Friday, August 31, 2007

Terlahir Sebagai Ombak (9)

sebagai ombak, akhirnya ia sadar
siapa memandu angin
dan memicu debur pada hasratnya,
: Waktu.

sebagai ombak, akhirnya ia mengerti
siapa mengeja waktu
dan membaca gelombang pada riaknya,
: Rindu.

sebagai ombak, akhirnya ia paham
siapa menyahut rindu
dan merajut jejak pada buihnya,
: Tuhanku.

Terlahir Sebagai Ombak (8)

Berapa kali kau sebut dia
ombak, setelah melemparnya menjadi hujan badai,
atau lembut menyapanya
sebagai ricik sungai?

Hidupnya selalu melayang di permukaan
kenangan, sebelum kembali larut
dan tenggelam,
seperti garam diaduk gelombang.

Bagaimana harus kuabadikan kesia-siaan ini:
ia menjadi ombak
yang mengejar pasir di pantai;
ia menjadi ombak
yang mengantar buih ke pantai.
Sementara tetes embun telah bersemayam
di puncak bukit berpagar hutan.
Bibit hujan dan kesuburan mulai disemai
di rahim awan,
sebelum menjelma telaga di tengah belantara
kenangan.

Maka ia kembali surut.
Menyelami pekatnya rindu, pada kedalaman laut
hatimu.

Thursday, August 30, 2007

Gerhana Itu

Sore itu aku mencari purnama.
Menyusuri jalan kota
yang kemarin sibuk dengan jejakmu.

Tapi tak ada mata yang terbuka,
atau wajah bertudung biru
menyambutku.

Maka saat berlalu gerhana
sekeping rindu masih bergayut di jendelaku.