Wednesday, October 03, 2007

Serabi Solo

Pas puasa hari keberapa gitu, saya sempat kepengen banget buka puasa pake serabi solo. Ada memang, kios serabi solo yang dijual di pasar dekat rumah. Serabi ini punya merek dengan nama yang "jawa banget" dan -katanya- lumayan terkenal di Jakarta. Entah setan mana yang nggak sopan dan menggoda saya dengan melambai-lambaikan serabi di angan-angan saya.

Karena lokasi jualannya yang nggak jauh, maka saya merencanakan pergi ke sana menjelang maghrib. Itung-itung ngabuburit bareng isteri sambil jalan-jalan santai di lngkngan perumahan. Lagipula, siang itu isteri saya belum pulang.

Ketika isteri saya sudah pulang, saya mengajaknya. Ternyata dia setuju (nggak ada pilihan lain, ya?) Tapi dia minta waktu untuk mandi. Oke. Ternyata kamar mandi sedang dipakai bapak saya. Udah gitu pakenya cukup lama juga. Maka, ketika isteri saya mendapat giliran, jam digital di televisi sudah menunjukkan 20 menit menjelang maghrib. Walah..... Tapi karena sudah penasaran dengan serabi solo, kami berdua tetap berangkat. Nggak ada JJS atau ngabuburit. Target utama: serabi. Diusahakan secepatnya mencapai target dengan mengabaikan berbagai godaan yang mungkin timbul di tengah jalan.

Sampai di kios serabi: ternyata sudah habis-habisan. Hanya tersisa TIGA serabi rasa klasik! Okelah, daripada kepikiran nggak bisa tidur, yang tiga itu saya ambil juga. Tepat setelah saay keluar kios, adzan maghrib terdengar. Waduh, batal pake apa, ini?

Setelah bingung milih dari sekian banyak warung tenda yang ada (sepi, nggak banyak yang buka puasa di sini), kami putuskan buka di nasi goreng kambing. Pesan dua porsi, buat saya dan bapak saya, karena isteri nggak bisa buka dengan langsung makan makanan besar gitu. Sambil menunggu, kami pesan teh hangat. Ternyata yang datang teh panas. Isteri saya segera memesan air dalam kemasan botol dingin. Maka ada tiga porsi minuman. Tiga serabi segera berpindah ke dalam perut kami. Tak ada sisa.

Sampai di rumah, ternyata nasi goreng kambingnya nggak enak. Nasinya masih keras, hampir nggak ada beda dengan beras. Waduh, nggak berani makan dong. Paling nyomotin daging kambingnya aja.

Secara di rumah nggak ada orang, maka nggak ada makanan buat buka puasa sesi kedua. Belum ada hidangan makan malam. Padahal, tadi cuma buka dengan tiga serabi berdua dan beberapa seruput teh panas. Rupanya, puasa memang mengajarkan kita agar tak mudah larut dalam godaan, biarpun itu serabi solo sekalipun.

5 comments:

Sarah Utami said...

Mas saya tergoda untuk makan jangkrik. Gimana dong?

Gipont said...

Ntar mikir dulu, yang di jual serabinya apa kiosnya, om?? :D

sayurs said...

kaya gitu klo disolo namanya : ngenes (mengenaskan) ha..ha..

artja said...

@sarah:
jangkrik? enak, kok. aku pernah nyoba. apalagi kalo digoreng garing.

@gipont:
yang mau dibeli: mbak yang jual. :D

@sayurs:
klo di serpong, namanya bukan ngenes, tapi ngeces. haha...

aprikot said...

lah serabi solo emang enak kok. TOP