Wednesday, December 03, 2008

Pemilu dan Kesibukan Kita

Tahun depan adalah Pemilu untuk memilih parlemen dan pemimpin nasional. Sejak beberapa bulan lalu, gairahnya sudah tampak. Di jalan-jalan, bendera-bendera partai sudah dipancangkan di tiang-tiang atau di pepohonan. Juga gambar-gambar caleg, terutama caleg tingkat daerah kabupaten/kota. Wajah-wajah asing bagi saya, terpampang dalam baliho yang terkadang ukurannya tidak masuk akal. Ini, memang bisa menjadi indikasi hidupnya demokrasi. Tapi, dari sisi lain, kita bisa melihatnya sebagai pemborosan, sekaligus upaya pembodohan yang berkelanjutan.

Pemborosan, itu sudah jelas. Berapa rupiah harus dikeluarkan untuk bendera-bendera, poster, stiker, ataupun baliho kayak layar tancep gitu? Apa tidak ada sasaran lain dalam daftar prioritas untuk menghabiskan uang? Bagi saya, pengeluaran uang untuk hal semacam itu merupakan pemborosan, sebab hsilnya sama sekali tidak ada jaminan. Belum ada penelitian yang menyimpulkan populer dan dipilihnya partai atau tokoh partai karena iklan yang disebarkan. Jadi, segala pengumuman yang menggunakan uang banyak itu sama sekali belum terbukti efektif.

Pembodohan, sebab memang iklan lewat bendera, poster, ataupun bentuk-bentuk sejenis, akan membuat seseorang atau beberapa orang yang tertarik untuk terbawa iklan tersebut, menjadi orang-orang yang tidak rasional. Bagaimana mungkin seseorang memilih seorang tokoh hanya karena alasan iklan? Memang akan ada yang melakukan hal tersebut, dan jumlahnya belum pernah dihitung siapapun. Tapi, itu kan tidak rasional? Orang yang terjebak iklan tersebut sudah terjebak dalam pembodohan. Apa iya partai atau tokoh partai yang dipilihnya itu benar-benar dikenalnya? Paling-paling hanya karena "biasa ngeliat wajahnya di poster," atau "benderanya udah akrab, udah sering liat." Lha... ini kan pembodohan. Dan ini sudah berlangsung lama, serta tampaknya akan terus berlangsung lama. Jadi program berkelanjutan.

Kalau memang ingin memilih, ya harusnya dipilih dengan pertimbangan masak-masak, bukan karena sogokan iklan, dong.

Tapi, sebagian besar dari kita tampaknya memang tak peduli dengan berbagai atribut tadi. Hidup tetap berjalan sebagaimana biasa. Nggak ada yang peduli kecuali pengurus partai atau tim sukses caleg daerah yang dapet jatah kerja untuk sosialisasi, kan?

Saya hanya kecewa, sebab kebanyakan bendera, atau stiker, atau poster, atau baliho tadi, jadi mengesankan pemandangan yang berantakan. Masa di tengah-tengah hijau dan rimbunnya daun, ada bendera warna-warni? Tembok mana di pinggir jalan yang tidak ditempeli poster atau stiker gambar caleg daerah? Dengan kata lain: Merusak Pemandangan. Itu ajah.

2 comments:

nurwiyanto said...

Iya nih, masih enak jaman 3 partai, gak perlu iklan udah menang, so gak perlu boros2 segala Oom (hehehe, kabuuuuur)

yoyo said...

bagus juga nih,bwt nambah pengetauan,,,,