Wednesday, August 01, 2007

Pendekar Kali Pesanggrahan

Sejarah Jakarta mengenal berbagai sosok pendekar sebagai pejuang penegak keadilan yang berupaya membebaskan tanah air dari cengkeraman kuku penjajahan. Sifat satria mereka merupakan inspirasi bagi masyarakat kala itu. Kini, meski bangsa kita tak lagi dijajah Bangsa asing, ternyata masih ada sosok pendekar yang patut dijadikan teladan. Tentu tindakannya tidak lagi sama seperti di jaman dulu. Namun garis perjuangannya yang menegakkan keadilan dan mengupayakan kesejahteraan rakyat masih sama. Salah satunya adalah Bang Idin, pendekar dari Kali Pesanggrahan.

Berawal dari Kenangan Masa Silam

Semuanya berawal dari kenangan masa kecil H. Chaerudin. Tokoh yang dalam kesehariannya selalu mengenakan pakaian khas betawi, lengkap dengan peci dan goloknya ini, ingat betapa mudahnya dulu memancing ikan di Kali Pesanggrahan. Kicauan burung begitu merdu menghiasi suasana di pinggir kali. Aneka satwa lain juga dapat dengan mudah ditemui. Tapi kondisi di akhir 1980-an sangatlah jauh berbeda. Sampah bertebaran sepanjang bantaran yang tandus atau di kali yang airnya kehitaman.

Kenangan itulah yang mendorongnya pergi bertualang, menyusuri kali dengan batang-batang pisang sebagai rakitnya. Di tahun 1989 ia mencoba mencari tahu apa saja yang masih tersisa di sepanjang aliran kai. Pohon apa saja yang tak lagi tegak, satwa apa saja yang lenyap, ikan-ikan apa saja yang minggat, dan mata air mana saja yang alirannya seolah tersumbat. Hasilnya adalah sebuah keprihatinan yang membuat darah kependekarannya menggelegak serta lahirnya sebuah tekad yang sederhana namun sekeras goloknya: mengembalikan Kali Pesanggrahan menjadi seperti dulu lagi.

Tekadnya memang sederhana, namun menyimpan hal-hal besar dan tak mudah untuk dilakukan. Untuk mengembalikan "kesehatan" sungai, lelaki yang beristrikan Partinah ini harus menghidupkan lagi mata air yang ada. Itu berarti pohon-pohon harus tumbuh di sepajang bantarannya. Padahal, untuk menanam pohon, ia harus membersihkan bantaran, baik dari sampah maupun bangunan. Maka dimulailah usahanya dengan membersihkan sampah.

Langkah ini ternyata tidak mudah. Berkali-kali ia bersitegang dengan orang-orang yang sering membuang sampah sembarangan. Terutama pemilik rumah yang membangun tembok tinggi di bantaran. Tapi darah kependekaran memang mengalir deras dalam nadinya. Ia tak lantas menggunakan kekerasan untuk menyadarkan "orang Gedongan" yang bertabiat kampungan itu. Mereka tetap dihimbau dengan cara persuasif. Tentu saja orang-orang itu tak sudi dinasihati. Mereka beranggapan bahwa mereka telah membeli tanah hingga ke tepi sungai. "Apa hak Anda melarang saya membuang sampah di wilayah saya sendiri. Mana dasar hukumnya, SK-nya?" begitu tantang mereka.

Sedangkan lelaki kelahiran 13 April 1956 ini beranggapan bahwa tak seorangpun boleh memiliki bantaran. "Itu milik kita semua," ujarnya. Dan, "Di pinggir kali nggak ada bahasa hukum. SK saya dari langit," sambungnya lagi dengan keyakinan tinggi.

Ketika mereka tetap membandel, Bang Idin tidak juga menggebrak dengan golok terhunus, tapi malah mengumpulkan sampah-sampah ke dalam kantong plastik lalu digantungkan di pagar depan rumah orang-orang itu. "Supaya mereka paham bagaimana rasanya kalau di depan hidung mereka ada sampah. Mereka begitu kan karena belum paham." Tak jarang Bang Idin harus berurusan denganaparat kelurahan, kecamatan, BPN, bahkan polisi.

Bang Idin lalu mengajak tetangganya untuk turut serta. Diyakinkannya bahwa secara turun temurun, Pesanggrahan adalah tanah pendekar, sehingga mereka pun keturunan pendekar. Jadi, "Jangan sampai wilayah pendekar diacak-acak orang." 17 orang petani kemudian membentuk kelompok Bambu Kuning dan ikut serta dalam barisan Bang Idin untuk berjuang.

