Friday, November 30, 2007

PR Lageeeee

Kemarin saya dapat limpahan PR dari geLLy. Sebenarnya mau langung dikerjain dan diposting sore harinya. Tapi ternyata server di kantor, ngadat sore tadi. Maka baru bisa saya posting setelah malam gini.

Ini nih, hasilnya:

1. What is your definition of healthy eating?
Healty Eating:
- Hanya mengkonsumsi makanan yang halal, baik secara substantif maupun asal-usulnya.
- Empat sehat, Lima sempurna, Enam dibayarin.
- Makan ketika lapar, dan berhenti sebelum kenyang.
- Hanya memakan makanan yang tidak menimbulkan masalah atau membuat masalah kesehatan yang sudah ada pada tubuh menjadi tambah parah. Contohya, penderita penyakit gula, jangan menggerogoti pabrik gula, atau ladang tebu. Bisa-bisa tambah parah, kan?

2. Do you exercise on a regular basis? What is your favorite form of exercise? Least favorite?
Oh, iya dong. Gini-gini, saya juga atlet kok. (setidaknya di depan papan catur). Olah raga favorit saya, tentu saja joging. Selain murah meriah, bisa melatih kesiapan tubuh saya untuk mengejar metromini atau KRL (kereta rel listrik) saat berangkat dan pulang kerja.

3. Do you take vitamin supplements?
Enggak tuh. Kan udah ada di dalam buah-buahan dan sayuran. Selain itu, saya hobi banget dan senantiasa berusaha untuk setiap hari meminum salah satu diantara jus jambu, jus stroberi campur tomat, jus jeruk, atau sekoteng (eh..., sekoteng ada vitaminnya, ga?).

4. Can you tell that your body is getting older? If so, how?
Iya. Soalnya, saya baru aja liat foto saya pas masih di TK. ternyata jauh banget dengan kondisi saat ini. Berarti, saya tambah tua, kan. Liat aja foto di bawah ini:



5. Would you call yourself healthy?
Tadinya iya. Saya merasa sangat sehat. Tapi setelah menjawab empat pertanyaan di atas, saya jadi ragu sendiri... hihihi.

Pisss...
Nah, sekarang saya mau oper pe-er ini kepada ira yang baik hati dan tidak sombong. Mudah-mudahan beliau mau mengerjakannya.

Monday, November 26, 2007

Tiga Ratus Tahun Ditambah Sembilan Tahun

Setiap berkunjung ke blog Al - Kahfi, saya selalu teringat dengan judul salah satu surat dalam Al Quran. Dan setiap ingat surat itu, saya selalu teringat lagi dengan keindahan matematika yang ditulis di dalam ayat 25 surah itu. Saya tulis artinya di sini:

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
(QS 18:25) Terjemahan Al Quran Departemen Agama RI

Ayat itu merupakan rangkaian ayat-ayat yang mengisahkan soal Ashabul Kahfi. Itu, tuh... beberapa pemuda beriman yang menyelamatkan iman mereka dari penguasa jahat saat itu dengan sembunyi dalam gua. Mereka kemudian ditidurkan di dalam gua selama ratusan tahun.

Banyak yang berdebat tentang berapa lama mereka tinggal di sana. Padahal Allah sudah menjelaskan bahwa:

Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal...
(QS 18:26) Terjemahan Al Quran Departemen Agama RI

Tapi kenapa dalam QS 18:25 itu, terkesan jumlahnya tidak pasti? Terkesan Plin-Plan? Ternyata penjelasannya sangat indah. Begini:

Menurut perhitungan Syamsiyyah, 1 tahun = 365,2425 hari
Menurut perhitungan Qomariyyah, 1 tahun = 29,5 x 12 = 354 hari

Untuk perhitungan Syamsiyyah, 300 tahun = 365,2425 x 300 = 109572,75 hari.
Jumlah ini jika dikonversikan ke tahun Qomariyyah, akan menjadi:
109572,75 : 354 = 309,5275 tahun atau bila dibulatkan menjadi 309 tahun!!!

Luar biasa, Al Quran sama sekali tidak plin plan. Al Quran malah menjelaskan bahwa Ashabul Kahfi tinggal dalam gua selama 300 tahun menurut tahun Syamsiyyah, atau ditambah 9 tahun lagi menurut tahun Qomariyyah.

Eh, saya bisa aja salah, lho.
Allahu'alam bi shawwab.

