Friday, August 31, 2007

Terlahir Sebagai Ombak (9)

sebagai ombak, akhirnya ia sadar
siapa memandu angin
dan memicu debur pada hasratnya,
: Waktu.

sebagai ombak, akhirnya ia mengerti
siapa mengeja waktu
dan membaca gelombang pada riaknya,
: Rindu.

sebagai ombak, akhirnya ia paham
siapa menyahut rindu
dan merajut jejak pada buihnya,
: Tuhanku.

Terlahir Sebagai Ombak (8)

Berapa kali kau sebut dia
ombak, setelah melemparnya menjadi hujan badai,
atau lembut menyapanya
sebagai ricik sungai?

Hidupnya selalu melayang di permukaan
kenangan, sebelum kembali larut
dan tenggelam,
seperti garam diaduk gelombang.

Bagaimana harus kuabadikan kesia-siaan ini:
ia menjadi ombak
yang mengejar pasir di pantai;
ia menjadi ombak
yang mengantar buih ke pantai.
Sementara tetes embun telah bersemayam
di puncak bukit berpagar hutan.
Bibit hujan dan kesuburan mulai disemai
di rahim awan,
sebelum menjelma telaga di tengah belantara
kenangan.

Maka ia kembali surut.
Menyelami pekatnya rindu, pada kedalaman laut
hatimu.

Thursday, August 30, 2007

Gerhana Itu

Sore itu aku mencari purnama.
Menyusuri jalan kota
yang kemarin sibuk dengan jejakmu.

Tapi tak ada mata yang terbuka,
atau wajah bertudung biru
menyambutku.

Maka saat berlalu gerhana
sekeping rindu masih bergayut di jendelaku.

Tuesday, August 28, 2007

Ngadem


Data Teknis:
Tukang Foto: Gepeng - Astacala, STT Telkom
Lokasi: Bantaran Caringin - Sungai Citarum
Kamera: Canon AE-1 "The Legend"
Film: Kodak Pro Image ISO 100
Diafragma: 8, Speed: 1/125, Filter: UV


Kalau kepala lagi panas dan tak mungkin menjawab Hawa nafsu kayak orang nggak waras, maka paling enak ngadem sambil main air dan perahu kayak di atas.

Pertahanan Terbaik

Akhir Pekan lalu, di Stadion Benteng, Tangerang, berlangsung pertandingan lanjutan putaran kedua Liga Indonesia antara tuan rumah Persikota Tangerang melawan Sriwijaya FC Palembang.

Pertahanan Terbaik adalah Menyerang

Dalam Pertandingan ini, Persikota menerapkan strategi yang berpegang pada prinsip Pertahanan Terbaik adalah Menyerang. Sebelum diserang, lancarkan serangan terlebih dulu. Strategi yang terhitung kuno dan sederhana serta biasa dipakai oleh Tim Samba ini, diusung secara sempurna oleh Persikota. Kesebelasan yang sering dijuluki Bayi Ajaib ini menggunakan strategi agresif walaupun sedang menghadapi tim yang sama sekali tak bisa dianggap enteng, Sriwijaya FC.

Di atas kertas, Persikota memang kalah. Tapi kenyataan di lapangan berbicara, mereka mampu mengungguli Sriwijaya FC dengan skor akhir 2 - 1. Hasil ini sangat membanggakan Solichin, arsitek Persikota yang sudah tiga pertandingan terakhir ini menggantikan Mundari Karya yang dipecat. Ini menyusul hasil positif yang juga diraih saat Persikota bertandang ke Kediri. Saat itu Persikota mampu memberi perlawanan yang gigih dan mencuri satu poin dari Persik Kediri sang Juara Bertahan Liga Indonesia.

Hasil ini tak terlepas dari dukungan para supoter serta penerapan strategi yang tepat. Dilihat dari sisi penonton, strategi menyerang ini memang begitu memuaskan karena sangat menghibur. Tentu saja resikonya tetap ada. Kalau terlalu asyik menyerang tanpa memperhatikan keadaan diri sendiri, maka suatu saat pasti akan menderita kekalahan yang pahit dan menyakitkan.

Yang jelas, kita menyaksikan sekali lagi, bukti akan ampuhnya strategi menyerang. Dalam keadaan awal yang serupa, seranglah sebelum diserang. Karena "Pertahanan Terbaik adalah Menyerang." Buktinya ada, koq.

Monday, August 27, 2007

...

Terlahir Sebagai Ombak (7)

Setelah melintasi semak belantara
sungai itu pun tiba di muara. Tidak lagi jernih
seperti embun di sudut subuh jendelamu,
melainkan keruh karena limbah.
Bukankah sungai di kota besar
selalu berperan sebagai petugas pengantar
dan tempat menyatukan serapah?

Maka tak ada yang mencatat kedatangan sungai
selain pantulan sore yang memerah di riak permukaan luka.