Lambat laun, kesadaran juragan-juragan tanah yang membangun pagar beton tinggi hingga ke bantaran kali mulai tumbuh. Mereka menyadari juga perlunya penghijauan di bantaran. Maka sejak tahun 1998, secara bertahap mereka merelakan pagar-pagar mereka dibongkar.

Kesulitan berikutnya muncul, sebab mereka tak tahu harus menanam apa. Bibit belum tersedia. Akhirnya disepakati, dalam setiap pertemuan yang diadakan dua kali setiap bulannya, setiap anggota diwajibkan membawa bibit pohon dan mereka menanamnya bersama-sama. Terserah bibit apa saja.

Saat ini, kelompok tani itu telah menjelma menjadi Kelompok Tani Lingkungan Hidup Sangga Buana (KTLH Sangga Buana). Wilayah kerjanya bertambah luas. Ribuan pohon telah berhasil ditanam. Pengadaan bibit bukan lagi hal yang sulit. Banyak instansi maupun perseorangan yang membantu pengadaan bibit ini.

Merekapun tidak sembarangan menanam. Aspek geografis juga menjadi pertimbangan. Tidak semua pohon bisa ditanam di pinggir kali atau di tanah yang miring. Mereka mengandalkan ilmu yang didapatkan secara turun temurun. Maka pepohonan yang tinggi, seperti kayu secang, salam, tanjung, kedondong laut, nangka, senggugu, belimbing wuluh, mandalika, ditanam dekat dengan bibir kali. Pohon-pohon jenis tersebut memiliki akar yang sanggup mencegah erosi, selain ketinggiannya akan menjadi koridor bagi jalur lalu lintas burung-burung. Di sela-sela pepohonan tersebut ditanami tanaman obat perdu, seperti empon-emponan, brotowali, nilam, jeroak, sambiloto, dan lainnya. Agak jauh dari bibir sungai, barulah ditanami pisang atau bambu serta tanaman sayur-sayuran.

Kini hasilnya sungguh luar biasa. Area seluas 40 hektar, membentang sepanjang tepian Kali Pesanggrahan, menjadi ijo royo-royo. Burung-burung berkicau setiap hari. Bahkan burung cakakak yang bersarang di tanah dan sudah jarang ditemui di wilayah lain di jakarta, kini juga bisa ditemukan. Pohon-pohon yang mulai langka di Jakarta semacam buni, jamblang, kirai, salam, tanjung, kecapi, kepel, rengas, mandalka, drowakan, gandaria, bisbul, dapat dijumpai di sini. Belum lagi tanaman obat yang jumlahnya mencapai 142 jenis.

Disamping menghijaukan bantaran, Bang Idin dan kelompoknya juga berhasil menghidupkan kembali tujuh mata air yang dulunya mati. Air sungai tak lagi kehitaman, sehingga cukup sehat bagi berkembangbiaknya ikan-ikan. Secara berkala, KTLH Sangga Buana melepaskan bibit-bibit ikan yang dibudidayakan di tambak-tambak ke dalam kali Pesanggrahan.

Bahkan, upaya yang dilakukan telah berhasil mengangkat kesejahteraan petani-petani di sekitar kali pesanggrahan. Mereka bisa memasarkan hasil kebun sayuran maupun pohon-pohon produktif lainnya semacam melinjo yang diperkirakan berjumlah 8000 batang pohon, maupun pisang dan buah-buahan lainnya.

Kini, bantaran kali Pesanggrahan ramai oleh pengunjung dari seluruh Jakarta, menjadi hutan wisata gratis yang boleh dikunjungi siapa saja. Uniknya, setiap pengunjung akan diajak menanam pohon atau menebar benih ikan di kali. Mereka juga tidak dilarang memancing atau mengambil hasil hutan seperti memetik melinjo dan memotong rebung. Gratis, asalkan Anda tidak merusaknya. Tapi jangan coba-coba mencari ikan dengan racun atau cara-cara "keji" lainnya, karena Bang Idin dan koleganya akan segera menegur Anda. Tentu saja Anda juga bisa membeli sayuran dari para petani di sana. Maka tak heran jika pengunjung makin ramai. Berbagai kelompok dari sekolah maupun perguruan tinggi juga menyumbangkan ilmu dan tenaga mereka di sini. Beberapa rombongan expatriate dari Jerman, Inggris, Perancis, Australia, Belanda hingga Jepang pun ikut mencoba merasakan keasrian daerah ini. Untuk mendampingi para wisatawan mancanegara tersebut Sangga Buana mendapatkan bantauan tenaga sebagai pemandu wisata dari Universitas Trisakati yang sebelumnya diberikan pengetahuan tentang alam dan sejarah disana. Tercatat sekitar 4000 orang datang berkunjung tiap tahunnya

