Friday, March 02, 2007

Janji Jumat

"Thank's God it's Friday," ujar seorang kawan pada hari Jumat di kantor. Teman-teman lainnya segera menimpali dengan ungkapan persetujuan. Suasana terasa lebih terang, lebih gembira. Semua mengumbar senyum. Ada pekerjaan rutin, tentu, tapi itu tak mampu menghapus keceriaan dari wajah-wajah mereka. Penyebabnya memang hanya satu, bahwa ini adalah Jumat dan sesaat lagi weekend. Kebetulan kantor kami memang menerapkan kebijakan lima hari kerja dalam satu pekan. Memang masih ada satu hari yang harus dilewati, namun itu tak akan terasa, karena dua hari berikutnya adalah saat ketika tumpukan pekerjaan di kantor boleh ditinggalkan.


Suasana yang ceria dengan hati yang senang, tentu memberikan energi positif bagi siapa saja. Senyum kawan di kantor jadi tampak lebih manis. Sapaan ramah mereka membuat hati ini terhibur, dan canda serta senda gurau membuat suasana tegang yang sering mampir saat dikejar tenggat waktu pekerjaan menjadi sirna. Semua seperti semangat untuk bekerja. Permintaan apapun biasanya akan dilayani dengan cepat tanpa penundaan. Kenapa? Karena sudah hari Jumat, dan dua hari ke depan adalah hari libur.

Ada dua hal yang menarik di sini.

Pertama, keceriaan memberikan energi positif pada seseorang untuk berkarya. Seorang kawan pernah berkata, "Kalau ingin kebahagiaan untuk tiga bulan kedepan, maka carilah seseorang untuk dicintai dan menikahlah. Tapi kalau ingin kebahagiaan seumur hidup, cintailah pekerjaan Anda." Mencintai pekerjaan, berarti kita melakukan pekerjaan dengan gembira, senang hati. Tak ada keluhan, tak ada rasa pesimis. Kalau kita melakukan sesuatu dengan senang, hasilnya kemungkinan besar akan lebih memuaskan daripada kalau kita melakukan hal yang sebaliknya. Persoalannya, bagaimana membuat hati senang kalau ternyata kita sedang berada di posisi yang pekerjaannya sesungguhnya tidak kita sukai, apalagi cintai? Apakah kehadiran hari Jumat bisa menghapuskan rasa bosan, atau tak bergairah menunaikan tugas kita dalam pekerjaan yang tidak kita sukai?

Kedua, janji Jumat. Janji apa? Yah, hari Jumat memang menjanjikan sesuatu, yaitu dua hari libur setelah dia berlalu. Setidaknya di kantor saya, atau di kantor-kantor lain yang menerapkan kebijakan lima hari kerja sepekan. Nah, janji inilah yang tidak ada pada hari kerja lainnya. Peroalannya, apakah janji Jumat ini bisa kita terapkan di hari kerja yang lainnya? Tentu saja, tak mungkin secara persis sama, karena memang hanya hari Jumat saja yang bisa memberikan janji hari libur keesokan harinya. Tapi, bisakah semangat Jumat ini, The Spirit of Friday ini, kita terapkan pada hari lainnya. Dengan sedikit menerapkan "manajemen seolah-olah", kita anggap saja semua hari adalah Jumat. Sehingga ketika kita masuk kerja di hari Senin, dan karena kita telah menganggap bahwa seolah-olah hari Senin itu adalah hari Jumat, maka suasana hari Senin akan lebih ceria. Tentu saja semua teman kantor harus bisa menjalankan "manajemen seolah-olah" ini. Bila hanya kita sendiri, ya percuma saja, karena kita akan tetap menemui wajah-wajah bete, tegang, capek, dan tampak suntuk dan bosan di hari Senin itu. Meskipun untuk diri kita sendiri, kita akan tetap menemui kesenangan dan keceriaan saat bekerja. Dan kita akan bisa menyelesaikan tugas kerja di hari itu dengan rasa senang dan jauh dari rasa tertekan.

Kalau hal kedua ini bisa dilaksanakan, maka kita tak hanya akan mendengar ungkapan. Thank's God it's Friday saja, melainkan juga Thank's God it's Monday, Thank's God it's Tuesday, dan seterusnya.

Buat saya sendiri, selain sehari menjelang weekend, hari Jumat berarti hari perjumpaan dengan teman-teman. Karena di hari Jumat itulah saya biasa bertemu dengan kawan-kawan yang datang ke masjid untuk sholat Jumat. Bahkan di malam harinya, kami juga biasa bertemu sekedar melepaskan rindu atau silaturahim.

7 comments:

hery said...

Weekend gini ksempatan ngeblog lebih panjang hehhehe. Itu sebuah hiburan bagiku daripada ngelamun nggak ada kerjaan :)

Kristin said...

hepi wikend Ar.... met ngumpul bareng temen² dan keluarga...
ku jg paling seneng hari Jumat soale hari trakher ojob kerja hihihi

jhonrido said...

Saya kurang setuju ni dengan pendapat " kalo ingin kebahagian 3 bln kedepan menikah lah", kayaknya terbalik lho. Jika ingin kebahagian seumur hidup, cintailah seseorang dengan tulus, karena itu yang bisa mendamaikan hati yang layu. Kalo hanya untuk 3 bulan aja, perlu dipertanyakan lho rasa cintanya. Pekerjaan malah membuat kita pusing setiap hari, tapi dengan kehadiran seseorang disamping kita, bisa sebagai pengobat jiwa yang kacau balau karena pekerjaan kali. hahaha..ini pendapat saya lho..salam kenal mbak

artja said...

@jhonrido: saya juga nggak setuju dengan 3 bulan itu. tapi saya kutip juga pernyataan teman saya itu. bukan pendapat pribadi saya sendiri lho... saya sendiri menikah sudah lebih dari tiga bulan, dan tetap bahagia sampai sekarang.hehehe.... slaam kenal juga

meiy said...

saat kita bekerja dg cinta, hari apapun terasa indah. tp kdg2 orang tak punya pilihan,harus kerja utk hidup walau tak senang, disinilah perlunya mengukur toleransi diri, kalo kerja skrg selalu bikin stress saatnya utk cari lain walau (ga gampang)yg bikin happy

dulu aku kerja di profit tiap hari males ke ktr, skrg hari apapun aku senang aja ke ktr, n senang juga kalo libur ;d

:: N :: said...

Senangnya.... tapi ditempatku kerja mpe sabtu.hikz. Pulanya tapi lebih awal sih... jam 2 dah pulang ngantor..

joni said...

yup emang enak kalo udah hari jum'at, aku juga ngerasain, ditempat kerjaku juga 5 hari kerja. Jadi semangat bisa kumpul bebas ama keluarga.