Tapi ombak tahu itu.
Ia bergerak ke pantai
penuh gelora.
Tubuhnya juga penuh luka menganga,
karena rindu telah sempurna
mengoyak segala yang bersemayam dalam dada.
Ia tak peduli sungainya kini penuh limbah
karena sebagai ombak
ia datang dari laut yang menampung segalanya,
termasuk sisa minyak tumpah
dan penggalan kata-kata sumpah.

Hanya bulan memucat di atas muara
senyap. Betapa pertemuan begitu indah dalam aliran luka
bersama, dalam kesadaran
sempurna. Namun gelap harus berakhir
matahari tak mau tahu: Ombak harus surut
dan sungai dalam pelukan laut harus menguap
menjadi awan dan hujan
atau embun di puncak-puncak gunung,
dan barangkali menjadi sunga-sungai
yang kembali melarutkan
rindu.

Monday, August 20, 2007

Gerhana Bulan 28 Agustus 2007

Dari situsnya NASA, dapat berita tentang gerhana bulan tanggal 28 Agustus nanti. Gerhana bulan selalu terjadi saat purnama. Penyebabnya? Yah, seperti juga gerhana matahari, kita semua sudah tahu penyebabnya. Yaitu karena Batara Kala, raksasa yang katanya menguasai waktu, sedang iseng dan pingin ngemil. Karena mulutnya besar, maka ia mencaplok matahari atau bulan. Makanya untuk sesaat, matahari atau bulan akan lenyap atau berubah warna saat gerhana terjadi. Untungnya, karena dia cuma iseng aja, sehingga matahari dan bulan itu dilepeh lagi dan tampil normal seperti biasa.

gambar diambil dari http:whyfiles.org

Nah, gerhana bulan tanggal 28 nanti, terjadinya di wilayah pasifik. Indonesia kebagian cuma sebentar. Tapi meski cuma kebagian sisa gerhana, kita di bagian Barat Indonesia ini masih bisa kok mengamati sisa-sisanya. Memang hanya beberapa saat saja, yaitu ketika matahari terbenam dan purnama terbit. Saat itu kita akan melihat warna bulan purnama yang nggak keperakan seperti biasanya. Mungkin akan kemerah-merahan. Pasti karena spektrum warna itulah yang lolos dari pembiasan yang dilakukan atmosfer bumi dan jatuh di permukaan bulan. Makanya bulan akan berwana kemerahan. *sok tau neh*

Di tahun ini, sebenarnya sudah dua kali terjadi gerhana bulan di Indonesia. Salah satunya pada bulan Maret yang lalu (saat itu Jakarta mendung, saya nggak bisa liat bulan purnama). Berbeda dengan gerhana matahari, gerhana bulan memang lebih sering terjadi. Tapi, gerhana bulan memang tak disambut seheboh sambtan terhadap gerhana matahari. Sebab memang kejadiannya kadang nggak terlalu mencolok. Bahkan kadang bulan tetap kelihatan, hanya warnanya saja yang berubah abu-abu. Jarang yang benar-benar hilang. Kalaupun hilang, garis bayangan bumi yang jatuh di permukaan bulan bukanlah garis yang tegas, melainkan garis samar-samar saja. Makanya ga terlalu mencolok.

Nah, kalau mau lihat, ya tanggal 28 Agustus nanti. Saat matahari terbenam, lihat deh ke langit Timur, dan amati warna bulan. Pasti warnanya tidak putih perak seperti biasa. Kejadiannya hanya sebentar. Sekitar setengah delapan malam, bulan sudah akan terlihat normal kembali. Batara Kala sudah nggak iseng lagi. Situs JAC memberi ancer-ancer waktu sbb:

Tahapan Gerhana Bulan Total (GBT)
28 Agustus 2007
.
Penumbra Mulai (P1) = 14:54 WIB (tidak tampak)
Umbra Mulai (U1) = 15:51 WIB (tidak tampak)
Total Mulai (T1) = 16:52 WIB (tidak tampak)
Bulan Terbit (Moonrise) = 17:36 WIB
Puncak Gerhana = 17:37 WIB
Total Berakhir (T2) = 18:22 WIB
Umbra Berakhir (U2) = 19:24 WIB
Penumbra Berakhir (P2) = 20:21 WIB
( Sumber : Software Starrynight )

Ini perhitungan manusia, 'kan? Bisa aja salah dan gerhana matahari/bulan selama-lamanya. *halah* Tapi kalau memang begitu, maka mudah-mudahan Batara Kala penguasa waktu itu segera menyadari kekeliruannya dan membiarkan matahari bersinar cerah agar hari-hari ceria kembali. Horeee....

Tapi ada juga yang saya kasih tahu, malah ngeledek, "Kulihat bulan di wajahmu." Sialan, emangnya wajah saya jerawatan?

