Tuesday, June 05, 2007

Peluru yang Tersemat di Dada

S
elesai membaca buku Band of Brothers (versi terjemahan Bahasa Indonesia), saya tergoda untuk menonton lagi film dengan judul yang sama tentang Easy Company tersebut.

Di film yang pernah diputar sebagai serial di jaringan televisi HBO itu ada satu episode ketika Lettu Winter, pimpinan komandan salah satu peleton dari Kompi E (Easy Company), tertembak betisnya. Peluru memang tidak datang langsung, melainkan pantulan dari tanah setelah seorang sniper Jerman mengincarnya di jalanan pedesaan Perancis yang berdebu di musim panas. Lalu malam harinya, operasi kecil dilakukan untuk mencungkil serpihan timah itu.

Episode itu biasa saja. Tak lebih istimewa dibandingkan episode lainnya. Namun operasi kecil itu membuat saya tercenung. Bukan karena ketegaran Lettu Winter menahan pedih atau kepiawaian tentara medis yang mampu bekerja dalam kondisi terbatas, melainkan karena saya tiba-tiba teringat dengan Choirul Anwar bin Sutrisno.

Umurnya 3 tahun, dan apa yang Anda bayangkan untuk bisa diderita ketika Anda berusia 3 tahun? Sakit cacar air? Atau mungkin demam berdarah? Atau patah kaki setelah jatuh karena tak mengindahkan larangan ortu untuk tidak manjat-manjat lemari buku? Atau kepala yang bocor terkena batu yang kita lempar sendiri ke langit dengan harapan batu itu akan berubah menjadi burung yang terbang tinggi? Mungkin banyak kejadian yang bisa dialami oleh bocah di usia itu. Tapi mungkin Anda tak pernah membayangkan bahwa saat berumur 3 tahun, Anda akan memiliki sebutir peluru di dalam tubuh Anda. Iya, sebutir peluru dari timah, yang saat ditembakkan akan sedikit lumer karena panas hingga bisa menembus lapisan kulit dan jaringan, bahkan membuat remuk tulang Anda. Peluru itu didapatkannya saat ia berada dalam pelukan ibunya yang telah tewas tertembak bersama beberapa warga desa Alas Tlogo, Pasuruan, pada tanggal 30 Mei 2007.

Choirul, seperti juga saya atau Anda saat usia seperti itu, mungkin sering bermain perang-perangan, atau dokter-dokteran dengan teman sebayanya. Tapi, entah apa salah bocah yang tampak kurus dan kurang gizi itu, sehingga harus merasakan sendiri peluru yang bahkan tentara pun tak semua pernah merasakannya, meski sudah berulang kali maju ke medan perang. Apa yang menari dalam pikiran dan angannya ketika ia harus berbaring sebagai pasien sungguhan dan harus diperiksa dokter sungguhan pula, bukan lagi main dokter-dokteran seperti kebiasaan kita di masa kecil. Maka ketika anak-anak lain seusianya sedang asyik menonton SpongeBob & SquarePant atau Sesame Street, dia harus menyaksikan darah segar muncrat dari tubuhnya. Bahkan ibunya pun tewas tersambar peluru, ketika ibu-ibu lainnya mungkin sedang menemani anak-anak mereka ke playgroups, atau menemani menonton film tentang dunia tumbuhan atau dunia ikan air tawar dengan DVD player dan home theater.

Coirul, meski mengerang kesakitan, memang belum menemui ajalnya. Tapi siapa yang tega mengatakan padanya bahwa ibunya sudah tak bisa lagi mengajaknya ke pasar, atau membawanya saat panen jagung yang karena kondisi tanah di Alas Tlogo hanya bisa ditanan setiap Januari samapi April sebelum digantikan singkong dan ubi jalar. Siapa dokter yang akan tega merobek dadanya yang tipis dengan pisau bedah lalu mencungkil sisa proyektil yang tertinggal di sana.

Barangkali jalan hidup kita tak bisa sama satu sama lain, tapi tentu saja Lettu Winter tertembak di Medan Perang Dunia II setelah ia memilih untuk berada di sana. Setelah menyiapkan bekal berupa mental dan fisik yang terbina sejak ia mendaftar sebagai personil pasukan terjun payung yang gagah perwira. Winter tentu tak ingin tertembak, tapi ia telah secara sadar dan sengaja memilih karir sebagai tentara yang salah satu resikonya memang tertembak. Sedangkan Choirul? Dia bahkan belum tahu cita-cita selain sebagai insinyur pertanian, atau dokter, atau presiden, atau menteri, atau bahkan tentara yang penampilannya gagah perkasa. Tapi jelas, dia tidak pernah sengaja untuk berada dalam kondisi yang punya resiko tertembak. Memang jalan hidup tak sepenuhnya ada di telapak tangan kita, tapi setiap pilihan punya resiko. Masalahnya, Choirul bahkan belum memilih. Bahkan dia belum sadar bahwa dalam hidupnya kelak, dia harus menentukan pilihan-pilihan. Lalu, apa rencana Tuhan terhadap dirinya?

