulip yang dicairkan. Tapi nggak laku. Masih kenyang? Mungkin rasanya memang nggak enak. Ketika diajukan usul untukbermalam lagi, nggak ada yang nyahut. Baguslah, aku juga agak merinding di sini. Mungkin karena kedinginan. Foto-foto di dermaga kayu. Kalau melihat tanah di sekitarnya, rasanya akan berubah jadi rawa di musim hujan. Dua jam di sini, kami berger lagi. Berjalan malas-malasan, menghabiskan film, dan lagi-lagi kesepian.

Jam 17.00, sampai di hutan damar. Terdengar deru motor. Mungkin ada yang sedang menggergaji pohon atau membelah kayu. Kulihat beberapa lokasi bekas penampungan kayu tebangan. Di ujung hutan damar, lagi-lagi anak-anak berhenti. Padahal ladang penduduk sudah kelihatan. Yeni tanya jam, aku bilang jam setengah enam Eh, dia nggak percaya! sialan. Aku berdiri, dan tanpa ba-bi-bu langsung lari menuju ladang. Biar rasa kemaleman di ladang, sumpahku. Nggak tahu, apa mereka nyusul atau nggak. Aku udah bosan. Di kebon kopi, aku papasan dengan sapi yang lagi makan di tengah jalan. Wah, kok nggak mau nyingkir dia? Aku agak-agak takut juga. Takut kalau ditaksir. Terpaksa aku jalan di pinggir. Tapi sapi itu mendekat. Wah, aku masuk ke ladang saja. Setelah aman, aku baru sadar kalau ada dua anak yang diam-diam memperhatikan aku. Mereka ketawa ngikik. Bisik-bisik dalam bahasa yang aku nggak ngerti. Brengsek. Tiba di warung pertama, aku beli semangka. Trik ajah, sebenarnya mau tanya lokasi rumah bu pudji. Ternyata nggak jauh lagi. "Dekat turunan," ujar ibu warung. Di dekat turunan, aku tanya lagi pada tiga anak kecil. Mereka mengantar ke rumah bu pudji. Hah, langsung ngasih limaribuan kepada bu pudji. Buat beli susu. Aku mandi di kantor polisi. Wangi, sebab keramas dan pake biore. Selesai mandi, sudah ada kopi susu. Masih panas. Aku ke dapur. Tanya ini itu pada pak pudji. Ternyata dulu beliau sering jadi porter buat orang-orang yang berburu ke sikasur. Banyak macan, katanya. Tapi karena macannya sudah mulai habis, maka yang banyak sekarang adalah rusa. Iya sih, aku liat beberapa rusa di sikasur. Mungkin banyak lagi di sekitarnya.

Jam 19.00, anak-anak belum sampai. Aku pamit pada bu pudji. Mau kemana? tanyanya. Tapi beliau marah, katanya: "WONG EDAN!!!" waktu aku bilang anak-anak masih di belakang, dan cewek semua. Aku cuma nyengir. Baru saja aku buka pintu, terdengar suara yeni. Haha, dia marah-marah. Yang lain memberengut. Cemberut. Apalagi tau kalau aku sudah mandi dan wangi. Mereka diantar seorang penduduk. Rupanya tersesat di kebon kopi. Sukurin loe...! Mereka nggak mandi malam ini. Cuma cuci muka. Karena rumah bu pudji sepi, tak ada pendaki lain, aku diminta bu pudji (yang masih marah-marah karena aku ninggalin anak-anak) utuk tidur di kamar depan. Wah, istana nih. Yang lain tidur sama bu pudji.

Argopuro 1999 - Bagian 11

Minggu, 5 September 1999

Pagi-pagi aku bangun sendirian. Aku tidur beratapkan flysheet, ditemani api unggun. Yang lain tidur dalam doom. Aku akan masak tuna pedas. Hah! Sarapan ini harus istimewa. Untuk ketiga putri astacala yang telah berhasil mencapai puncak Rengganis kemarin sore. Nasi kubuat agak banyak. Tuna pedas. Mie rebus. Teh tubruk. Ikan asin dan krupuk tak ketinggalan. Bahkan nutrisari kusiapkan, siapa tahu ada yang ingin minum air jeruk-jerukan. Semua aku persembahkan buat mereka. Buat cuci mulut, aku bikinkan agar-agar, yang kemudian kurendam di sungai (mudah-mudahan bisa beku).

Jam 08.30, masakan sudah siap. Aku menunggu sambil mendengarkan siaran radio Jember. Sebagian atap flysheet sudah kubuka, supaya terang. Pakaianku yang kotor sudah dicuci dan dijemur. Panas matahari kuharapkan mampu membuat pakaianku kering. Sleeping bag pun aku jemur di atap flysheet. Tapi, ah.... kenapa mereka belum juga bangun? Sudah satu jam masakan siap. Nasi mulai dingin. Mie rebus sudah kuhabiskan (kalau terlalu lama, tidak akan ada yang mau makan). Ah, apa mereka terlalu lelah? Atau jangan-jangan sakit? Atau aku tak sengaja berlaku kasar semalam, hingga mereka tersinggung dan tak mau makan masakanku lagi? Aku mulai was-was. Apa salahku ya?