Sesudah 17-an

Tiga hari setelah tanggal 17, di berbagai perempatan jalan atau sudut taman, masih banyak sisa-sisa pesta yang belum dibersihkan. Bahkan tali-tali tempat menggantung krupuk dan tiang batang pinang bekas lomba kemarin masih menghias ruang pandang. Belum lagi garis lintasan yang digambar di jalan atau di lapangan, seperti mengisyaratkan lomba yang tak mau diselesaikan

Agustus di sebagian besar wilayah Indonesia memang selalu meriah, seperti tahun-tahun sebeblumnya. Berbagai acara dan lomba selalu diselenggarakan untuk menyemarakkan peringatan ulang tahun negeri ini.

Hampir semua lomba dan acara dipakai untuk tetap memaknai peringatan ini, bukan sekadar mengelar keramaian belaka. Tentunya dibutuhkan perenungan dan penghayatan akan makna-makna itu lewat berbagai acara yang teragenda. Mulai dari makan krupuk, balap karung, panjat pinang, sampai acara lucu-lucuan. Bisa saja semua itu dimaknai sekadar sebagai pesta biasa. Tapi, akan lebih baik jika kita bisa menghayati semangat perjuangan para pahlawan yang berjasa membuat negri ini merdeka.

Mungkin terlalu muluk kalau mengaitkan semangat kemerdekaan dengan lomba-lomba yang diadakan selama Agustus ini. Tepatnya terlalu menggampangkan dan menganggap remeh. Sebab saat makan krupuk, kita tidak merasakan desingan peluru yang mengincar kepala kita. Saat balap karung kita tak merasakan kendaraan lapis baja mengejar kita. Setiap lomba 17-an yang kita ikuti, kita lakukan dalam suasana senang dan gembira, jadi mana bisa menghayati perjuangan pahlawan-pahlawan kemerdekaan di tahun '45?

Tapi rasanya tidak berlebihan kalau kita mencoba membangkitkan semangat mereka walau dengan cara mengkonversikan semangan memenangkan perlombaan menjadi semangat berjuang dalam diri kita. Mencoba memperteguh kembali ikatan dengan tanah air dalam kebersamaan hidup berbangsa serta memangun kesadaran bahwa kita juga bisa membuat bangsa ini maju dengan bekerja sebaik-baiknya sesuai porsi dan posisi kita masing-masing. Memang, negri ini masih memiliki banyak kekurangan, dan tidak setiap pemimpinnya punya sikap dan mental yang baik dan bisa kita banggakan. Tapi mestinya hal itu tak bisa jadi alasan bagi kita untuk berjuang sungguh-sungguh untuk kemajuan negeri ini. Barangkali peran kita hanya kecil saja, seperti membersihkan sampah sisa lomba, namun kalau kita ikut-ikutan apatis dan bersikap masa bodoh seperti pemimpin-pemimpin yang mungin sering bikin kita kecewa, tentunya kita malah akan menambah jumlah kekecewaan. Padahal, sekecil apapun kontribusi kita, pasti akan ada nilainya, walaupun sekadar berjuang untuk hidup sebagai orang baik dan bermanfaat bagi keluarga sendiri.

Gitu, kan? Allahu'alam.

Thursday, August 16, 2007

Wednesday, August 15, 2007

Nyanyi ah...

Buat Nes & Yoga yang lagi blajar maen gitar, ini nih, permintaannya.
Gampang 'kan? Btw, kalau mau gitar, minta aja ama om pdgd. Gitarku dah dijual $-)



Patung Kayu

Cerita berikut ini dikutip dari cerita rakyat negeri seberang. Versi terjemahan Bahasa Indonesianya pernah dimuat di majalah anak-anak Bobo, bertahun-tahun silam.

Ada tiga sahabat dengan keahlian berbeda sedang menuju kota untuk mengadu nasib. Kota itu jauh dari tempat tinggal mereka di pedalaman dan ketiganya yakin keahlian mereka akan bermanfaat untuk menjalani hidup setelah hijrah dari desa tempat tinggalnya.

Karena jarak perjalanan yang jauh, maka menjelang malam mereka berhenti di tempat terbuka di pinggir sungai untuk istirahat. Semua sepakat untuk membuat giliran jaga dengan jatah waktu yang terbagi secara merata.

Giliran pertama jatuh pada si ahli pembuat patung, sementara yang lainnya tidur memulihkan tenaga. Pematung ini sebenarnya sudah mengantuk dan menjadi merasa jenuh karena harus berjaga sendirian. Maka untuk mengusir kejenuhan dan tetap membuatnya terjaga, dia mendekati sebatang pohon yang batangnya seukuran tubuh orang dewasa. Dikeluarkannya perkakas lalu mulai memahat kayu pohon tersebut. Dengan keahliannya, secara cepat ia mampu membuat sebuah patung manusia berbentuk wanita cantik dengan ukuran tubuh sempurna. Setelah merasa tugasnya sudah ditunaikan dan pekerjaan mematungnya selesai, ia membangunkan kawannya yang mendapat giliran jaga berikutnya serta beranjak tidur.

