Monday, December 03, 2007

Membayar Hutang

Pagi tadi seorang teman menelpon. Ah, rupanya teman semasa SMA. Seperti layaknya percakapan diantara teman lama, kami saling menanyakan kabar masing-masing. Rupanya dia tinggal di benua Amerika. Bekerja di sana, di salah satu perusahaan Nasional milik slah satu negara maju. Dengan gaji yang besar tentu saja.

Percakapan kemudian bergeser soal kapan dia akan pulang. Betapa terkejutnya saya, ketika dia mengatakan bahwa dia tidak tahu, sebab dia sudah memiliki kewarganegaraan di sana.

Saya tidak menanyakan motif ia pindah kewarganegaraan. Mungkin ia lebih kerasan di sana. dia lebih jauh. Saya hanya heran, bahwa ternyata ia sudah tak mau lagi menjadi warga negara Indonesia. Padahal, ia belajar di Indonesia dari SD hinnga SMA, lalu melanjutkan hingga perguruan tinggi di luar negri dengan mendapatkan bea siswa. Ia sempat bekerja di Indonesia, dan menurutnya, sudah cukup ia bekerja di sebuah BUMN Indonesia untuk memenuhi kewajiban Ikatan Dinas.

Saya amat menyayangkan keputusannya. Sebab, walaupun masa Ikatan Dinas sudah selesai, ia sama sekali tak akan bisa mengembalikan semua yang sudah diberikan Ibu Pertiwi kepadanya. Apa ia bisa mengembalikan semua ilmu dan pengetahuan yang ia dapat ketika bersekolah dari SD hingga SMA? Ilmu itu tak akan hilang. Ia juga tak akan bisa mengembalikan semua pengetahuan dan pengalaman yang ia dapat saat berada di Indonesia. Belum lagi kalau membicarakan soal dukungan hidup dari Tanah dan Air Ibu Pertiwi.

Maka, sangat tidak pantas kalau ia tak mau lagi menjadi warga negara Indonesia seraya berucap semua yang ia dapatkan dari tanah air sudah dikembalikan. Ia masih punya hutang yang tak akan pernah sanggup untuk dilunasi.

13 comments:

mel@ said...

kalo aku si... masih lebih enak hujan batu di negeri sendiri... daripada hujan uang di neger orang...

..eVy.. said...

Nasioalism sdh jauh berkurang jaman sekarang!

GHATEL said...

memang jaman sekarang demi mengenyangkan perut orang rela mencari uang sampai keluar negeri dengan harapan bayarannya lebih besar...

ichal said...

wah,, kenapa harus berucap spt itu temannya pak!!

"semua yang ia dapatkan dari tanah air sudah dikembalikan".

memang dia berhak untuk tidak menjadi patriot tapi kayaknya gak bijak kl harus ngomong gitu!!

Putirenobaiak said...

emang kita tak butuh orang yg tak mencintai negerinya kali tja! biarin aja pergi...

adekjaya said...

betul..hutang yang takkan terbayar sampe kapanpun..hutang ke tanah kelahiran..hutang ketempat dimana ia berasal..sejelek-jeleknya republik ini, ia adalah tanah air yang wajib kita cintai, tanah air yang telah memberikan berjuta arti dalam perjalanan hidup kita..

geLLy said...

inilah hidup,terkadang dgn apa yg kita lihat membuat kita lupa,bagaimana tidak apabila kita mendapatkan hal yg lbh baik tentunya kita enggan untuk kembali ke hal2 yg membuat dia kurang mesara baik,......

tp alangkah lbh baiknya,bila kita sadar apa yg membuat kita lbh baik saat ini,moga aja org2 yg mencintai indonesia sebagai tanah kelahiran jauh lbh banyk...termasuk aku,di mana pertama kali aku injakkan kakiku N pertama kali kakiku mulai belajar berdiri..

Indonesia..Indonesia aku ttp cinta indonesia!!

Fatah said...

saya juga pernah beberapa kali denger cerita kayak gini.. banyak orang-orang pinter kita yang sudah doctor2x & sukses di negeri orang, tapi dia lupa sama negerinya sendiri :(

amethys said...

banyak orang yg seperti "teman" mu itu artja....hehehehe, bahkan banyak yg merasa malu mengakui sebagai orang Indonesia (katanya oh malu gw ngaku sebagai orang Indonesia yg negrinya brantakan), lagian (kata mereka) paspor Indonesia reseh kemana mana harus minta visa.
tapi....semoga mereka tetep "Indonesia" yah...walau hanya dalam hati
pasporku saja udah numpuk gandeng2 3 biji...th depan numpuk 4 biji kalee...(semoga yg dua biji dibuang ah..) jadi ga tebel2 amat

isack farady said...

wah..wah... kalo saya sih gak mau berlebihan "mencintai" negeri ini. kalo emang rumput dinegeri orang lebih hijau dan airnya lebih seger kenapa harus ada alasan untuk tetep bertahan disini hehehe...

isack farady said...

kak, coba cek blog gw ini hehehe...

Adek Aidi said...
This comment has been removed by the author.
Adek Aidi said...

aya SETUBUH...soalnya kyknya saya termasuk nasionalis yang sarkartis dan harga diri lumayan tinggi...hehehe...jadi mesti punya sesuatu untuk diperjuangkan pula harga dirinya...salah satu nya kebanggaan punya tanah air n (maap) rada rasis dengan ras tertentu yang "sok2an" di negri orang...

anyway,rugi banget,punya tanah air ga bisa dibanggain..sejelek2 indonesia sekarang, sebrengsek2nya moral pejabatnya..harusnya jadi doping untuk berbuat lebih baik...

jadi inget dulu tuh, waktu berenang waktu kecil sempet tenggelam gara2 gangguin anak bule di tepi kolam yang "melenggak - lenggok" dengan (kata bapak) "pakaian yang bikin tsunami" .. jiakakaka..

viva la vista INDONESIA !!