Thursday, November 22, 2007

Hari Toilet Sedunia

Berapa lama kita menghabiskan waktu di tolilet atau WC setiap harinya? Lima menit? Atau sepuluh menit? Misalkan saja jawabannya sepuluh menit dan kita hidup sampai umur 60, maka di akhir hayat, kita akan menghabiskan waktu di toilet selama 5 Bulan 2 hari 2 menit.

Itu sebabnya, urusan toilet ini bisa menjadi penting. Sebegitu pentingnya, sampai muncul sebuah badan bernama World Toilet Organization yang berdiri tanggal 21 Nopember 2001 dalam World Toilet Summit di Singapura. Indonesia diwakili oleh Ibu Naning Adiwoso dari Inias Resource Center. Badan dunia ini juga menetapkan tanggal 19 Nopember sebagai hari toilet sedunia.

Sepulang dari Singapura, ibu Naning memprakarsai pendirian Asosiasi Toilet Indonesia. Tahun ini, asosiasi tersebut bersama dengan Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata melakukan penilaian dan pemberian peringkat terhadap 13 bandara yang ada di Indonesia. Penghargaan Toilet Award diberikan bagi bandara yang memenuhi kriteria sesuia dengan Standard Sistim yang telah dikeluarkan oleh Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata bersama Asosiasi Toilet Indonesia, serta mengacu kepada Standard Internasional dari World Toilet Organization.

Terpilih sebagai penerima Toilet Award tahun 2007 ini adalah Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Peringkat lainnya bisa dilihat di situs mereka. Selain Toilet Award, asosiasi ini juga berupaya melakukan sosialisasi lewat berbagai media untuk memberikan pemahaman akan pentingnya toilet yang bersih dan sehat bagi kesehatan. Visi dan Misi mereka bisa di lihat di situs mereka.

Nah, terkait dengan adanya hari toilet sedunia, ada baiknya kita meninjau lagi kebersihan toilet di rumah kita atau di kantor dan tempat aktifitas kita lainnya. Sudahkah toilet tersebut bersih dan sehat? Beberapa foto saya pajang di sini supaya kita bisa termotifasi untuk menciptakan toilet yang bersih dan sehat. Memang siy, hari toilet sudah lewat. Tapi bukan berarti toilet kita tidak boleh bersih di hari-hari lainnya.


Foto-fota diambil dari sini, sini, sini, dan sini.

Friday, November 16, 2007

Kecil Jadi Teman, Besar Jadi Lawan

Kemarin, seorang teman saya meninggal. Ia belum lama saya kenal. Belum genap satu tahun. Tentu, kejadian kematian adalah hal yang wajar bagi semua makhluk hidup. Tak terkecuali teman saya ini. Hanya saja ada satu hal yang saya sayangkan. Teman ini, sebelumnya saya kenal sebagai orang baik. Ia sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Kehidupannya sangat biasa dan normal.

Sampai pada suatu malam. Ketika itu sedang mati lampu. Teman saya ini menyalakan lilin untuk sekedar menerangi rumahnya. Ketika itu ada seorang tetangga menggunakan GenSet (generator listrik). Rumahnya terang benderang dan tetangganya ramai berkumpul di rumah yang terang itu. Mereka sedang menunggu untuk menyaksikan sebuah acara siaran langsung di tivi. Termasuk teman saya.

Ia pergi berkumpul di rumah tetangganya itu. Sampai kemudian ada orang berteriak di luar, "Kebakaran! Kebakaran!" Semua orang berhamburan keluar. Betapa terkejutnya teman saya itu ketika dilihatnya bahwa yang sedang dilahap api itu adalah rumahnya sendiri.

Dengan tergesa ia berlari. Ia masuk begitu saja ke dalam rumah yang berkobar dengan ganasnya. Semua orang terlambat untuk mencegahnya. Ketika ditemukan kemudian, tubuhnya sudah tinggal rangka yang hangus.

Sungguh tragis nasibnya. Entah kenapa malam itu ia merasa perlu untuk ke rumah tetangganya yang terang benderang karena generator listrik. Padahal ia sudah menyalakan lilin di rumahnya sendiri. Hanya sekadar untuk menyaksikan keramaian di tivi. Kalau saja ia lebih memilih lilin di rumahnya daripada rumah tetangganya yang terang benderang, mungkin nasibnya akan lain. Tapi, Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.