Orang kedua ini, adalah seorang yang punya keahlian untuk merias. Dia juga pandai menjahit pakaian dan membawa serta hasil kreasinya yang akan dijual di kota.

Seperti juga orang pertama, ia merasa mengantuk dan jenuh. Maka ia mulai mencari-cari kesibukan. Ketika dilihatnya sebuah patung wanita, ia mendapatkan ide cemerlang. Akan ia rias patung kayu itu hingga menjadi lebih cantik dan terlihat hidup. Dikeluarkannya koleksi busana, kosmetik, dan perhiasan. Ia sesuaikan ukuran koleksi busananya dengan ukuran patung kayu. Kalau ada bagian terlalu besar, maka ia kecilkan. Begitu juga sebaliknya. Ia pasangkan juga beberapa perhiasan semacam kalung, cincin, serta gelang. Tak lupa ia dandani patung itu dengan kosmetika hingga patung tadi benar-benar menyerupai seorang wanita cantik.

Setelah puas melakukan riasan, ia sadar bahwa waktunya untuk tugas berjaga sudah habis. Segera dibangunkannya orang ketiga untuk melanjutkan tugas jaga.

Orang ketiga ini pun merasa jenuh. Maka ia mulai melihat sekeliling untuk mencari kesibukan. Betapa terkejutnya ia melihat sosok wanita cantik dekat tempat mereka berkemah. Sempat ia menyapa sebelum menyadari bahwa itu hanya patung kayu.

Segera ia dekati dengan penuh rasa kagum. Dia adalah seorang ahli ibadah yang luas pengetahuannya. Ia hafal semua doa dan mantra serta tata cara memanjatkan doa yang benar.

Melihat patung indah itu, timbul keinginan untuk memanjatkan doa kepada Yang Maha Pemberi Hidup agar patung itu bisa diberi nyawa. Mungkin ia akan melalaikan tugas menjaga karena harus memusatkan segenap indera untuk bersemedi, tapi ia yakin bahwa kondisi lingkungan tempat mereka bermalam ternyata aman-aman saja. Terbukti sepanjang dua pertiga malam tak terjadi apa-apa. Maka mulailah ia mengheningkan cipta. Berdoa dengan segala tata cara dan kata-kata mantra yang ia ketahui. Ia terus berdoa hingga tak sadar hari sudah pagi.

Saat itu, kedua kawannya mulai terjaga. Mereka mendekati si ahli ibadah dan menyadarkannya dari semedi. Namun beberapa detik kemudian, ketiganya terkejut, sebab ada seorang wanita yang mendekat ke arah mereka. Ya, patung tadi hidup menjadi wanita cantik dengan pakaian indah dan perhiasan gemerlapan.

"Itu wanita ciptaanku," ujar si pemahat sambil berjalan mendekati wanita yang keindahannya memesona mereka.

"Tidak, itu milikku, sebab akulah yang membuatnya cantik. Kau hanya membuat patung kayu, sedang aku yang meriasnya, menghiasnya, dan membuatnya lebih cantik," sanggah orang kedua

"Kalau saja aku tak menggunakan mantra dan doa yang aku ketahui dengan metoda khusus yang selama ini telah aku kuasai, dia tetaplah patung kayu, secantik apapun dia. Maka akulah yang berhak menentukan nasibnya. Untuk aku telah aku putuskan, bahwa akulah yang akan memiliknya. Membawa ke kota dan menikahinya." Itu kata orang ketiga, si ahli ibadah.

Mereka berdebat sementara wanita tadi menyaksikan dengan heran. Tak ada yang mau mengalah. Ketiganya belum memiliki istri dan sama-sama terpesona dengan kecantikan wanita itu hingga ingin memilikinya dan menjadikannya istri. Ketiganya juga sama-sama merasa paling berhak atas wanita itu.

Akhirnya...
(akhirnya biarlah dikembalikan pada pembaca. Versi aslinya memang ada akhirnya, dan tidak ngambang kayak gini. Tapi 'kan, ini bukan versi asli, hanya kutipan bebas. Huehehe...)

Sebenarnya, adakah hak kita pada orang lain, sebesar apapun jasa kita, atau sebesar apapun kesalahan orang tersebut?

Thursday, August 09, 2007

Panjat Pinang

Walaupun tanggal 17 Agustus masih cukup lama, tapi persiapan yang dilakukan untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI sudah mulai dilakukan di mana-mana. Termasuk di tempat tinggal saya. Salah satu diantaranya: persiapan Lomba Panjat Pinang.

Asyiiiik... Pasti nanti seru: persaingan tenaga, akal pikiran, dan kerja sama tim untuk mencapai posisi tertinggi di batang pinang. Dalam persaingan ini, nggak boleh ada keluhan, nggak perlu orang lemah, nggak butuh orang pesakitan, dan terutama: nggak terima orang cengeng.

