Kalau suatu saat aku putuskan untuk berangkat,
mendaki puncak gunung tinggi,
menembus belantara hutan lebat,
atau menelusuri pantai sepi
maka, aku hanya sedang mencoba menemukan sesuatu
yang mampu menghadirkan ingatan kepadamu
dan bisa kujadikan alasan
rindu.
Wednesday, April 22, 2009
Kebun (2)
Masalahnya cuma satu: kebun itu masih dikuasai orang lain. Lho?! Iya, sebab orang lain itulah yang pertama kali menemukan kebun itu lalu merawatnya di dunia ini. Catat: di dunia ini. Padahal, akulah yang menemukannya pertama kali, jauh sebelum dia lahir. Bahkan sebelum aku sendiri lahir. Ya, sebab akulah memang pemilik sah dari kebun itu sejak masih di alam arwah. *sok tau mode & nggak mau kalah mode: on*
Tapi nggak papa. Keterpisahan kami itu tak akan lama (lagi-lagi, ukuran waktu adalah hal yang relatif). Setidaknya bila dibandingkan usia alam semesta ini, maka kepemilikan sementara itu tak akan lama. Kita akan segera mati, dan aku akan memiliki kebun itu. Selamanya.
Sekarang aku hanya bisa memandang kebun itu dari jauh. Mencium aromanya tiap kali angin menyusup di jendela dan membuat tirai berkibar-kibar. Kadang-kadang terbaca juga jejaknya dari ceceran tanah yang tersebar di berbagai tempat. Pasti ada orang lain yang ikut melihat ceceran tanah itu, tapi aku tak peduli. Karena suatu saat, aku akan bertemu dan rebah di tengah kebun itu.
Jakarta, 22 April 2009
Kalau Marah
Persoalannya, kadang ada yang marahnya berlebihan dan tidak proporsional lagi. Hanya karena satu masalah, marahnya merembet hingga ke masalah-masalah lain.
Nah, supaya marahnya nggak kebablasan, ada berbagai cara yang bisa dipakai. Sebelum menumpahkan kemarahan bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:
Kalau sedang berjalan, cobalah untuk berhenti
Kalau sedang berdiri, cobalah untuk duduk
Menarik napas beberapa kali
Menghitung dari 1 - 100, kalau perlu sampai 1.000
Cuci muka (untuk yang muslim, ambil air wudlu. kemarahan itu iblis, dan iblis itu terbuat dari api. maka usirlah marah denagn air wudlu)
Mennyetel musik kesukaan
Mengingat saat-saat kita sendiri melakukan kesalahan.
Hmmm.... mungkin ada cara-cara lain yang bisa dipakai. Kalau ada, boleh sharing di sini ;) .
Pada kenyataannya, sangat sulit mengendalikan kemarahan. Jangankan untuk cuci muka atau mendengarkan musik kesukaan, untuk menarik napas panjang saja sulit. Iya nggak? Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.
Friday, January 23, 2009
Hidup Untuk Memberi
Judul Buku: Gadis JerukPenulis: Jostein Gaarder
Tebal: 242 halaman
Penerbit: Mizan
Cetakan: 1
Tahun Terbit: 2005
Sebagai makhluk hidup yang punya keterbatasan umur, setiap manusia normal yang berpikirian sehat akan berusaha meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, terutama keluarganya sendiri. Ada yang meninggalkan warisan berupa harta yang tak akan habis selama tujuh turunan. Ada juga yang mewariskan bekal ilmu pengetahuan dengan bantuan pendidikan yang setinggi-tingginya. Sebab riwayat hidup manusia memang punya keterbatasan dalam hal waktu dan ruang.
Keterbatasan itu pula yang membuat manusia selalu bertanya tentang asal usul dan akhir kehidupan. Benarkah hanya saat ini saja kita hidup? Ataukah kita sebelumnya pernah hidup di alam lain? Atau benarkah saat kita mati nanti, riwayat kita memang benar-benar berakhir sampai di situ saja? Pertanyaan-pertanyaan serupa masih terus menggelitik alam pikiran manusia. Tentu saja, jawabannya kadang absurd. Jangankan untuk mengetahui kenyataan di luar hidup kita saat ini, bahkan mengetahui posisi kita dalam alam semesta yang luas ini pun kita belum mampu. Bukankah kita hanya bagian kecil saja dari semesta luas yang batasnya pun belum pernah terdeteksi?
Begitu juga Jaan Olav, seorang dokter yang sedang mengidap penyakit yang membuatnya tak bisa hidup berumur panjang. Sebagai dokter, tak sulit baginya untuk mengetahui bahwa sakit yang dideritanya sangat parah dan ia hanya punya kesempatan hidup enam bulan saja. Maka selama enam bulan terakhir dalam hidupnya, ia menuliskan surat untuk Georg Roed, anaknya yang masih 3,5 tahun. Kesedihan terbesarnya adalah menyadari bahwa ia tak akan melihat anaknya tumbuh besar. Ia tahu, kalau hanya harta benda yang diwariskan, maka itu semua tak akan berumur panjang. Maka ia wariskan pandangannya mengenai kehidupan ini pada anaknya lewat sebuah surat panjang.
Itu bukan surat biasa. Itu adalah kisah hidup Jan Olav sendiri, lengkap dengan pergulatan pikiran dan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Jan Olav, yang terperangkap dalam tubuh manusia, lemah dan tak mampu menentang datangnya kematian, mungkn sedikit protes pada kehidupan ini. Kalau pada akhirnya kita hanya mati, adakah kita perlu melanjutkan kehidupan? Pertanyaan itu dijawab dengan menulis surat untuk Georg anaknya yang saat itu belum dewasa.
Tapi tidak seperti surat wasiat biasa, ia malah menuliskan kisah tentang Gadis Jeruk, sebuah julukan bagi seorang gadis yang terlihat kali pertama saat membawa sekantung jeruk. Pertemuan pertama Jan Olav dengan Gadis Jeruk di sebuah trem membuka petualangan yang seru dan memikat dan mendominasi seluruh penuturan di buku ini. Sebagai kisah romantis, gaya penulisan buku ini mampu menjalin tema besar yang biasa diusung Jostein G dengan rapi. Pertanyaan-pertanyaan tentang Teleskop Hubble sekilas hanya sebagai pelengkap dan seolah kebetulan. Tapi bukankah kebetulan dalam kisah fiksi adalah kesengajaan yang dibuat oleh pengarang? Maka keberadaan teleskop raksasa yang diharapkan mampu mengetahui asal-usul jagat raya bukanlah hiasan pelengkap belaka. Namun merupakan instrumen yang sengaja dipasang untuk menggiring pembaca agar sampai pada tema besar yang dibawa Gardner.
Secara keseluruhan, kisah perburuan Gadis Jeruk oleh Jan Olav, yang disusun menjadi surat dan terbaca setelah belasan tahun kemudian, sangatlah memikat. Kita bisa saja membacanya hanya sebagai kisah romantis sepasang kekasih, tanpa harus terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis dari penulis. Terbukti, beberapa pembaca, dilihat dari review dan tinjauan buku yang ditulis di berbagai media, hanya membacanya sebatas kisah asmara romantis saja. Padahal, kandungan buku ini cukup berat. Tapi kepiawaian Jastein membungkus tema besar ini menjadikan buku ini terasa tipis bagi pembaca yang penasaran dengan akhir kisah asmara Jan Olav dengan Gadis Jeruk.