Jam 10.00, aku mendekati tenda. Aku goyang-goyangkan tenda sambil memanggil mereka satu per satu. Terdengar suara dari dalam. Ah, rupanya mereka terlalu lelah, sehingga bangun kesiangan. "ASTACALA !!!" begitu kuteriakkan di depan tenda. Hahaha, aku mendapat kerianganku lagi saat mereka ternyata terganggu dengan teriakanku. "PEMALAS!! AYO BANGUN!!!"

Satu per satu mereka keluar. Wajahnya kusut masai, dan cemberut. Tapi melihat hidangan di atas matras, mereka terlihat senang. "Udah dari tadi nih. Air teh udah ronde kedua." Aku ke kali mengambil agar-agar yang kurendam. Lumayan, udah beku dan siap dimakan

Mereka duduk satu per saut menghadap hidangan. Memegang senjata masing-masing (sendok) lalu makan dengan lahap. Kayaknya mereka takjub melihat sederet hidangan yang disuguhkan. Setelah makan, mereka ke kali. Sekalian mencuci nesting dan trangia. Aku mulai melipat flysheet. Packing.

Jam 12.00, semua packing sudah rapi. Berger dengan target Taman Hidup. Dalam hati aku menebak, "Nggak bakalan sampe."

Dari Cisentor, medan yang dilewati masih berupa savana yang berbatas hutan cemara. Bosan juga. Yeni sempat mengeluh dengan kakinya. Kayaknya bekas jatuh kemarin masih terasa. Tapi aku nggak bantu dia. Biar yang lain saja. Nggak lama, dia sudah berdiri lagi.

Agak cepat juga perjalanan kali ini. Jam 15.00 sudah sampe di aing kenek. Sebuah lembah pertemuan tiga bukit. Banyak snip-snap di sini. Beberapa kali aku hampir menyentuh daun-daunnya. Aku menunggu kalau-kalau ada yang kena daun ganas ini (gatal dan panas). Maksudnya biar nggak terlalu membosankan. Tapi ternyata semua bernasib baik. Diputuskan untuk tidak berhenti. Suasananya syerem. Sepiii.... Nggak banyak percakapan kali ini. Entah apa yang dipikirkan mereka. Aku kesepian. Jalan lagi, setelah tak ada tanda-tanda yang ingin makan. "Masih kenyang." Tapi setengah jam berjalan, lagi-lagi kami berhenti. Buka bekal: makan biskuit. "Ada yang mau mie?" tapi ngak ada yang nafsu. Aku mulai jengkel dengan kecepatan kami. Kalau mau, ke Aing Kenek aja, buka camp lagi. Aku sendirian orienteering. Nulis puisi di belakang peta. Yang lain ketawa-ketiwi. Rasanya cuapek!

Entah berapa bukit kami naiki dan turuni. Rasanya bosan sekali. Setelah menyeberangi lembah dengan batu yang besar-besar, kami istirahat di puncak sebuah bukit. Apa ini yang namanya taman kering? Lama juga berhenti di sini, sampai aku tertidur. Sempat mimpi lagi makan nasi rawon di kantin kampus dengan gepeng. Bangun lagi, ternyata yang lain juga tertidur. Wah, "Ayo berger!" Malas-malasan kami bergerak. Lalu tiba di sadel, pertemuan dua bukit yang jalannya menikung. Malas sekali mau melanjutkan, karena jalannya naik. "Kita buka tenda di sini ajah," usul siapa aku sudah lupa. Lokasinya cukup datar. tampaknya bekas tempat camp juga. Ada bekas perapian dan rumput-rumputnya sudah dibersihkan. Ada sebuah pohon besar yang dikotori dengan beberapa tulisan dan plang kayu. Salah satunya bertuliskan singga lawang.

Makan malam hanya dengan nasi dan mie goreng. Hunkue belum tersentuh. Dendeng sudah habis. Begitu juga dengan sayur-sayuran. Nggak heran kalau nasinya nyisa. Malamnya aku tidur sendirian di luar tenda. Api menyala cukup besar, sehingga sleeping bag nggak aku buka. Cuma aku jadikan bantal ajah. Radio lagi-lagi cuma nangkap siaran dangdut. Untungnya ada siaran SW, walaupun suaranya naik turun dan campur suara semut. Sampe jam 23.00 aku belum bisa tidur. Mungkin karena khawatir dengan api yang terlalu besar. Soalnya, kering sekali di sini. Anginnya cukup besar. Jangan-jangan apinya merembet ke hutan dan jadi kebakaran. Aku bangun lagi dan masak nasi goreng. Dari tenda, suara mendengkur cukup keras terdengar. Selesai masak, api kukecilkan. Hanya bara saja yang tersisa, buat mengusir dingin. Nulis lagi, sampe jam dua pagi.