Horeeee.... Merdeka !!!

Puisi Cengeng


Pencipta Alam Yang Maha Perkasa
mengajarkan kita untuk membaca
alif ba ta dengan cara sempurna:
dari kecil hingga besar,
dari bawah hingga atas,
sama sekali tanpa air mata
apalagi sampai menggali kuburan lama.
Maju, jangan lihat masa lalu.

(sehabis baca ini, ada temen yang bilang: cengeng amat, lu? saya: kaget)

Arya Penangsang

Gara-gara orangtuanya dibunuh, Arya Penangsang yang saleh itu gelap mata. Darah mudanya menggelegak. Maka saat penghinaan sekali lagi datang, ia menghunus Setan Kober atas nama dendam. Sayang, Allah lebih memilihnya untuk mati syahid sebelum membalaskan sakit hatinya. Musuhnya, dengan cara sangat teramat licik, membuat kuda tunggangannya menjadi liar dan tak terkendali.

Lalu sejarah ditulis dengan keliru, semata-mata demi melanggengkan kekuasaan. Arya Penangsang, murid terkasih Sunan Kudus itu syahid, tapi namanya dicerca sepanjang masa dengan cap Pemberontak Negara.

Terlahir Sebagai Ombak (6)

Tentu, ada yang memilih jadi angin.
Bebas berkelana
menebar kabar samar-samar,
bahkan menyusup hingga ke dalam kamar.

Tapi semoga angin itu diam membeku
sesamapai di puncak gunung salju.
Gunung itu terlalu angkuh untuk datang sendiri,
berkali-kali hanya kirim kabar lewat sungai
yang menghanyutkan daun jatuh berguguran.

Semoga angin itu,
yang selalu menumbuhkan gelora dengan hembusannya,
tak memercikkan riak ombak ke mana-mana,
tak menerbitkan kabar dukaku ke mana-mana.
Terutama kepada gunung api itu
yang masih saja tampak biru
di kejauhan,
yang masih saja membuatku rindu
di kejauhan.

Monday, August 06, 2007

Tempat-tempat Masa Kecil

Dulu dekat rumah saya ada sebuah rumah tua. Peninggalan jaman Belanda. Kosong, tidak ada manusia menghuninya. Pintu-pintu dan jendelanya sudah tidak ada. Siapa saja bisa keluar masuk seenaknya. Tapi tidak ada yang tinggal di sana. Padahal rumah itu besar sekali. Hanya ada kelelawar yang setiap maghrib akan terlihat keluar dari balik atap dan terbang melalui jendela-jendela besar yang ada di sana. Warna catnya semestinya putih. Tapi warna itu sudah lama berubah kusam.

Konon, gedung itu dibangun tahun 1775 oleh orang Belanda bernama Hooyman. Tercatat kemudian, gedung itu berpindah tangan menjadi milik Lendeert Miero, seorang Yahudi-Polandia bernama asli Juda Leo Ezekiel. Lendeert semula orang melarat saat pertama datang di Betawi, tapi belakangan dia menjadi orang kaya baru yang punya banyak tanah di Betawi dan sekitarnya, termasuk di tempat rumah kuno itu berada.

Dulu saya sering lewat di depannya. Kebetulan kawan saya saat di sekolah dasar (SD) tinggal tak jauh dari dekat gedung itu. Setiap mampir ke rumahnya, maka jalan terdekat dari sekolah adalah jalan setapak yang melewati depan rumah itu. Ada jalan lain, tapi itu melewati jalan besar yang ramai dengan lalu lintas. Maka saya lebih sering memotong jalan melalui depan rumah kuno besar itu. Jalannya sendiri sangat rimbun karena banyak tumbuh pohon sengon raksasa yang bahkan ketinggiannya bisa melampaui atap rumah.

Sepertinya sih, saat saya kecil itu, tanah di sekitar situ dimiliki oleh negara. Soalnya, tak jauh dari situ juga ada kompleks perumahan milik salah satu angkatan perang negara ini. Tanahnya luas dengan bentuk nyaris segitiga dan berbatasan langsung dengan pasar.

Sekarang, rumah kuno besar itu tak ada lagi. Sejak 1992 sudah dirobohkan dan diganti dengan Mal yang ramai dan terang benderang, baik siang ataupun malam. Kawan SD saya juga nggak tinggal di sana lagi. Nggak tau deh, digusur ke mana dia, mungkin mengungsi ke bulan purnama. Menyesal juga karena dulu nggak sempat motret gedung besar itu.

Oh ya, tempat saya menghabiskan masa kecil itu, sejak dulu hingga sekarang, sering disebut dan dikenal orang dengan nama Pondok Gede.

Mangrove (4)

Tentang nama mangrove.

Kenapa disebut mangrove? Begini, ada dua kata pembentuk mangrove:
1. Mangue, dari bahasa portugis, dan
2. Grove, dari bahasa Inggris.