Friday, November 09, 2007

Tuesday, November 06, 2007

Wamil ?


Masih ingat dengan film Platoon? Film besutan Oliver Stone yang meraih Best Director dari Academy Award tahun 1986 ini menceritakan sisi lain dari perang Vietnam yang melibatkan tentara Amerika yang komponen terbesarnya adalah tentara cadangan hasil program wajib militer.

Dalam satu kesempatan, Private Chris Taylor yang diperankan oleh Charlie Sheen, dianggap gila oleh teman-teman satu peletonnya. Gara-garanya, karena ternyata dia ikut terjun ke Vietnam dengan cara sengaja mendaftarkan diri sebagai sukarelawan. Padahal, teman-temannya sepeletonnya, yang rata-rata berasal dari kota-kota kecil di Amerika dan hanya mengenyam penddikan rendah, terpaksa ikut perang karena terkena program wajib militer. Orang gila saja yang sengaja mendaftarkan diri dengan sukarela untuk diterjunkan dalam neraka peperangan, demikian pikir mereka yang terkena wajib militer itu dan menghabiskan waktu dengan menghitung hari hingga tiba saat kepulangannya ke tanah air sambil berharap tidak mati di tangan gerilyawan Vietcong.

Namanya saja wajib, maka semua orang yang tercakup dalam aturan harus mengikutinya. Kalau menolak, bisa-bisa dikerangkeng di penjara seperti nasib petinju Muhammad Ali yang menolak program itu.

Nah, baru-baru ini Departemen Pertahanan RI berencana menghidupkan lagi program ini di Indonesia. Rancangan Undang-Undang tentang Komponen Cadangan Pertahanan Negara sedang digodok di Cilangkap. Jika nantinya DPR setuju, maka setiap penduduk dalam batasan umur 18 - 45 tahun wajib mengikuti latihan militer dan disiapkan sebagai pasukan cadangan yang sewaktu-waktu bisa dipanggil untuk menjalankan tugas militer. Semua instansi pemerintah maupun kantor swasta tempat mereka bekerja, harus memberikan ijin dan cuti bagi karyawan yang menerima panggilan wajib militer tersebut.

Tentu saja wacana ini juga menjadi perdebatan publik.

Hmm... kalau ada program wajib militer, apa program wajib sipil juga ada? :-?? binun

Friday, November 02, 2007

Buku Kok Dibakar?

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 31 Oktober 2007, aparat kejaksaan negeri di salah kota di Jawa Timur membakar 44 buku-buku karya IS yang ditulisnya semasa ia di penjara. Juga terdapat buku-buku dengan judul lainnya yang ikut dibakar.

Apakah isi buku itu sedemikian berbahaya, jauh melebihi buku-buku stensilan berisi cerita saru yang bisa dibeli di kaki lima oleh anak-anak SD/SMP dan bisa merangsang tindakan yang tak masuk akal pada diri mereka?

Kalau tidak, mungkinkah isi buku itu dianggap sedemikian vulgar, jauh melebihi keberanian dan panasnya pose-pose manusia tigaperempat t3lanjan9 dalam tabloid-tabloid dan majalah-majalah kegemaran orang-orang maniak tak bermoral penganut faham sesat? Dianggap lebih berbahaya daripada tabloid dan majalah murahan itu yang biasa didapatkan di dalam metromini, bis kota, KRL, terminal, stasiun, dan pojok pasar dengan mudahnya, dan bisa memicu perilaku hewani dalam diri manusia yang sedang khilaf dan lalai?

Bukannya saya meminta supaya ada pemerataan pembakaran buku atau karya-karya tulis dan gambar lainnya. Tapi kalau harus ada pembakaran itu, apakah sudah dipelajari sungguh-sungguh sebelum memutuskan buku itu memang berada di urutan pertama daftar karya yang berbahaya?

Mudah-mudahan mereka membakar bukan karena buku itu dianggap berbahaya, tapi memang karena alasan-alasan lain. Mungkin orang-orang keji itu, sedang merasa kedinginan di awal musim hujan ini, sehingga merasa perlu main api untuk menghangatkan tubuh. Mudah-mudahan saja begitu. Atau mereka memang sedang melampiaskan jiwa buas mereka yang selama ini tak tersalurkan karena kekangan seragam dan jabatan selama ini hanya membuat mereka iri ketika melihat demonstran membakar ban di jalan-jalan.