Wednesday, July 04, 2007

Unfinished Work

Beberapa tahun yang lalu, seorang kawan berkesempatan mengikuti acara penanaman bibit mangrove di pantai utara jakarta. Daerah penanaman merupakan wilayah pantai yang sedang direhabilitasi karena rusak akibat abrasi. Acara tersebut diikuti berbagai kalangan, mulai pejabat setingkat menteri, gubernur hingga aparat pemerintahan di tingkat bawahnya, wartawan, serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Semua terlibat aktif menanam bibit mangrove. Sekian ribu bibit ditebar dan diharapkan kelak akan menjadi hutan mangrove yang mampu mengatasi abrasi pantai.

Setelah lewat sekian tahun, kawan tadi mengajak saya untuk "meninjau" kawasan tempat ia menanam dulu. Saya membayangkan bahwa pastilah hutan mangrove sudah ijo royo-royo di sana. Tapi betapa tekejutnya teman saya itu, sebab daerah itu ternyata tak berbeda jauh kondisinya seperti saat dia ke sana kali pertama. Memang ada satu dua mangrove yang tegak, tapi jumlahnya sangat sedikit. Kalau ini memang hutan mangrove, pastilah hutan yang rusak. Lho, mana hutan mangrove yang dulu diharapkan tumbuh dari bibit-bibit yang ditanam para pejabat dulu? Apa yang salah? Setelah tanya sana-sini, ternyata acara penanaman tadi tidak ditindaklanjuti dengan perawatan yang intensif. Setelah tanam, tinggalkan. Begitulah yang terjadi. Maka sia-sia saja seremoni yang menghabiskan biaya tak sedikit itu. Tidak ada keseriusan untuk "mengawal" bibit-bibit hingga hutanmangrove yang diimpikan masih bersemayam di alam mimpi. Hilang disapu gelombang pasang sebelum sempat tumbuh.

Memang upaya dari berbagai pihk untuk mengembalikan fungsi hutan mangrove sudah sering digalakkan, tapi jika hanya sebatas menanam bibit tanpa ada perawatan intensif, maka upaya tadi tak akan memberi hasil maksimal. Harapan bagi tumbuh kembangnya mangrove menjadi omong kosong saja. Berbagai pihak akan bersedia jika diajak ikut menanam bibit bagi terciptanya hutan mangrove, tapi sedikit sekali yang bersedia diajak merawatnya.

Menanam bibit untuk hutan mangrove memang upaya yang baik dan patut dihargai, tapi jauh lebih baik jika disertai dengan upaya nyata untuk merawatnya, hingga benar-benar niat tadi bisa terlaksana secara tuntas.

Barangkali kita memang terbiasa memulai suatu pekerjaan, tapi lupa untuk menyelesaikannya.

8 comments:

CempLuk said...

iya terkadang kita mampu menanam tapi lupa merawat..perlu ada keseimbangan :)

Putirenobaiak said...

ini seperti ritual di negeri ini, apa2nya hanya utk seremoni, juga lomba kota terbersih..saat mau dinilai baru diberesin, lalu dilupakan

yang paling baik mungkin menggugah keasadaran personal utk mulai berbuat bagi lingkungannya walau sedikit (lama2 jadi bukit kata peribahasa jadul :D)

hanum said...

"...lestarikan alam hanya celoteh biasa...lestarikan alam kenapa tidak dari dulu...ooo..jelas kami kecewa..."
sepenggal lagu iwan fals tentang alam...
terlalu sulit..terlalu sulit...

Vie said...

Memerlukan biaya besar untuk merawatnya. B'kali udah ada budget untuk itu, tapi salah masuk kantong.

Jadi ingat waktu kecil, naik sampan kayuh mempelajari hutan mangrove disa'at kegiatan pramuka. Masih lebat hutan2 tersebut dulu, ntahlah gimana sekarang.

artja said...

@cempluk
setuju mas... perlu ada keseimbangan

@Putirenobaiak
memang harus lewat pendekatan personal, tapi itu buat kita yang ga punya kekuasaan. harusnya, mereka yang punya kekuasaan bisa berbuat lebih ya...

@hanum
hmm... penggemar bang iwan juga toh?
memang sulit, tapi kita sama sekali nggak boleh nyerah. lakukan aja apa yang bisa kita lakukan buat perbaikan, sebatas kemampuan kita.

@vie
wah... naik sampan kayuh di hutan mangrove? kemewahan tuh..
kita memang khawatir, jangan2 uangnyanya tidak digunakan sesuai budget. mudah2an nggak deh. kita wajib mengingatkan kalau memang begitu

Dew said...

Kasus yang sama terjadi di Pantura Jateng sekitar akhir tahun 90-an, Artja.
Sedih sekali tiap lewat sana, hutan mangrove yang kami impikan hanya tinggal impian... :(

Menyadarkan masyarakat untuk mandiri mengurus hal-hal macam itu
--yang hasilnya tidak langsung terasa-- memang agak susah...
Mungkin karena orang kita suka yang serba instan
(makanya mie instan laris banget, kan? :p)

Banyak masyarakat sekitar pantai yang lupa
bahwa hutan mangrove nantinya demi kepentingan mereka sendiri;
baik mengurangi abrasi maupun meningkatkan populasi hewan pantai
(yang belakangan pasti enak dipanggang :p)

BTW Kab. Cilacap bisa jadi contoh pemilik hutan mangrove yang bagus.
Pernah ke sana?
Kereeen! :)
Sayang konon banyak jentik malaria-nya...

Fatah said...

Di Aceh juga lagi banyak penanaman Hutan Mangrove tuh ! tapi lebih utk menghambat Tsunami *kalo terjadi lagi* BTW.. bang Artja aku punya foto penanaman hutan mangrove loh ! mau ?

artja said...

@dew
cilacap sebelah mana neh? belum pernah tuh. Kapan-kapan jadi guide mau?

sekarang di kepulauan seribu kondisinya menyedihkan....

tapi temen-temen di jepara punya inisiatif sangat bagus (kata temenku). pernah ke sana?

@fatah
eh, mau dunk fotonya.