Dalam kamus bahasa Inggris, M4n9rove berarti komunitas tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut air laut beserta segala spesies tumbuhan yang menyusunnya.

Dalam bahasa Portugis sendiri, mengrove menyatakan individu spesies tumbuhan. Sedangkan komunitas tumbuhan tersebut biasa disebut mangal. (kalu salah, koreksi, dunk)

Beberapa pakar memiliki definisi yang tidak seragam untuk kata mangrove ini, namun perbedaannya tidak dalam ranah yang prinsip dan tidak jauh berbeda dengan yang selama ini telah kita pahami.

Ada beberapa istilah lain yang mengacu pada mangrove seperti Tidal Forest, Coastal Woodland, Hutan Payau, serta Hutan Bakau, walaupun definisi terakhir ini agak salah kaprah karena bakau hanyalah saal satu jenis mangrove.

Tentu saja, definisi hanya kita gunakan sebagai alat mengenal dan membedakan. Yang paling penting, tentu saja kemampuan kita memperlakukan mangrove ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keberlangsungan hidup kita sebagai manusia dan sesama ciptaanNya.

Semoga nggak ada yang bosen mbaca mangrove. Apalagi sampe muntah gara-gara kebanyakan postingan mengenai mangrove.
piss... :)>-

Friday, August 03, 2007

KRL Ciujung, Divisi Jabotabek, PT KAI

Sejak diresmikan, KRL Ciujung yang melayani rute Serpong - Tanah Abang belum memiliki jadwal yang tetap. Setelah satu bulan berjalan, jadwal tersebut telah berubah dua kali. Perbedaan antara kedua jadwal tersebut tidak terlalu jauh. PT KAI juga melakukan sosialisasi jadwal baru dengan cukup baik.

Tapi masih ada persoalan yang cukup memprihatinkan. Ada beberapa stasiun yang belum menerapkan sistem pintu masuk yang terpadu. Sehingga, masih ada jalan masuk dan keluar yang bisa dilewati tanpa melalui pemeriksaan petugas. Akibatnya, banyak pengguna Ciujung yang bingung saat ingin mengembalikan tiket elektroniknya. Tak heran, selama satu bulan saja, sudah lebih dari seribu lembar tiket yang dinyatakan hilang. Agaknya PT KAI harus berupaya lagi untuk menyiapkan infrastruktur pendukungnya sendiri, sebelum menuntut kedisiplinan pelanggan.

Tentu saja, semua memang butuh proses. Kekurangan yang terjadi merupakan proses pembelajaran bagi semua. Bagaimanapun juga, upaya PT KAI untuk membenahi sarana transportasi umum patut diacungi jempol. Diharapkan sarana ini makin berkembang dan modern, hingga tak kalah dengan apa yang ada di negara maju. Mudah-mudahan.

Wednesday, August 01, 2007

Pada Suatu Pagi


beritahu aku
di mana tumbuh semak hutan membiru.
setiap pagi jendela terbuka
lumut hijau memagar
rindu.

*) kalau lihat foto di atas, siapa yang nggak kepengen ke sana, coba? Biarpun udah berkali-kali, tapi tetep aja kangen, pengen ke sana lagi. Apalagi kalau jaraknya dekat dengan tempat tinggal kita. :P

Pendekar Kali Pesanggrahan

Sejarah Jakarta mengenal berbagai sosok pendekar sebagai pejuang penegak keadilan yang berupaya membebaskan tanah air dari cengkeraman kuku penjajahan. Sifat satria mereka merupakan inspirasi bagi masyarakat kala itu. Kini, meski bangsa kita tak lagi dijajah Bangsa asing, ternyata masih ada sosok pendekar yang patut dijadikan teladan. Tentu tindakannya tidak lagi sama seperti di jaman dulu. Namun garis perjuangannya yang menegakkan keadilan dan mengupayakan kesejahteraan rakyat masih sama. Salah satunya adalah Bang Idin, pendekar dari Kali Pesanggrahan.

Berawal dari Kenangan Masa Silam

Semuanya berawal dari kenangan masa kecil H. Chaerudin. Tokoh yang dalam kesehariannya selalu mengenakan pakaian khas betawi, lengkap dengan peci dan goloknya ini, ingat betapa mudahnya dulu memancing ikan di Kali Pesanggrahan. Kicauan burung begitu merdu menghiasi suasana di pinggir kali. Aneka satwa lain juga dapat dengan mudah ditemui. Tapi kondisi di akhir 1980-an sangatlah jauh berbeda. Sampah bertebaran sepanjang bantaran yang tandus atau di kali yang airnya kehitaman.