Berbagai penghargaan telah diperoleh Bang Idin dan kelompoknya. Tapi, "Yaaah itu mah buat apa. Banyak. Ada Kalpataru, atau apa lah, saya ndak urus. Tahun 2002 kalau ndak salah pernah dapat penghargaan penyelamatan air sedunia. Dan banyaklah piagam-piagam, dari Abu Dhabi, pemerintah Jerman, Belanda. Tapi saya tidak mengharap apa-apa. Apa sih artinya semua penghargaan itu kalau suatu perjuangan tidak bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Tapi paling penting apabila karya saya ini tidak nyusahin orang. Saya sangat sedih. Orang yang bisa paham dengan lingkungan itu memberi penghargaan paling tinggi buat saya. Padahal itu hanya bagian dasar dan pemikiran saya, bahwa kami mengerjakan itu semua. Satu: menyelamatkan alam." Begitu ujar Bang Idin saat ditanya berapa banyak penghargaan yang telah diperolehnya.

Saat ini, Bang Idin sedang menularkan ilmunya di bantaran kali Ciliwung. Dukungan dari masyarakat sekitar, terutama dari pemuda-pemuda sudah didapatkan. Diharapkan pola yang sama bisa digunakan untuk "memerdekakan" bantaran-bantaran sungai yang lain di ibukota dari "penjajahan" sampah maupun kerusakan lingkungan akibat kebodohan manusia-manusia serakah.

Sungguh, bagi kita sosok Bang Idin merupakan seorang pendekar. Ayah dari dua anak, Widuri Indrawati (dosen Ekowisata Kelautan IPB) dan Ario Saloko (murid SMU Darul Maarif) ini benar-benar sosok yang bisa dijadikan teladan. Kepeloporannya dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup sanggup membuat siapa saja merasa kecil saat berhadapan dengannya. Meski hanya mengenyam pendidikan hingga kelas dua SMP, namun aktifitasnya akan sanggup membuat malu orang-orang berpendidikan tinggi, bahkan aktifis anggota perhimpunan mahasiswa pecinta alam sekalipun.

dirangkum dari berbagai sumber

8 comments:

angin-berbisik said...

salut buat 'perjuangan' bang Idin...

Nico Wijaya said...

Artikel yg menggugah nih mas. Smg kita pd sadar lingkungan.
Lam kenal jg :)

ade said...

Hebat bang Udin....semoga tetap lahir udin2 yang lainnya. Sebelumnya saya sempat terhenyu membaca bahwa pemerintah dan kepolisian yg bertindak memusuhi perjuangan bang Udin.. . tetap berjuang terus bang!!
bang Udin memiliki gelar Sarjana Kehidupan...wasalam.

Fachry said...

hebat perjuangan nye bang.. ngomong2 ane mau ikutan jadi volunter bisa kgk yak?

Anonymous said...

sy ingin dech berkunjung ke kali pesanggrahan itu. alamat lengkapnya di mana ya? klo dari lebak bulus terus k mana?

Anonymous said...

[url=http://firgonbares.net/][img]http://firgonbares.net/img-add/euro2.jpg[/img][/url]
[b]microsoft software upgrade, [url=http://firgonbares.net/]download of photoshop cs3 trial for mac[/url]
[url=http://firgonbares.net/][/url] macromedia shockwave software academic testing software
discounts on software for [url=http://firgonbares.net/]college academic software[/url] cheap adobe software
[url=http://firgonbares.net/]microsoft office 2007 enterprise publr.cab fehler[/url] discounts for software
[url=http://firgonbares.net/]to sell a software product[/url] buy used adobe software
ordered software [url=http://firgonbares.net/]delivery order software[/b]

Anonymous said...

minta alamat lengkap bang udin kalau bisa minta contact person bang udin .. saya perlu sekali biodata lengkap tentang beliau.. terima kasih.

Anonymous said...

ﻣﺎﺷﺂﺀﺍﻟﻠﻪ

,Smoga bisa mengikuti jejak beliau آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين