Saturday, July 21, 2007

kepergian kita mungkin tak tercatat, Sahabat

: n

sebagian orang bilang, kau berangkat
ke negeri kabut.
tapi aku tak percaya.
paling-paling kau sedang berkelana
diantara kerlip bintang yang berkaca di muka telaga.
kerap memang, kabut turun tiba-tiba
dan langit pucat menutupi riak mukanya.
tapi tentu saja kau tak pergi ke sana,
ke tempat kabut dan asap merajut sekat warna.

maka kubisikkan lagi baris namamu
dengan rintihan ranting terinjak
dan desir lembut di sela daun-daun
berserak. Lihat, garis jejakmu masih terlacak
pada langkah ringan dan sayup suara riang
kanak-kanak.
Betapa tahun-tahun kebersamaan kita
bagai terlipat di lembar terakhir sehelai surat:

"kemasi bekalmu sendiri
karena kelak kau akan pergi,
juga sendiri."

Ah, sudah rapikah penginapan kekalmu itu,
dengan pelangi jadi pelengkap di tiap warna sudut tirainya?
Biar kugenapkan catatan ini sebelum kita bertemu.
Tapi lain kali
kalau kau pergi,
pamitlah dulu pada kawanmu ini.

2 comments:

angin-berbisik said...

aduh aduh mas artja....bagus bangetttttt, huhuhuhu...saya jadi teringat ama temen blogger saya yg suka berkelana kemana2....

CempLuk said...

ntar cempluk pamit mas klo mau berkelana..(hus..cempluk ini GR, yg disebutin di puisi nya mas artja ini bukan km , pluk..hehehe)