Kenangan itulah yang mendorongnya pergi bertualang, menyusuri kali dengan batang-batang pisang sebagai rakitnya. Di tahun 1989 ia mencoba mencari tahu apa saja yang masih tersisa di sepanjang aliran kai. Pohon apa saja yang tak lagi tegak, satwa apa saja yang lenyap, ikan-ikan apa saja yang minggat, dan mata air mana saja yang alirannya seolah tersumbat. Hasilnya adalah sebuah keprihatinan yang membuat darah kependekarannya menggelegak serta lahirnya sebuah tekad yang sederhana namun sekeras goloknya: mengembalikan Kali Pesanggrahan menjadi seperti dulu lagi.

Tekadnya memang sederhana, namun menyimpan hal-hal besar dan tak mudah untuk dilakukan. Untuk mengembalikan "kesehatan" sungai, lelaki yang beristrikan Partinah ini harus menghidupkan lagi mata air yang ada. Itu berarti pohon-pohon harus tumbuh di sepajang bantarannya. Padahal, untuk menanam pohon, ia harus membersihkan bantaran, baik dari sampah maupun bangunan. Maka dimulailah usahanya dengan membersihkan sampah.

Langkah ini ternyata tidak mudah. Berkali-kali ia bersitegang dengan orang-orang yang sering membuang sampah sembarangan. Terutama pemilik rumah yang membangun tembok tinggi di bantaran. Tapi darah kependekaran memang mengalir deras dalam nadinya. Ia tak lantas menggunakan kekerasan untuk menyadarkan "orang Gedongan" yang bertabiat kampungan itu. Mereka tetap dihimbau dengan cara persuasif. Tentu saja orang-orang itu tak sudi dinasihati. Mereka beranggapan bahwa mereka telah membeli tanah hingga ke tepi sungai. "Apa hak Anda melarang saya membuang sampah di wilayah saya sendiri. Mana dasar hukumnya, SK-nya?" begitu tantang mereka.

Sedangkan lelaki kelahiran 13 April 1956 ini beranggapan bahwa tak seorangpun boleh memiliki bantaran. "Itu milik kita semua," ujarnya. Dan, "Di pinggir kali nggak ada bahasa hukum. SK saya dari langit," sambungnya lagi dengan keyakinan tinggi.

Ketika mereka tetap membandel, Bang Idin tidak juga menggebrak dengan golok terhunus, tapi malah mengumpulkan sampah-sampah ke dalam kantong plastik lalu digantungkan di pagar depan rumah orang-orang itu. "Supaya mereka paham bagaimana rasanya kalau di depan hidung mereka ada sampah. Mereka begitu kan karena belum paham." Tak jarang Bang Idin harus berurusan denganaparat kelurahan, kecamatan, BPN, bahkan polisi.

Bang Idin lalu mengajak tetangganya untuk turut serta. Diyakinkannya bahwa secara turun temurun, Pesanggrahan adalah tanah pendekar, sehingga mereka pun keturunan pendekar. Jadi, "Jangan sampai wilayah pendekar diacak-acak orang." 17 orang petani kemudian membentuk kelompok Bambu Kuning dan ikut serta dalam barisan Bang Idin untuk berjuang.

Lambat laun, kesadaran juragan-juragan tanah yang membangun pagar beton tinggi hingga ke bantaran kali mulai tumbuh. Mereka menyadari juga perlunya penghijauan di bantaran. Maka sejak tahun 1998, secara bertahap mereka merelakan pagar-pagar mereka dibongkar.

Kesulitan berikutnya muncul, sebab mereka tak tahu harus menanam apa. Bibit belum tersedia. Akhirnya disepakati, dalam setiap pertemuan yang diadakan dua kali setiap bulannya, setiap anggota diwajibkan membawa bibit pohon dan mereka menanamnya bersama-sama. Terserah bibit apa saja.

Saat ini, kelompok tani itu telah menjelma menjadi Kelompok Tani Lingkungan Hidup Sangga Buana (KTLH Sangga Buana). Wilayah kerjanya bertambah luas. Ribuan pohon telah berhasil ditanam. Pengadaan bibit bukan lagi hal yang sulit. Banyak instansi maupun perseorangan yang membantu pengadaan bibit ini.

Merekapun tidak sembarangan menanam. Aspek geografis juga menjadi pertimbangan. Tidak semua pohon bisa ditanam di pinggir kali atau di tanah yang miring. Mereka mengandalkan ilmu yang didapatkan secara turun temurun. Maka pepohonan yang tinggi, seperti kayu secang, salam, tanjung, kedondong laut, nangka, senggugu, belimbing wuluh, mandalika, ditanam dekat dengan bibir kali. Pohon-pohon jenis tersebut memiliki akar yang sanggup mencegah erosi, selain ketinggiannya akan menjadi koridor bagi jalur lalu lintas burung-burung. Di sela-sela pepohonan tersebut ditanami tanaman obat perdu, seperti empon-emponan, brotowali, nilam, jeroak, sambiloto, dan lainnya. Agak jauh dari bibir sungai, barulah ditanami pisang atau bambu serta tanaman sayur-sayuran.