Menggugat Tuhan memang pilihan yang berat, tapi kalau pilihan lain berarti berhadapan dengan barisan tentara berpeluru tajam atau teror yang harus dirasakan seumur hidup, maka pilihan menggugat Tuhan akan terasa ringan. Dan kebanyakan rakyat Indonesia, yang tak pernah memilih atau meminta menjadi rakyat indonesia saat lahirnya, memang hanya punya satu pilihan: mengadu pada Tuhan, saat pihak pengayom dan pelindung ternyata menjelma jadi ancaman mengerikan.

Lettu Winter hanya mengerang sedikit sambil mengumpat sniper Jerman saat tanah di depannya mengepulkan debu sebelum kakinya terkena pantulan peluru yang menyelinap di sela daging betisnya. Maka adakah yang akan mengerang untuk choirul atau membujuknya untuk diam dan menahan sakit tubuhnya? Peluru itu hingga hari ini belum diakeluarkan. Dan mungkin saja akan dibiarkan tertinggal di sana, selama tak mengganggu organ penting seperti jantung atau paru-paru. Namun tak ada yang bisa menjamin bahwa peluru itu tak akan meletus atau meledak lagi, karena selain peluru itu, mungkin ada hal lain yang tersemat di dadanya. Sesuatu yang mungkin sudah tertanam dalam banyak dada rakyat Indonesia lainnya. Dendam pada ketidakadilan, barangkali, tapi mungkin juga kepasrahan.

Allahu'alam.

13 comments:

awi said...

sedih banget bacanya, usia 3 tahun itu masih lucu dan imut-imut banget lagi. nggak tega deh, tapi aku berdo'a untuk kesembuhannya, semoga peluru itu cepat keluar.

indri said...

waduh mas, ngeriii..kmrn liat gambarnya

ranny said...

wiw ga tega euy liat naa huaaaaaaaaa

S 03 CI said...

sedih bgt denger nya...
anak sekecil itu harus di hadapkan pd 2 kenyataan pahit...terutama sang ibu yg harus meninggalkannya...


S 03 CI

Putirenobaiak said...

baca ini, melihat dan menyaksikan di media--kesedihan tak lagi mampu ku ekspresikan, bercampur benci pd aparat keparat

dulu aku selalu menghindari berita2 seperti ini, trauma krn pernah berada di tengah2 konflik aceh, menghindari peluru, tiarap, meyaksikan kebejatan moral tentara...tak bisa diungkapkan dg kata..

hanya doa dan upaya, lakukan walau hanya sedikit utk menolong org lain

Vie said...

Kok tragis ya. Pengalaman menyakitkan itu ditambah bekas luka akan mengingatkannya ke peristiwa yang telah terjadi.

aroengbinang said...

yang menyesakkan adalah pembelaan buta dari sang komandan terhadap institusi dan bawahannya, bahwa apa yg dilakukan tidak menyalahi prosedur, dst.

mempertahankan diri dan lalu dengan bijak memilih mundur, dengan memburu dan menembak mendatar adalah hal yang berbeda sama sekali.

saya yakin tidak ada yg salah dengan doktrin-nya, boleh jadi pada interpretasinya. arogansi aparat dengan kesewanangannya akan menjadi peluru tajam buat dirinya sendiri; hanya menunggu waktu.

di sisi lain mungkin ada jalan ghoib yang telah disiapkan untuk choirul.

salam.

CempLuk said...

bocah 3 taun tsb harusnya merasakan rasa ceria...

T A T A R I said...

hiks..hiks..sedih
kau harus bertanggungjawab udah membuatku sedih !!!
xixixixixi...

hery said...

yah memang sedih mendengar hal itu, kita hanya berharap semoga hukum berjalan sesuai dengan semestinya, tidak terkontaminasi oleh hal2 yg tidak diinginkan.
Semoga Alloh mempunyai rencana lain yang baik untuk hidup Choirul selanjutnya

mel@ said...

hiks... hikss...
sedih euy... ngebacanya... denger beritanya...
emang prajurit itu ga ngerasain apa... coba klo anak mereka digituin... pasti sedih juga kan?...

-Fitri Mohan- said...

too much to bear...

NiLA Obsidian said...

banyak banget pelajaran yg bisa diambil dari sini ya om artja.....
dan ga semua org bisa melihat dari sisi yg positif....

semoga pelajaran berharga ada di dalam hati kita...tidak mengumpat dan saling menyalahkan...tapi untuk sebuah perenungan.....