Friday, November 25, 2011

Fotokopian Sang Guru

Suatu pagi di salah satu ruang kelas sekolah menengah di jakarta, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia - sebut saja Sang Guru - memberikan tugas kepada siswa-siswanya. Tidak seperti biasanya memang, karena kelas tak didahului dengan pemberian materi pelajaran, melainkan langsung mengerjakan tugas. Tugasnya sederhana dan sudah sering diberikan pada pelajaran Bahasa Indonesia sejak di bangku Sekolah Dasar, yaitu tugas membuat tulisan.

Tak ada syarat khusus, setiap siswa bebas memilih tema. Bentuk tulisan pun bebas, boleh berbentuk prosa maupun puisi. Waktu yang diberikan relatif lama, dua jam pelajaran (satu jam pelajaran 45 menit). Setelah siswa memahami tugas yang diberikan, Sang Guru meninggalkan kelas dan kembali ke ruang guru. Suasana kelaspun berubah menjadi riuh, mirip suasana ketika jam kosong (kondisi ketika guru tak hadir pelajaran di kelas). Ada siswa yang sibuk meminjam alat tulis, atau melanjutkan obrolan yang sempat terputus karena kehadiran guru. Ada siswa yang beranjak dari kursinya dan berkeliaran dengan tujuan tak jelas di dalam kelas. Tapi kebanyakan siswa sibuk bicara dengan teman di dekatnya tentang tugas tersebut. Saling bertanya tentang apa yang hendak di tulis. Sebagian kecil saja yang sudah mulai menulis, sebagian besar masih sibuk berdiskusi saol tulisan yang hendak dibuat. Diskusi yang seringkali melebar hingga lupa pada tugas yang harus dikerjakan.

Dua jam pelajaran berlalu hampir tak terasa ketika Sang Guru kembali memasuki kelas dan meminta semua siswa mengumpulkan hasil tulisan mereka. Tanpa memeriksa, Sang Guru membawa pergi tumpukan tulisan hasil karya murid-muridnya tadi.

Satu pekan berlalu, ketika Sang Guru kembali masuk kelas yang sama. Kali ini biasa saja, tak ada yang istimewa. Ia memberikan materi pelajaran sesuai acuan kurikulum. Ia tidak menyinggung soal tugas pekan sebelumnya. Biasa saja. Padahal sebagian murid sudah berharap bahwa Sang Guru akan membahas tugas pekan lalu, sambil berharap cemas pada nilai yang akan diperolehnya. Sebagian murid pun suyang lain mungkin sudah melupakannya, dan berpikiran bahwa tugas menulis itu hanya akan menambah nilai untuk mata pelajaran bahasa indonesia saja.

Pekan kedua setelah tugas menulis diberikan, Sang Guru Bahasa Indonesia masuk kelas dengan membawa satu ikat tumpukan buku. Buku itu tak terlalu tebal, dan hanya berupa fotokopian kertas ukuran A-4 yang dilipat menjadi buku ukuran A-5. Empatpuluh eksemplar buku sderhana yang kemudian diberikan ke semua siswa di kelas.

Ternyata buku tersebut berisi seluruh tulisan hasil karya siswa-siswa yang ditugaskan menulis dua pekan sebelumnya. Ya, seluruh tulisan, tak terkecuali. Semua diketik rapi. Ada cerpen, opini, puisi, maupun sekedar sebaris kalimat berisi curahan hati seorang siswa yang menyukai siswi di kelas sebelah.

"Saya tidak akan memberikan nilai secara langsung untuk tugas menulis ini. Tapi saya telah menyalin seluruh tulisan ke dalam buku ini. Silakan kalian baca, dan nilai sendiri hasil tulisan kalian." Kelas menjadi riuh. Sebagian tertawa, sebagian tersenyum penuh pengertian membaca tulisan karya kawannya yang berisi curahan hatinya. Sebagian lagi menjadi malu karena tulisannya dibaca oleh lainnya dan menganggap tulisannya tak layak dibaca orang lain. Ada pula yang saling bercanda dan mengejek karya yang lain, saling menertawakan satu sama lain. Tentu ada pula tulisan-tulisan yan mengundang decak kagum dari siswa yang lain.
"Beneran ini tulisan, loe? Ga nyangka loe berbakat nulis. Atau jangan-jangan loe nyontek dari koran?"
Tugas yang tak biasa tadi ternyata mendapat respon yang luar biasa ketika hasilnya disampaikan kepada para siswa.

Ketika semester berlalu dan pelajaran dimulai dengan semester baru, pada suatu kesempatan Sang Guru kembali memberi tugas yang sama, yaitu tugas menulis. Namun reaksi berbeda muncul kali ini, ketika Sang Guruberanjak dari kelas. Suasana tak lagi terlalu riuh. Semua tampak serius menghadapi kertas, sibuk menulis. Hanya ada sedikit saja siswa yang bercakap-cakap satu sama lainnya. Tak ada canda tawa berlebihan, tak ada yang main-main. Tak ada siswa yang ingin tulisannya menjadi bahan ejekan seperti di tugas sebelumnya.