Kini hasilnya sungguh luar biasa. Area seluas 40 hektar, membentang sepanjang tepian Kali Pesanggrahan, menjadi ijo royo-royo. Burung-burung berkicau setiap hari. Bahkan burung cakakak yang bersarang di tanah dan sudah jarang ditemui di wilayah lain di jakarta, kini juga bisa ditemukan. Pohon-pohon yang mulai langka di Jakarta semacam buni, jamblang, kirai, salam, tanjung, kecapi, kepel, rengas, mandalka, drowakan, gandaria, bisbul, dapat dijumpai di sini. Belum lagi tanaman obat yang jumlahnya mencapai 142 jenis.

Disamping menghijaukan bantaran, Bang Idin dan kelompoknya juga berhasil menghidupkan kembali tujuh mata air yang dulunya mati. Air sungai tak lagi kehitaman, sehingga cukup sehat bagi berkembangbiaknya ikan-ikan. Secara berkala, KTLH Sangga Buana melepaskan bibit-bibit ikan yang dibudidayakan di tambak-tambak ke dalam kali Pesanggrahan.

Bahkan, upaya yang dilakukan telah berhasil mengangkat kesejahteraan petani-petani di sekitar kali pesanggrahan. Mereka bisa memasarkan hasil kebun sayuran maupun pohon-pohon produktif lainnya semacam melinjo yang diperkirakan berjumlah 8000 batang pohon, maupun pisang dan buah-buahan lainnya.

Kini, bantaran kali Pesanggrahan ramai oleh pengunjung dari seluruh Jakarta, menjadi hutan wisata gratis yang boleh dikunjungi siapa saja. Uniknya, setiap pengunjung akan diajak menanam pohon atau menebar benih ikan di kali. Mereka juga tidak dilarang memancing atau mengambil hasil hutan seperti memetik melinjo dan memotong rebung. Gratis, asalkan Anda tidak merusaknya. Tapi jangan coba-coba mencari ikan dengan racun atau cara-cara "keji" lainnya, karena Bang Idin dan koleganya akan segera menegur Anda. Tentu saja Anda juga bisa membeli sayuran dari para petani di sana. Maka tak heran jika pengunjung makin ramai. Berbagai kelompok dari sekolah maupun perguruan tinggi juga menyumbangkan ilmu dan tenaga mereka di sini. Beberapa rombongan expatriate dari Jerman, Inggris, Perancis, Australia, Belanda hingga Jepang pun ikut mencoba merasakan keasrian daerah ini. Untuk mendampingi para wisatawan mancanegara tersebut Sangga Buana mendapatkan bantauan tenaga sebagai pemandu wisata dari Universitas Trisakati yang sebelumnya diberikan pengetahuan tentang alam dan sejarah disana. Tercatat sekitar 4000 orang datang berkunjung tiap tahunnya

Berbagai penghargaan telah diperoleh Bang Idin dan kelompoknya. Tapi, "Yaaah itu mah buat apa. Banyak. Ada Kalpataru, atau apa lah, saya ndak urus. Tahun 2002 kalau ndak salah pernah dapat penghargaan penyelamatan air sedunia. Dan banyaklah piagam-piagam, dari Abu Dhabi, pemerintah Jerman, Belanda. Tapi saya tidak mengharap apa-apa. Apa sih artinya semua penghargaan itu kalau suatu perjuangan tidak bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Tapi paling penting apabila karya saya ini tidak nyusahin orang. Saya sangat sedih. Orang yang bisa paham dengan lingkungan itu memberi penghargaan paling tinggi buat saya. Padahal itu hanya bagian dasar dan pemikiran saya, bahwa kami mengerjakan itu semua. Satu: menyelamatkan alam." Begitu ujar Bang Idin saat ditanya berapa banyak penghargaan yang telah diperolehnya.

Saat ini, Bang Idin sedang menularkan ilmunya di bantaran kali Ciliwung. Dukungan dari masyarakat sekitar, terutama dari pemuda-pemuda sudah didapatkan. Diharapkan pola yang sama bisa digunakan untuk "memerdekakan" bantaran-bantaran sungai yang lain di ibukota dari "penjajahan" sampah maupun kerusakan lingkungan akibat kebodohan manusia-manusia serakah.

Sungguh, bagi kita sosok Bang Idin merupakan seorang pendekar. Ayah dari dua anak, Widuri Indrawati (dosen Ekowisata Kelautan IPB) dan Ario Saloko (murid SMU Darul Maarif) ini benar-benar sosok yang bisa dijadikan teladan. Kepeloporannya dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup sanggup membuat siapa saja merasa kecil saat berhadapan dengannya. Meski hanya mengenyam pendidikan hingga kelas dua SMP, namun aktifitasnya akan sanggup membuat malu orang-orang berpendidikan tinggi, bahkan aktifis anggota perhimpunan mahasiswa pecinta alam sekalipun.

dirangkum dari berbagai sumber