Aneh juga ternyata, kalau mengetahui tulisannya akan dibaca orang lain, seseorang bisa menjadi penulis yang serius. Dalam artian tidak menulis sekedarnya saja, tidak main-main lagi dengan aktiifitas menulis dengan membuat karya tulis yang asal jadi. Apa yang dilakukan Sang Guru sangat sederhana. Ia hanya mengetik ulang semua tulisan karya murid-muridnya (saat itu masih menggunakan mesin tik manual), lalu diperbanyak dan dijilid menjadi fotokopian buku yang sederhana dan dikembalikan lagi kepada murid-muridnya. Tapi fotokopian Sang Guru yang bentuknya sangat bersahaja itu ternyata memberi dampak luar biasa. Ia telah membangkitkan dan menumbuhkan minat dan budaya menulis kepada murid-muridnya. Bahkan ada beberapa muridnya yang kini menjadi penulis. Baik yang menjadikan menulis sebagai profesinya, maupun sebagai penulis lepas waktu. Ada yang menjadi penulis buku-buku serius semacam buku acuan, penulis fiksi, penulis warta, hingga penulis skenario film yang cukup terkenal.

#Terima kasih kepada semua guru yang selalu menjadi motivator, inspirasi, dan sosok terbaik untuk di-gugu dan ditiru. Terima kasih juga untuk Guru Bahasa Indonesia saya, yang telah memotivasi saya untuk menuliskan apa saja dan di mana saja, tanpa perlu merasa malu dan takut menghadapi kritikan.

Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2011

Wednesday, May 11, 2011

Astacala

Tak mau diatur. Barangkali itulah alasan beberapa mahasiswa STTTelkom angatan 1991 kemudian berkumpul dan membentuk organisasi sendiri dan bukannya bergabung dengan organisasi UKM bentukan petinggi kampus. Apalagi UKM-UKM yang ditawarkan tersebut belum ada yang mampu menampung hobi dan kesenangan beberapa mahasiswanya. Salah satunya adalah hobi dan kesenangan berkegiatan di alam terbuka.

Menempuh pendidikan di sekolah yang tak punya kakak kelas memang terasa aneh. Hal-hal yang harusnya bisa dipelajari atau diikuti dari kakak kelas tidaklah terjadi. Bukan saja dalam urusan kuliah seperti mencari referensi materi, ataupun tata tertib dan tradisi praktikum yang belum ada, tapi bahkan gaya hidup dan perilaku di kampus tak ada contohnya. Semua dari titik nol. Demikian juga kehidupan organisasi mahasiswa.

Pihak kampus, dalam hal ini pihak Puket III bidang kemahasiswaan, memang menawarkan beberapa UKM di bidang olah raga maupun kesenian. Tapi tidak ada UKM yang sifatnya bermain di dunia kepecintaalaman. Mahasiswa baru yang menyukai kegiatan alam terbuka, baik yang sejak masa SLTA sudah menyukainya, maupun yang baru belajar menyukainya, merasakan kebutuhan untuk berkumpul dan berorganisasi. Alasannya sederhana saja, dengan berkumpul kekuatan akan bertambah. Bisa saja kita pergi naik gunung sendiri, tapi kalau ada temannya, apalagi dalam jumlah banyak, maka banyak keuntungan yang bisa didapat. Meminjam barang, misalnya, atau ongkos sewa kendaraan yang bisa ditekan.

Maka ketika ide untuk duduk bersama dan berkumpul itu muncul dari saudara Yadi Supriadi, cukup banyak yang tertarik. Saya tak ingat jumlah persis hadirin saat itu, tapi dari kelas saya saja jumlahnya sudah belasan. Ide yang diusung: bikin organisasi pecinta alam. Itu saja. Bagaimana organisasi ini ke depannya, itu urusan nanti, yang penting ada wadah untuk menyatukan mahasiswa yang menyukai kegiatan alam terbuka.


Ada yang bertanya soal mimpi yang berseliweran? Saat itu tak banyak yang mau mengungkapkan mimpi-mimpi mereka tentang organisasi yang kemudian benama Astacala ini. Karena para Perintis Astacala memang orang-orang sederhana, sangat bersahaja (tapi kok narsis gini, ya? :p ).

Maka mimpipun tak begitu saja mencuat tinggi ke angkasa. Barangkali memang ada mimpi yang melambung tinggi, tapi tak terungkap saat itu. Bukankah berkumpul bersama orang-orang sehobi di tengah suasana kampus yang gersang, kemudian berkenalan, membentuk kepengurusan organisasi dari orang-orang yang baru dikenal beberapa jam saja, merundingkan nama, logo, AD/ART, dan lain sebagainya, itu sudah seperti mimpi yang terwujud? Kalaupun harus menyebut mimpi, kita ingin Astacala tumbuh besar, lebih besar dari organisasi maupun perkumpulan pecinta alam yang namanya sudah lama terdengar.

Namun soal mimpi ini, saya kira dia memliki kaki sendiri. Setelah Astacala bisa berdiri, punya "pakaian", maka mimpipun berjalan. Awalnya pasti sederhana, misalnya punya peralatan mendaki gunung yang meskipun dibeli dengan uang pribadi, tapi anggota lain boleh memakainya. Atau mimpi punya sepatu gunung, punya ransel, punya kernmantel dan carabinner, dan mimpi-mimpi sederhana lain yang terus berjalan seiring waktu. Tapi saya tak pernah lupa ide awal pendirian Astacala, yaitu sebagai wadah untuk mahasiswa yang senang berkegiatan di alam terbuka. Maka Astacala adalah juga organisasi pertama di lingkungan kampus STTTelkom yang inisiatif pendiriannya datang dari mahasiswa sendiri, bukan bentukan dari kampus. Kalau ditanya, kenapa tidak ikut saja di UKM yang sudah ada? Barangkali jawabnya karena anggota Astacala tak mau diatur kampus, selain karena kebutuhan berorganisasi yang belum tertampung tadi. Kalau mau sedikit arogan, anggota Astacala hanya mau diatur alam! Bukan diatur orang lain, apalagi diatur lingkungan sekecil kampus STT Telkom.